Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Rohingya Vs First Travel

Gambar
Masih berkeliaran berita dan informasi di media-media sosial tentang kekejaman yang dirasakan Rohingya. Masih banyak bala bantuan untuk Rohingya di berbagai acara. Masih belum lelah berhenti suara lantang kecaman untuk segera menghentikan penindasan Rohingya. Dan, masih santer kata-kata 'Save Rohingya'. Kenapa? Karena setiap muslim bersaudara. Meskipun kekejaman ini sesungguhnya merupakan bencana kemanusiaan. Iya. Rohingya sudah kehilangan hak asasinya untuk hidup. Merdeka. Bebas. Lalu, bicara persoalan muslim bersaudara, ada loh muslim di Indonesia yang tertimpa musibah juga. Iya benar. First Travel (FT). Korbannya ribuan jemaah. Muslim, tentu saja. Dan, apa yang dilakukan? Hanya Rohingya yang masih jadi primadona dan prioritas? Tidak. Walaupun menelan korban sesama muslim. Kedua kasus ini tidak sama. Pelaku FT sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan. Kita bisa mengawalnya secara langsung. Dan, kejadian ini jauh lebih baik dari pada melihat ora

Si Deadliner

Kapan kamu kapok menunda-nunda pekerjaan? Selalu deadline. Kemarin-kemarin kemana? Kebiasaan deh! Maksudnya apa? Allah kasih kamu waktu yang sama dengan yang lain. Kenapa yang lain tepat waktu sedangkan kamu selalu mepet-mepet. Kamu pikir kamu siapa? Merasa paling disayang Allah? Hamba Allah yang paling spesial? Umat Nabi Muhammad yang paling taat? Hah? Siapa? Coba siapa? Keturanan bangsawan atau darah biru juga enggak. Heran deh! Masih bisa-bisanya leha-leha tidak memaksimalkan waktu. Jangan beralasan prioritas. Kamu yang tidak bisa mengatur waktu tidak pantas berkata prioritas. Semuanya prioritas saat menjelang akhir deadline? Kamu saja yang tidak pandai mengelolanya. Walaupun bukan prioritas setidaknya kamu bisa selesaikan semua tugas sebelum pada waktunya. Sekarang mungkin terlambat. Websitenya sudah drop dan kamu belum upload satupun. Hari terakhir loh. Apa yang akan kamu bilang pada ibumu? Lihat saja, kamu akan menjadi bulan-bulanan amarahnya! Atau dicuekin sekenanya

Bos Kudu Pintar

Suka gak sama atasan yang pinternya kira-kira di bawah kita? Kalau disuruh-suruh sama yang dipikiran kita lebih bodoh enak gak sih? Yang cuma bisanya perintah sana, perintah sini. Nyuruh-nyuruh saja tapi kalau dia sendiri yang ngerjain gak bisa. Suka gak sih? Suka atau gak suka sebenarnya relatif sih ya. Yang pasti itu nyebelin. Karena ketika kita mengerjakan itu terus kita kesulitan dan mentok tok tok tok. Siapa yang mau ditanya? Kalau yang kasih perintah saja gak tau harus berbuat apa. Jadi, memilih bos kudu pintar, gak juga sih. Gak harus pintar yang penting solutif saat kita punya masalah. Iya gak sih? Iyain saja biar cepet. Hehe... Kalau sudah merasa sangat merana dengan apa yang terjadi, maka keluar dan menjadi bos yang lebih pintar atau membuka usaha sendiri. Mungkin disebut lebih cocok dari pada disebut sebagai karyawan. Untuk bos yang dianggap belum pintar ini, tentu masih ada kelebihannya. Tidak mungkin menjadi bos kalau dia tidak memiliki sesuatu yang berbeda dar

Setelah Mbell Pergi

Gambar
http://art-vatar.blogspot.co.id/ Genap seminggu Mbell pergi. Aku masih juga susah move on . Setiap tengok ke depan selalu ingat sosoknya yang sedang duduk manis atau sok sibuk mengerjakan ini dan itu. Begitulah, Mbell tidak pernah berhenti beraktifitas. Bekerja seperti sudah menyatu dalam aliran darahnya. Mbell, masih ingin aku kenang kisahmu, tetapi berlarut dalam kesedihan juga bukan solusi menggembirakan. Aku, kita, harus ikhlas mulai menapaki perjalanan hidup ini sendiri. Aku yakin kekuatan Allah Yang Maha Besar mampu menempatkan kita di ruangan yang dibersamai oleh cinta-Nya. Setelah kamu pergi, aku tidak ingin diam dan larut dalam sedih. Meskipun belum ada penggantimu di depan sana. Bangku itu masih kosong dan selalu sukses membuatku berkhayal andai kamu kembali. Berada lagi di sini. Aku juga mulai bisa lagi mengontrol emosi. Memang tidak baik banyak berbicara dan sedikit bekerja. Semenjak kamu pergi aku fokus menggerakan jemari atau melantunkan beberapa kalima

