Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Jalan Hijrah

Kalau bukan karena hidayah dari Allah, mungkin pagi ini aku tidak berada diantara puluhan muslimin dan muslimah ini. Di ruangan seminar kecil yang menampung kurang dari seratus orang, aku memilih duduk di tengah agar bisa lebih leluasa mengamati sekitar. Meskipun aku sejak kecil sudah beragama Islam tetapi aku jamin pengetahuanku tentang Islam tentu tidak sebanding dengan umurku saat ini. Seperti itulah awalnya, aku bertekad mengikuti kelas intensif mengaji di kota tinggalku. "Islam itu kebenaran. Agama yang membawa kebenaran," seorang Ustadz memulai narasi di depan ruangan. "Jika Islam tidak membawa sesuatu, kenapa bangsa Qurais yang merupakan bangsa hebat dan besar, menjadi kalang kabut dibuatnya. Jika Islam tidak membawa sesuatu, mengapa bangsa yang begitu besar justru gusar meredam pergerakannya. Bahkan merasa amat terancam hingga segala cara dari yang masuk akal hingga tak masuk akal dilakukan," lanjutnya. Semua mata tak berkedip. Aku pun ikut takjub di

Kamu Adalah Keinginan-Keinginan yang Salah

Rentetan sesak ini bernama kamu. Kamu, yang aku tulis dalam rangkaian angka, lalu aku kejar sekuat tenaga. Kamu, yang aku bawa dalam setiap doa, lalu aku jadikan sasaran dalam melangkah. Kamu, yang aku titipkan pinta pada setiap kawan, lalu aku amiin kan setegar baja. Lantas aku sadar. Aku lupa mengartikan wujudmu yang sebenarnya. Aku salah menafsirkan rentetan sesak ini sebagai kamu. Aku terlalu buru-buru menyimpulkan bahwa kamu adalah keinginan-keinginanku yang belum terwujud. Maka, ijinkan aku mengembalikan rentetan sesak ini pada posisi yang tepat. Karena kamu yang adalah daftar keinginanku itu salah. Aku mengejar sekuat tenaga keinginan-keinginan hanya untuk dunia itu salah. Aku yang membawa keinginan-keinginan dalam setiap doa agar dikabulkan-Nya itu salah. Aku yang menitipkan pinta agar keinginan-keinginan terwujud itu salah. Bukankah Allah sudah menakdirkan apa yang kita butuhkan hingga tak ada kata kekurangan dalam hidup? Bukankah Allah sudah menjamin re

Meletakan Kembali

"Tuhan, bagaimana membuat anakku mengerti betapa berat beban yang harus aku tanggung. Aku tidak ingin mereka tahu dan ikut memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya mereka pikirkan," ratapku di tengah malam. Aku hanya ingin mengadu pada-Nya. Supaya harap dalam jiwa ini tak salah dihempaskan. Karena rasa kecewa itu sering kali akibat ulahku sendiri yang selalu ingin lebih. "Ma...." Aku hapus segera air mata yang mengalir. Suamiku butuh dukungan penuh untuk menghadapi semua ini. Tentu air mataku akan melemahkannya. "Iya Pa? Kok Papa bangun? Ada apa?" Untunglah tidak ada mata ke-4 yang dikenakannya. Aku bisa bebas melahap setiap garis di wajahnya. Lalu diam-diam membiarkan hatiku jatuh cinta lagi. "Makasih ya Ma untuk semuanya. Mama selalu kuat buat Papa. Papa tahu Mama itu rapuh makanya dulu Papa pilih Mama biar Papa bisa jadi laki-laki sejati. Hehe...." Bagaimana aku ini? Menangis sambil ikut tertawa mendengar ocehannya. Air mataku le

Rutin Menghisab

Sebaik-baik makhluk adalah yang sering menghisab perbuatannya sendiri. Sudah sebulan aku putuskan pergi dari segala kenyamanan. Kenyamanan yang ternyata menyesakan dada. Lalu, apakah kini keputusan yang aku pilih tidak menyesakan dada? Jawabannya masih, hanya saja dalam bentuk berbeda. Kali ini sesak di dadaku merupakan suatu kenikmatan. Nikmatnya setiap detik bisa merasakan keindahan. Sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Tidak ada, Tuhan. Tidak ada. Aku lemah dan kuat dalam waktu yang sama. Aku hebat dan payah dalam detik yang sama. Aku renta dan muda dalam nikmat yang sama. Dan, segalanya sungguh tak ingin aku tukar dengan apapun. Sebesar harap semua pengharapan. Aku pun ikut melesat bersama hamparan putih awan-awan. Melambung dan melayang setingkat pelangi warna-warni. Aku kagum menikmati. Ada banyak hal tidak terduga datang tetapi keinginanku teramat abai. Aku harus segera mengerti untuk tidak keras pada keinginan lalu lupa berkecukupan. Biarkan tangan-

Permintaan

Terima kasih pada setiap hembusan napas ini. Terima kasih untuk selalu menyelipkan kasih di sepanjang perjalanan ini. Terima kasih atas cinta dan peluk sayang hingga aku tak perlu mencari pada yang lain. Engkau telah membuat hidupku sempurna. Lalu dengan tubuh paripurna ini aku tahu betapa dalam hakikat cinta dan kepercayaan-Mu padaku. Setiap tabiat dan watak yang tersemat, aku tahu Engkau tak pernah lupa menyentuhnya dengan hangat. Aku tak pernah hilang karena selalu ditemukan. Harus dengan cara apalagi aku membalas jika bukan dikoridor cinta dan taat. Dalam beribadah, aku menunjukannya meski jauh dari sempurna. Dalam berbagi, aku mengabdikannya meski tahu tak pernah seberapa. Dalam senyum, aku mensyukurinya meski tak pernah penuh pada bentuknya. Ketika kini aku makin sadar agar tak pernah lepas meminta. Sejurus itu diperlihatkan mereka yang selalu ada. Segaris terang itu aku mendapat keyakinan dan dukungan. Lantas apalagi harap dan pinta? Sementara setiap detik Engkau membuat

Temani Aku Di Hujan Kali Ini

Kota ini sendu. Rupanya sudah memasuki musim penghujan. Itu tandanya sebentar lagi sungai ini akan dipenuhi pemancing dari berbagai pelosok negeri. Aku suka saat itu terjadi. Akan banyak orang-orang hebat datang, membawa peralatan memancing yang belum pernah aku lihat. Dan, diantara banyak kesenangan itu toko ibuku akan laris manis. Ketika hujan banyak wilayah lain yang teriak menderita. Dimulai dari banjir, longsor atau wabah penyakit yang mengikutinya. Namun, tidak bagi kotaku. Meskipun kotaku sendu selalu jadi favorit. Tidak longsor dan banjir. Tentu saja, karena kotaku hanyalah sebuah pulau yang kebetulan menjadi perlintasan ikan-ikan saat musim berganti. "Letakan piring bersih itu di sana. Lalu bersihkan ikan-ikan itu dan keluarkan seluruh persediaan gelas yang kita punya, Yud! Kita akan kedatangan banyak orang untuk makan ikan," teriak ibuku. Aku harus bergegas sekarang. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk merebahkan tubuh di bawah pohon kelapa ini samp

Dimulai dari Believe

Cukup percayalah! Bukankah hal itu yang Allah inginkan dari kita, manusia. Percayalah pada-Nya. Begitu juga Allah mengawali hubungan antara pencipta dan yang dicipta, yaitu percaya. Ketika itu, Allah bahkan menyuruh dua makhluk yang telah diciptakan sebelumnya untuk tunduk pada manusia. Karena percayanya pada manusia. Lantas apakah kini kita harus berkhianat? Setiap manusia mestinya punya kesadaran ini dalam dirinya. Kesadaran bahwa setelah mendapat seharusnya memberi. Bukankah Allah sudah memulainya. Jauh sebelum kita menginginkan apapun, kita telah mendapatkannya. Kini bergilirlah untuk memberi dengan segenap ketulusan. Bahwa dalam percaya itu ada nilai luhur kepasrahan, ketulusan dan penyerahan tanggung jawab. Semuanya tidak bisa terjadi jika keangkuhan pada kehebatan pribadi begitu kuat mengakar pada diri. Seperti segalanya tidak pernah ada yang mengatur untuk berjalan pada porsi yang tepat dan sesuai. Believe. Kekuatan kata itu yang sedang kami jalankan. Segalanya kam

Pegawai Terbaik

Bertambah lagi satu tantangan untuk memulai bisnis offline, yaitu pegawai atau karyawan. Pegawai atau karyawan ini berguna membantu kita dalam menjaga keberlangsungan unit usaha yang kita miliki. Kebutuhan pegawai atau karyawan juga berbeda-beda. Bagi yang baru merintis usaha seperti kami. mungkin mempekerjakan satu pegawai bisa sangat merepotkan. Meskipun jika dipikir-pikir memiliki pegawai bisa lebih mengefisienkan tiap jenis satuan pekerjaan. Misalnya, usaha yang sedag kita geluti adalah bidang kuliner, maka pegawai sangat bermanfaat untuk membantu menyalurkan makanna yang sudah dibuat kepada pelaggan. Atau misal jenis pekerjaan kita adalah jasa maka pegawai berfungsi mengantar atau memperdekat jarak antara kita kepada pelaggan. Terlihat mudah, tetapi tidak semudah itu kawan. Menemukan pegawai yang tepat sama seperti menemukan partner hidup. Butuh yang sevisi dan misi atau paling tidak toleran terhadap perintah dan arahan. Karena tetu saja kita tidak ingin pegawai kita me

Mitra Oh Mitra

Partner kerja memang menentukan bagaimana sebuah usaha bekerja. Partner kerja seperti pelengkap dari sebelah alas kaki atau pada bola mata yang harusnya bisa sejalan dan beiringan. Menemukan partner keja atau mitra usaha nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kriteria dan perihal yang harus diperhatikan. Misalnya, bagaimana pola pikirnya, apakah sejalan dengan kita atau tidak. Bagaimana caranya mengelola masalah dan konflik. Bagaimana caranya mengatur waktu dan keberadaanya dalam kemitraan tersebut. Lalu semua itu tidaklah mudah. Butuh proses dan waktu bersama. Ada yang harus bertahun-tahun. Ada yang dalam waktu singkat tetapi telah terperangkap pada situasi yang tidak biasa. Dan, ada yang sudah terbiasa karena kawan lama. Bermitra ternyata juga butuh pengorbanan. Terkadang mengalah memberi modal lebih besar. Terkadang harus royal mentraktir atau pergi keluar bersama. Terkadang siap menjadi bulan-bulanannya dan tempat curhat dadakan karena selalu bersama. Semua un

Menjadikan Kamar sebagai Ruang Kerja Nyaman

Memilih menjadi karyawan untuk diri sendiri berarti memaksa diri patuh pada disiplin waktu dan target pribadi. Dikira menjadi karyawan untuk diri sendiri bisa leye-leye. Ternyata itu lebih sulit karena tidak ada yang mengingatkan dan melihat. Segera setelah memutuskan menjadi karyawan untuk diri sendiri maka daftar target dan penjadwalan waktu harus segera dibuat dan dilaksanakan. Untuk itu, ruang kerja yang nyaman sangat dibutuhkan. Mengingat kondisi yang serba minim, bisa jadi kamar menjadi ruang kerja yang nyaman. Ini penting untuk menghindari godaan kasur empuk. Karena bahaya jika terlena oleh kemalasan bisa jadi banyak waktu yang akan terbuang dan itu sangat disayangkan. Ingat menjadi karyawan untuk diri sendiri berarti tanggung jawab penuh pada pendapatan benar-benar tergantung pada efektivitas usaha. Lalu membuat kamar menjadi ruang kerja nyaman, nyatanya tidak mudah. Menghias dan memasang banyak peringatan agar menjauhkan mata dari tempat tidur adalah syarat mutlak. Kemud

Pencarian Lapak Usaha

Hal yang pertama kali terpikirkan saat ingin membuka usaha, yaitu menemukan tempat yang tepat untuk membuka usaha. Tempat yang tepat itu tentu saja harus strategis berdasarkan lokasi dan konsumen. Harus juga disesuaikan dengan kecocokan konsumen dengan barang yang akan dijual entah barang atau jasa. Maka, pencarian lapak usaha ini menjadi bagian krusial. Sebagai pijakan pertama lapak usaha bisa sangat menentukan. Banyak yang memiliki tempat tetapi tidak menarik minat konsumen untuk membeli atau ada yang memiliki tempat tetapi tidak juga ramai pendapatan. Lalu, beberapa lokasi strategis mulai kami daftar. Dari kantin perkantoran hingga lapak ramai di malam hari. Tentu masuk kriteria. Tentu bisa menjanjikan ramai konsumen. Tetapi apakah itu cukup? Ketika kita mendatangi konsumen dengan membuka lapak usaha di tempat yang masyarakatnya banyak atau ramai, ternyata kita harus menyesuaikan barang atau jasa yang akan kita jual. Misalnya ada saja aturan yang melarang menjual makanan dan m

Muda

Yang muda katanya. Masih muda itu energinya banyak. Sepakat. Masih muda itu idenya liar. Setuju. Masih muda itu idealismenya tinggi. Diantaranya. Masih muda itu gak suka pikir panjang. Boleh juga. Masih muda itu gaya nomor satu. Astaga. Masih muda itu gak berani ngambil resiko. Tidak. Katanya muda, tapi energinya disimpen di ruangan ber-AC. Katanya muda, tapi idenya kok cuma jadi gertak sambel. Katanya muda, tapi satu tambah satu kenapa selalu jadi dua. Katanya muda, tapi jatuh sekali udah gak mau ngelakuin lagi. Yang muda selalu punya cara. Yang muda pantang berhenti sebelum sukses. Yang muda sukanya cari temen bukan musuh. Yang muda bikin target bukan jalani saja. Karena yang muda hanya sekali. Karena yang muda datangnya ditunggu. Karena yang muda bagian terpenting dalam hidup. Karena yang muda paling banyak meninggalkan jejak.

Temaram

Perjalanan ini selalu menuntunku bertemu dan berpisah dengan seseorang. Perjalanan ini membuatku menyukai lalu jatuh cinta dan merasakan kenyamanan pada seseorang lalu terhempas karena kepergiannya. Perjalanan ini selalu memberikan makna dalam pada hati yang tergoreskan luka lalu tidak bisa kembali utuh karena bekasnya yang tidak pernah benar-benar menghilang. Perjalanan ini selalu tentang dua titik dan berjalan seperti titik itu membuat kita lupa. Dalam takdir perjalanan ini, aku tahu kepergian dan pertemuanku denganmu, dengan kalian adalah salah satu yang terbaik. Sejujurnya aku ingin terus bersama kalian secaara utuh. Tetapi tidak bisa, hidup tidak pernah sesuai kehendak pribadi. Tidak pernah. Perjalananku selalu tentang kamu yang mengiringiku berjalan, bukan tentang aku yang tak pernah bisa apa-apa. Karena kamu memberiku, mengisiiku dan mempengaruhiku menjalani hidupku. Tidak pernah aku sekuat itu jika tanpa dirimu. Perjalanan ini memang bukan tentangku. Sama ketika ak

Merapi

Jika cintaku bisa digambarkan mungkin seperti merapi. Diam. Kokoh. Bergejolak mengkhawatirkan. Lalu meledak memilukan. Namun, menyuburkan kemudian. Lalu cintamu tak pernah sekuat itu mendaki hingga ke puncaknya. Puncak dimana aku simpan panorama paling menyenangkan dan menyejukan mata. Itu aku simpan untuk yang benar-bener berjuang melangkahkan kakinya sampai di puncakku. Lihat bagaimana aku memberikan hal teristimewa untukmu yang tetap melangkah. Belum lagi hadiah dari Tuhan yang jauh lebih menakjubkan dari panorama yang diciptakan, yaitu sebuah perjalanan. Iya perjalanan dimana kamu letakan cerita suka, duka, lelah dan canda.

Tak Kuasa

Gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/ "Api semangat di sanubarimu, meski kecil jangan pernah padamkan dia," kataku. Kamu masih tidak peduli dan tidak juga kunjung menghadapkan wajahmu ke arahku. "Aku harus apa? Untuk menghilangkan sakit hatimu pada dunia?" kataku lagi nyaris memohon. Kamu tetap tidak bergeming. Aku tahu kepalamu memang 'batu' tetapi aku yakin hatimu tidak. Aku percaya kamu yang tidak pernah terlihat peduli tetapi memikirkannya dalam hati. Aku ingin tetap berbicara. Membuatmu sadar bahwa kamu tidak pernah sendiri. Atau setidaknya membuat amarahmu meledak agar aku paham apa isi hatimu sebenarnya. "Aku tahu kamu pernah disakiti lalu terluka. Semua orang juga seperti itu, termasuk aku. Kamu hanya tidak tahu bagaimana orang-orang itu berusaha keras mengobati luka itu. Beberapa sembuh, beberapa tidak bisa bertahan, tetapi bekas luka itu tidak pernah hilang dan setiap orang selalu punya pilihan untuk itu. Termasuk aku yang

Kelabu

Masih sering kali aku berkeinginan atau hanya ikut-ikutan. Sesekali melihat si A hebat dengan hidupnya, melakukan serangkaian kegiatan seperti hidupnya. Lalu, lelah di pertengahan jalan. Begitulah jika hanya ikutan. Tidak tahu esensi di dalamnya. Hanya penasaran dan berakhir tanpa pelajaran. Ketika aku ingin menjadi sesuatu dengan kemauanku sendiri. Berjalan dengan pemikiranku sendiri. Ketika itu aku bahagia dalam kesulitan yang nikmat. Begitulah ingin. Aku ingin dan aku tidak mengikuti siapapun. Aku ingin. Mungkin bisa terinspirasi lalu mengikuti, tetapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Bertahanlah dengan jujur pada diri sendiri. Bertahan dengan tidak mengikuti hidup orang lain yang terlihat lebih hebat dan mewah. Karena hanya akan bertahan sampai akhir.

Dinding

"Hempaskan! Agar rela hatimu melepasku!" "Aku terjatuh dan kamu yang pertama mengulurkan tangan dan menarikku bangkit. Aku terpelanting dan kamu yang membersihkan semua serpihan barangku yang tercecer. Aku terseok dan kamu yang mengangkatku sampai tujuan". "Bukan aku!" "Lalu siapa? Siapa?" "Tangan Tuhanmu!" "Hik...hik...hik.... Apa maksudmu?" "Demi Tuhanku dan Tuhanmu. Aku datang karena perintah Tuhanku yang juga Tuhanmu". "Bagaimana bisa?" "Dengan percaya. Sabar. Shalat. Ikhtiar". "Aku tidak bisa! Aku sudah mencela-Nya. Membuang jauh, ketidakmungkinan itu". "Begitulah cara Tuhan mencintai hamba-Nya".

Ketika Penaku Tak Mau Berhenti

Mata penaku masih belum ingin berhenti. Guratan setiap huruf menoreh putihnya kertas dalam buku harianku. Ada kekuatan maha dahsyat untuk terus melakukannya. Lagi. Lagi. Dan, lagi. Aku masih tidak ingin berhenti. Aku banyak menulis hari ini. Tumben sekali. Mungkin berkat suasana baru yang aku duduki. Atau kecemasan baru yang aku alami. Entahlah, tetapi aku bahagia menulis apapun itu. Aku di sini di tengah hutan kota bersama nyamuk menikmati hijaunya pemandangan. Dari sekian banyak kata yang aku tulis, hanya ada satu kata yang menarik mataku. Yakin. Sepertinya, itu menunjukan hal yang aku inginkan sekarang. Sebuah keyakinan. Sesuatu yang nyaris aku lupa meletakannya. Aku terlena pada kegigihanku. Pada usahaku yang selama ini membuahkan hasil, tetapi aku lupa sebenarnya semua itu bukanlah pencapaian diriku. Aku hanya berjalan di garis yang sudah tertakdirkan untukku. Sejauh ini. Sejauh ini. Semua tentu bimbingan dari-Nya. Keyakinan itu hilang entah tertinggal dimana. Dan, aku mem

Memerdekakan Hati

Pernah merasakan hari dimana rasanya pada hari itu takdirmu akan berganti? Atau rasanya hari itu merupakan penentuan satu bab kehidupan akan berganti? Dan, yang lebih mengerikannya kamu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari itu, apa pernah? Aku pernah. Aku bahkan merasakan kelu dan linu di sekujur badanku. Rasanya ingin menghilang. Raib. Tidak terlihat tetapi melihat apa yang terjadi. Dan, aku sedang merasakannya lagi. Dulu, aku tidak pernah cemas dan khawatir karena aku percaya semua akan baik-baik saja. Tetapi kali ini tidak lagi. Hidupku mulai liar dan tidak ada kepastian tentang perkara a dan b. Semuanya berjalan tanpa prediksi. Semuanya mengalir sesuai pilihan dan keputusan yang diambil. Sebab akibat itu bermain. Karma itu berjalan. Dalam semua rasa carut marut ini. Cahaya di hatiku hanya berharap satu hal yaitu kelapangan. Selalu tentang kelapangan. Karena kelapangan memberi ikhlas, kekuatan dan semangat baru lagi untuk menerima yang lain. Aku ingin kelapangan unt

Ketika Hilangnya Sebuah Etika

Apa itu etika? Pentingkah? Etika atau perilaku moral itu penting. Sama pentingnya dengan kamu menjaga harga dirimu dan sama pentingnya ketika kamu memperlakukan orang lain. Bagaimana kamu ingin diperlakukan akan sama seperti bagaimana kamu memperlakukan orang lain. Sadar atau tidak semuanya seperti bercermin, apa yang kamu perlihatkan akan sama dengan apa yang akan kamu lihat. Dan sayangnya, apa yang kamu lihat nyatanya lebih menarik perhatianmu dari pada apa yang kamu perlihatkan. Pikirkan ini, saat kita dikatakan tidak beretika, kita selalu punya seribu alasan untuk menolak perkataan tersebut. Tapi kita hanya punya satu alasan untuk menerima perkataan tersebut, yaitu dengan 'intropeksi diri'. Kembali luruskan niat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lagi dan lagi. Karena manusia tiada yang sempurna. Pun tiada bisa memuaskan standar etika semua orang. Salah, lupa sudah lumrahnya manusia. Dan siapapun berhak menegur dan ditegur atas semua itu. Lalu perca

Menjadi Hebat dengan Membantu Orang Lain Menjadi Hebat

Gambar
http://www.globaltv.co.id/ Aku tersentak pada kalimat yang diucapkan seseorang kepadaku. Ketika aku hanya iseng penasaran menanyakan pertanyaan konyol kenapa dia mau berlelah-lelah berkorban waktu, tenaga dan lainnya untuk keberlangsungan sebuah acara yang justru merepotkan bagiku. Lalu dengan wajah innocent  orang itu menjawab, "Aku terinspirasi pada orang hebat yang membuat orang lain lebih hebat dari dirinya". Aku tercengang, kehabisan kata. Masih adakah makhluk selugu ini di jaman yang semua orang berebut harta dan kekuasaan dan hanya segelintir orang gila yang mati-matian membela mereka yang tersisih. Dan, beruntungnya aku, salah satu dari orang gila itu ada bersamaku. Aku mengenalnya begitu dekat. Kami memang sempat terpisah cukup lama, karena tempat kuliah kami yang berbeda kota. Kemudian, kami dipertemukan kembali entah pembelajaran apa yang Allah ingin berikan kepadaku. Yang jelas aku bersyukur sekali dipertemukan lagi denganmu. Iya, kamu yang ternya

Resensi Buku Sarongge

Gambar
Judul: Sarongge Penulis: Tosca Santosa Genre: Thriller Tahun terbit: Cetakan pertama, September 2012 Penerbit: Dian Rakyat Buku Sarongge mempertautkan perjalanan hidup penulis dalam masa-masa penghijauan kembali wilayah hutan lindung Taman Nasional Gede Pangrango di sekitar Sarongge. Penulis yang merupakan seorang aktivis bawah tanah memang kerap terlibat dalam membela petani melawan pemerintah. Dan, di era reformasi begitu giat peduli pada masalah lingkungan. Penggunaan gaya bahasa yang sederhana, penulis menceritakan kisah yang begitu obyektif tentang lingkungan dan hubungannya dengan manusia. Setiap bab diberi judul nama-nama tumbuhan endemik Gunung Gede Pangrango, selain nama desa Sarongge. Setiap pembuka bab juga berisi informasi mengenai nama tumbuhan tersebut. Buku ini bukan hanya mencerdaskan dengan balutan segudang informasi tetapi juga pada keromantisan kisah cinta antara tokoh utama yaitu Karen dan Husin. Kedua tokoh merupakan aktivis lingkungan yang

Resensi Buku Kontroversi Imunisasi

Gambar
Judul: Kontroversi Imunisasi Penulis: Dr. Siti Aisyah Ismail, dkk Genre: Non-fiksi Kesehatan Tahun terbit: Cetakan kedua, Desember 2014 Penerbit: Pustaka Al-Kautsar Saat ini, di masa arus informasi begitu menggila. Akses keterbukaan informasi tanpa batas. Kita justru sering dihadapkan pada informasi yang sulit terverifikasi kebenarannya. Pun termasuk masalah imunisasi. Banyak informasi yang tidak jelas sumbernya menolak atau mendukung imunisasi tanpa dasar. Berbagai paradoks dalam masyarakat mencuat kian sengit. Terutama bagi kaum muslim, status halal dan haram imunisasi menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. PROKAMI (Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia) atau dalam bahasa inggrisnya IMANI ( Islamic Medical Association and Network of Indonesia ), terpanggil untuk mengambil tanggung jawab dalam menyuguhkan informasi berupa fakta terkait imunisasi. Dan, juga dirasa perlu mengupas persoalan dan kontroversi yang beredar di masyarakat. Khususnya, dala

Memeluknya Seorang

Saat itu aku tidak pernah pandai bercerita. Namun, wajah lugumu selalu tulus menanti munculnya suaraku. Aku gagap tetapi kamu tidak peduli. Aku merona tetapi kamu semakin baik hati. "Lanjutkan Bunda! Bagaimana merpati putih itu akhirnya menemukan rumahnya?" Aku kalah. Mata beningmu tak ayal membuatku makin berani. Aku lanjutkan cerita ini hanya untukmu. Supaya kamu mimpi indah di hamparan bunga dan bintang. "Merpati putih itu tidak pernah putus asa. Dia terus mencari. Dia terus terbang hingga sayapnya letih bahkan beberapa bulu putihnya rusak dan lepas. Hanya satu yang dipikirkan Merpati putih, cinta penciptanya tidak pernah salah. Kepercayaan itu tidak pernah pudar. Dan, ketika dia ingin berhenti, hatinya justru berpacu lebih hebat. Karena tidak mau menyia-nyiakan anugerah tersebut. Lalu, sampailah dia di gundukan tandus yang lapang. Sepelemparan mata terlihat riuh air biru berombak. Ada takdir yang memintanya berhenti, seekor penyu malang terjungkil tidak ber

Perhatianmu Tak Pernah Membuatku Ingin Pergi

Gambar
Belum lama. Sungguh belum lama. Aku dibersamai kamu. Kalian. Tapi, rasanya seperti sudah nyaman. Dekat. Dan, bahagia. Mungkin aku terlalu naif. Mungkin kebaikan ini wajar, tetapi tidak bagiku. Aku merasakannya. Dengan hati. Begitu dalam dan tulus. Perhatian itu.... Ketika aku jatuh, aku tahu ada tangan-tangan kalian yang mengangkatku kembali bangkit. Ketika itu, aku pasrah pada jalan hidup yang hanya ingin aku jalani seadanya. Namun, aku melihat tekad untuk tidak pernah menyerah. Pada kesulitan. Pada kejaliman. Dan, pada hal yang selalu bisa kita usahakan dengan maksimal. Aku tahu, bahwa tidak ada yang mudah tetapi kemudahan itu selalu ada. Kapanpun dan dimanapun. Di setiap sela ketika kita merasa sulit dan jauh sangat sulit. Ketika itu, aku berharap sesuatu terjadi padaku. Mengubahku secara sempurna menjadi lebih baik. Tanpa keterpaksaan. Tanpa ketakutan. Perlahan aku tahu dimana aku seharusnya berada, Dan, diantara siapa aku seharusnya bersama. Tu

Mata Hati

Suka geregetan kalau lihat orang sombong dan gak tau cara minta tolong. Apalagi bos-bos besar perlente yang gak pernah berhenti ngisap rokoknya. Atau bos yang ajudannya serasa rendah banget. Bukankah Tuhan hanya membedakan derajat manusia berdasarkan ketaqwaannya? Kenapa masih ada saja orang yang kayak gitu? Ya gak bosnya ya gak orang-orang di bawahnya. Kenapa tidak biasa saja? Ya sewajarnya saja, mungkin dia bos, tapi apakah harus direndahkan? Oke mungkin dia bos, tapi apakah harus rela diperintah seenaknya? Hilangkah mata hati ini? Ketika Tuhan bahkan tidak peduli bagaimana diri ini, Tuhan hanya meminta ketaqwaan itu, tetapi kalau begini ceritanya, tidakkah sama dengan menduakan-Nya? Bagaimanapun situasi dan kondisinya, semoga mata hati tidak pernah hilang dari hakikat sebenarnya kehidupan. Ancaman kapitalis, sosialis memang begitu tinggi, tetapi kepercayaan pada hati, mempertajam mata hati agaknya patut disadari. Percayalah pada Tuhan yang tidak pernah membiarka

Rohingya Vs First Travel

Gambar
Masih berkeliaran berita dan informasi di media-media sosial tentang kekejaman yang dirasakan Rohingya. Masih banyak bala bantuan untuk Rohingya di berbagai acara. Masih belum lelah berhenti suara lantang kecaman untuk segera menghentikan penindasan Rohingya. Dan, masih santer kata-kata 'Save Rohingya'. Kenapa? Karena setiap muslim bersaudara. Meskipun kekejaman ini sesungguhnya merupakan bencana kemanusiaan. Iya. Rohingya sudah kehilangan hak asasinya untuk hidup. Merdeka. Bebas. Lalu, bicara persoalan muslim bersaudara, ada loh muslim di Indonesia yang tertimpa musibah juga. Iya benar. First Travel (FT). Korbannya ribuan jemaah. Muslim, tentu saja. Dan, apa yang dilakukan? Hanya Rohingya yang masih jadi primadona dan prioritas? Tidak. Walaupun menelan korban sesama muslim. Kedua kasus ini tidak sama. Pelaku FT sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan. Kita bisa mengawalnya secara langsung. Dan, kejadian ini jauh lebih baik dari pada melihat ora

Si Deadliner

Kapan kamu kapok menunda-nunda pekerjaan? Selalu deadline. Kemarin-kemarin kemana? Kebiasaan deh! Maksudnya apa? Allah kasih kamu waktu yang sama dengan yang lain. Kenapa yang lain tepat waktu sedangkan kamu selalu mepet-mepet. Kamu pikir kamu siapa? Merasa paling disayang Allah? Hamba Allah yang paling spesial? Umat Nabi Muhammad yang paling taat? Hah? Siapa? Coba siapa? Keturanan bangsawan atau darah biru juga enggak. Heran deh! Masih bisa-bisanya leha-leha tidak memaksimalkan waktu. Jangan beralasan prioritas. Kamu yang tidak bisa mengatur waktu tidak pantas berkata prioritas. Semuanya prioritas saat menjelang akhir deadline? Kamu saja yang tidak pandai mengelolanya. Walaupun bukan prioritas setidaknya kamu bisa selesaikan semua tugas sebelum pada waktunya. Sekarang mungkin terlambat. Websitenya sudah drop dan kamu belum upload satupun. Hari terakhir loh. Apa yang akan kamu bilang pada ibumu? Lihat saja, kamu akan menjadi bulan-bulanan amarahnya! Atau dicuekin sekenanya

Bos Kudu Pintar

Suka gak sama atasan yang pinternya kira-kira di bawah kita? Kalau disuruh-suruh sama yang dipikiran kita lebih bodoh enak gak sih? Yang cuma bisanya perintah sana, perintah sini. Nyuruh-nyuruh saja tapi kalau dia sendiri yang ngerjain gak bisa. Suka gak sih? Suka atau gak suka sebenarnya relatif sih ya. Yang pasti itu nyebelin. Karena ketika kita mengerjakan itu terus kita kesulitan dan mentok tok tok tok. Siapa yang mau ditanya? Kalau yang kasih perintah saja gak tau harus berbuat apa. Jadi, memilih bos kudu pintar, gak juga sih. Gak harus pintar yang penting solutif saat kita punya masalah. Iya gak sih? Iyain saja biar cepet. Hehe... Kalau sudah merasa sangat merana dengan apa yang terjadi, maka keluar dan menjadi bos yang lebih pintar atau membuka usaha sendiri. Mungkin disebut lebih cocok dari pada disebut sebagai karyawan. Untuk bos yang dianggap belum pintar ini, tentu masih ada kelebihannya. Tidak mungkin menjadi bos kalau dia tidak memiliki sesuatu yang berbeda dar

Setelah Mbell Pergi

Gambar
http://art-vatar.blogspot.co.id/ Genap seminggu Mbell pergi. Aku masih juga susah move on . Setiap tengok ke depan selalu ingat sosoknya yang sedang duduk manis atau sok sibuk mengerjakan ini dan itu. Begitulah, Mbell tidak pernah berhenti beraktifitas. Bekerja seperti sudah menyatu dalam aliran darahnya. Mbell, masih ingin aku kenang kisahmu, tetapi berlarut dalam kesedihan juga bukan solusi menggembirakan. Aku, kita, harus ikhlas mulai menapaki perjalanan hidup ini sendiri. Aku yakin kekuatan Allah Yang Maha Besar mampu menempatkan kita di ruangan yang dibersamai oleh cinta-Nya. Setelah kamu pergi, aku tidak ingin diam dan larut dalam sedih. Meskipun belum ada penggantimu di depan sana. Bangku itu masih kosong dan selalu sukses membuatku berkhayal andai kamu kembali. Berada lagi di sini. Aku juga mulai bisa lagi mengontrol emosi. Memang tidak baik banyak berbicara dan sedikit bekerja. Semenjak kamu pergi aku fokus menggerakan jemari atau melantunkan beberapa kalima

Curug Ngeledek

Libur itu jalan-jalan. Hadeuuh... gitu deh kata anak muda kekinian. Kamu kekinian? Kalau aku masih termasuk kekinian. Hehe.. Iya libur itu saatnya jalan-jalan. Melihat keelokan negeri ini. Asiiik.... Sebenarnya kabur dari rutinitas itu penting. Tergantung situasi dan kondisi kantong juga ya. Jangan memaksakan pergi jauh kalau tidak ada uangnya. Apalagi sampai pinjam? Oh.... Big No!!! Salah satu alternatif jalan-jalan murah selain ke taman dekat rumah atau ke alun-alun kota, bisa juga coba pergi ke curug. Iya, meskipun letaknya di gunung, tidak terlalu melelahkan seperti pendaki-pendaki kekinian itu. Tapi, pergi ke curug tetap layak diperjuangkan loh! Maksa ini! hehe... Jadi, kenapa judul tulisan ini 'Curug Ngeledek', karena belum lama ini aku pergi ke curug yang bernama Curug Bandung tetapi letak lokasinya di Karawang. Aneh ya. Ngeledek banget. Tapi, abaikan itu, yang penting situasi di sana. Hal paling menarik saat mengunjungi curug adalah kondisi airnya yang

Tahun Baru Hijriah

Selamat Tahun Baru Hijriah.... Senang ya sudah tahun baru lagi, semoga-semoga yang baik-baik terjadi di tahun baru ini. Tidak terasa banget sudah tahun baru saja. Koreksi diri lagi. Hayoo koreksi diri lagi. Gimana ibadah wajibnya? Gimana ibadah sunnahnya? Gimana sedekahnya? Gimana akhlaknya? Masih belum baik. Masih banyak bolong. Masih berantakan. Samaaa. Toss. Tapi mumpung nih. Mumpung masih dikasih kesempatan. Mumpung diingetin. Mumpung Allah masih sayang. Mumpung momentnya pas. Ayo menjadi pribadi yang lebih baik. Selalu. Kapanpun. Setiap saat. Lalu, seperti biasa di awal tahun baru selalu ada hal yang menjadi keinginan dan cita-cita. Bagaimana denganmu? Apa keinginanmu di tahun baru hijriah ini? Punya pasangan? Hehe...Samaaa. Toss. Punya usaha sendiri? Samaaa. Toss. Punya banyak waktu yang bermanfaat untuk orang lain? Samaaa lagiii. Toss. Punya kesempatan kuliah di luar negeri? Dimana? Aamiin ya rabbal'alamiin.. Semoga dikabul Allah ya... Ya

Anak Emak

Iya gitu deh kalau jadi anak Emak. Apa-apa yang diajak curhat Emak. Kalau mau memutuskan apa-apa bilang Emang. Kalau ada sulit-sulit apa langsung cari bantuan Emak. Pokoknya, Emak... Emak... Emak... Emak selalu. Kadang heran juga, kalu terus-terusan Emak, kapan dewasanya? Gimana nanti kalau Emak udah makin kurang seterongnya, atau Emak udah makin pelan daya ingat dan pikirnya. Kudu gimana? Ya, harus mulai belajar. Apa-apa Emak boleh aja. Boleh banget malah. Tetapi, apa-apa Emak tapi gak pernah mikir, gak pernah belajar, gak pernah merhatiin. Bagaimana Emak bisa seseterong itu atau bagaimana Emak bisa menyelesaikan banyak masalah. Kudu wajib diperhatiin. Buat pembelajaran. Buat pengalaman. Buat langkah pertama. Jadi nanti kalau punya masalah kayak gitu, kesusahan kayak gitu, udah bisa deh ngejalaninnya sendiri. Apalagi saat Emak sudah mulai dalam pemeliharaan kita. Kita? Iya kitalah, siapa lagi? Jadi, selama Emak masih ada, deket-deket terus sama Emak. Tempel terus si E

Jika Tidak Kamu Coba

Persoalan hati memang paling sulit dimengerti. Tidak terkecuali makhluk yang dititipkan hati tersebut. Bicara hati memang tidak sanggup sekali. Karena dalam sedetik katanya bisa berubah lagi. Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa, persoalan hati tidak pernah mampu ditebak. Ketika hari ini aku pikir aku mencintainya, tidak sejurus kemudian. Begitulah katanya hati. Entah bagaimana hati bisa begitu kuat menjadi hal terpenting yang harus didengarkan. Padahal hati tidak pernah bisa membedakan yang benar-benar rasional bisa terjadi dan ternalarkan oleh logika. Sepertinya ungkapan hati tidak bertulang juga harus ada. Jika tidak kamu coba, bagaimana hati bisa mengerti. Anggaplah hati menjadi awal. Kemudian akal merasionalkan. Sesuatu yang tidak pernah bisa hati mengerti dan sebaliknya. Hanya saja bagaimana bisa tahu jika belum mencoba. Jika perkara cinta, memang bisa apa? Rasakan dan nikmati saja. Cobalah mengerti hal yang tidak bisa dimengerti. Seperti itulah kali ini. Iya. A

Hempasan Angin

"Bagaimana aku melawan ini? Hempasan cintamu bagai angin yang masuk dalam pori-pori kecil tubuhku. Masuk begitu saja," ujarku kesal. "Kenakan jaketmu! Aku akan pergi segera," ujarmu dingin. "Apakah seseorang yang mengaku dirinya laki-laki selalu begitu? Pergi di saat sang wanita sudah menjatuhkan hatinya sangat dalam. Jahaaaaaaattt!" Rutukku kembali. "Hahaha...". "Apa?" Sungutku lagi. Tiba-tiba jaket tebal menghujam wajahku. Terurai hingga ke tubuhku. Baru saja aku arahkan kedua lengan untuk melepas jaket itu dari wajahku, sebuah dekapan mendarat mulus. Aku terpaku. Bungkam. Mematung. Lenganku merasakan degupan jantung yang begitu kencang. "Aku nyaris berhenti jika kamu tidak mengungkapkannya barusan". Iya. Ada sesuatu yang lepas begitu saja. Rongga dadaku luang berganti hempasan angin semilir yang hangat. Pernikahanku yang tanpa cinta. Kini aku tahu akan berlangsung seperti apa. Mengenalmu lebih dalam adalah p

Kunci Hati

"Nih! Kunci hatiku buat kamu," kataku singkat sambil menyodorkan scrapbook harianku. Lelaki dihadapanku hening. Raut wajahnya mengkerut. Bertanya-tanya pada apa yang baru saja didengarnya. Matanya menelisik tajam mataku, meminta penjelasan. Aku tidak peduli dengan perubahannya setelah ucapanku barusan. Aku memilih diam dan abai pada isyarat-isyaratnya meminta penjelasan. Biarkan, karena aku tidak mau terlalu gamblang mengungkapkan perasaanku yang masih gamang. Benar saja, lelaki dihadapanku memang pantang menyerah. Pantang putus dalam berusaha. Apalagi perihal penjarahan terhadap kepemilikan hatiku. "Maksud kamu apa? Kunci hati? Lalu ini apa?" Berondongan pertanyaan itu sudah kuduga tetapi menjawabnya selalu membuatku tak siap. Andai dia tahu tanpa aku harus berkata. "Jawab dong! Aku gak ngerti maksud kamu apa?" "Iya... iya... aku akan jawab". "Apa? Apa? Apa?" Katanya sambil menggoyang-goyang ujung lengan bajuku. Aku kal

Ketika Air Mata ini Menetes

Emosi sedih selalu identik dengan tangisan, terutama bagi kaum wanita. Bukan karena wanita lemah tetapi luapan emosi melalui tangis adalah bagian dari caranya menguatkan diri. Terlalu banyak hal yang dipikirkan dan dirasakan seorang wanita yang terkadang tidak bisa terurai dengan tepat satu per satu. Begitulah salah satu hal unik dari wanita. Air mata. Apakah air mata ini menetes hanya karena kesedihan? Tentu tidak. Banyak emosi lain ketika tersentuh atau terharu, marah, bahkan bahagia. Dan, apakah bisa diatur? Sering kali air mata ini begitu tulus dan mengerti dengan indah mengalir sendiri, mengeluarkan racun-racun tidak penting dalam diri. Ketika air mata ini menetes dari seorang wanita, jangan pernah sebut hal tersebut terjadi karena kelemahannya. Lelaki juga bisa meneteskan air mata hanya saja tidak sebanyak wanita. Memang begitulah wanita, makhluk spesial yang diciptakan Tuhan.

Menyibak Cahaya Untukmu

Gambar
Buat kamu yang tidak pernah berhenti berdoa dan berusaha. Cahaya itu, selalu ada. Di tempat yang sama. Terkadang hilang hanya karena tertutup hal yang lebih dekat pada pandangan kita. Mungkin aku terlalu takut mendampingi setiap langkahmu. Mungkin aku yang belum berani menapakan kakiku sejajar dengan kakimu. Mungkin aku sangat lemah untuk kuat berdiri di sisimu melewati segalanya. Aku tidak pernah benar-benar paham tentang itu. Entah dengan kamu. Namun, aku tahu kamu selalu berdoa dan berusaha pada jalan yang baik. Kamu masih begitu tabah menyibak cahaya itu. Aku selalu berharap cahaya itu aku, tetapi sering kali aku berharap cahayamu bukan aku. Karena melihatmu berjuang begitu hebat membuatku terperosok dalam pada ketidakberdayaan. Kamu yang begitu hebat bukan aku. Jadi pantaskah cahaya itu aku? Cahaya itu selalu ada. Di tempat yang sama. Tidak kemana-mana pun masih dengan terang yang sama. Teruslah berjuang menemuukannya. Entah cahaya itu aku atau yang lainnya. Aku hanya i

Tidak Lagi Aku Temukan Kamu di Kursi yang Sama

Gambar
Pagi ini aku kembali ke ruang rutinitas senin hingga jumat. Setelah beberapa hari lalu aku tinggalkan karena keperluan lain di seberang pulau sana. Dan, ketika aku kembali tidak lagi aku temukan kamu di kursi yang sama. Perbincangan ini bahkan telah hadir berbulan-bulan lalu. Kita akan pergi bersama dan berebut antara aku dan kamu yang lebih dulu. Rasanya lucu, kali ini entah permintaan siapa yang terkabul. Yang pasti, kamu pergi di saat aku tidak ada di sini. Dan, itu menyebalkan. Ruangan ini menjadi jauh lebih lengang. Kursi itu kosong. Tidak ada lagi wajah sok sibukmu di depan layar komputer atau wajah sok seriusmu menghitung nota-nota pengeluaran. Dan, yang lebih penting, tidak ada lagi yang bisa bebas aku jahili setiap saat. Setelah sekian lama perbincangan kita kala itu terwujud. Saat itu, kita sudah sepakat dengan alasan pergi dan tetap bertahan sementara waktu. Aku ingat betul, kini sudah tidak ada alasan untukmu tetap tinggal dan bertahan. Lantas aku, berharap