Curug Ngeledek

Libur itu jalan-jalan. Hadeuuh... gitu deh kata anak muda kekinian. Kamu kekinian? Kalau aku masih termasuk kekinian. Hehe.. Iya libur itu saatnya jalan-jalan. Melihat keelokan negeri ini. Asiiik.... Sebenarnya kabur dari rutinitas itu penting. Tergantung situasi dan kondisi kantong juga ya. Jangan memaksakan pergi jauh kalau tidak ada uangnya. Apalagi sampai pinjam? Oh.... Big No!!! Salah satu alternatif jalan-jalan murah selain ke taman dekat rumah atau ke alun-alun kota, bisa juga coba pergi ke curug. Iya, meskipun letaknya di gunung, tidak terlalu melelahkan seperti pendaki-pendaki kekinian itu. Tapi, pergi ke curug tetap layak diperjuangkan loh! Maksa ini! hehe... Jadi, kenapa judul tulisan ini 'Curug Ngeledek', karena belum lama ini aku pergi ke curug yang bernama Curug Bandung tetapi letak lokasinya di Karawang. Aneh ya. Ngeledek banget. Tapi, abaikan itu, yang penting situasi di sana. Hal paling menarik saat mengunjungi curug adalah kondisi airnya yang

Tahun Baru Hijriah

Selamat Tahun Baru Hijriah.... Senang ya sudah tahun baru lagi, semoga-semoga yang baik-baik terjadi di tahun baru ini. Tidak terasa banget sudah tahun baru saja. Koreksi diri lagi. Hayoo koreksi diri lagi. Gimana ibadah wajibnya? Gimana ibadah sunnahnya? Gimana sedekahnya? Gimana akhlaknya? Masih belum baik. Masih banyak bolong. Masih berantakan. Samaaa. Toss. Tapi mumpung nih. Mumpung masih dikasih kesempatan. Mumpung diingetin. Mumpung Allah masih sayang. Mumpung momentnya pas. Ayo menjadi pribadi yang lebih baik. Selalu. Kapanpun. Setiap saat. Lalu, seperti biasa di awal tahun baru selalu ada hal yang menjadi keinginan dan cita-cita. Bagaimana denganmu? Apa keinginanmu di tahun baru hijriah ini? Punya pasangan? Hehe...Samaaa. Toss. Punya usaha sendiri? Samaaa. Toss. Punya banyak waktu yang bermanfaat untuk orang lain? Samaaa lagiii. Toss. Punya kesempatan kuliah di luar negeri? Dimana? Aamiin ya rabbal'alamiin.. Semoga dikabul Allah ya... Ya

Anak Emak

Iya gitu deh kalau jadi anak Emak. Apa-apa yang diajak curhat Emak. Kalau mau memutuskan apa-apa bilang Emang. Kalau ada sulit-sulit apa langsung cari bantuan Emak. Pokoknya, Emak... Emak... Emak... Emak selalu. Kadang heran juga, kalu terus-terusan Emak, kapan dewasanya? Gimana nanti kalau Emak udah makin kurang seterongnya, atau Emak udah makin pelan daya ingat dan pikirnya. Kudu gimana? Ya, harus mulai belajar. Apa-apa Emak boleh aja. Boleh banget malah. Tetapi, apa-apa Emak tapi gak pernah mikir, gak pernah belajar, gak pernah merhatiin. Bagaimana Emak bisa seseterong itu atau bagaimana Emak bisa menyelesaikan banyak masalah. Kudu wajib diperhatiin. Buat pembelajaran. Buat pengalaman. Buat langkah pertama. Jadi nanti kalau punya masalah kayak gitu, kesusahan kayak gitu, udah bisa deh ngejalaninnya sendiri. Apalagi saat Emak sudah mulai dalam pemeliharaan kita. Kita? Iya kitalah, siapa lagi? Jadi, selama Emak masih ada, deket-deket terus sama Emak. Tempel terus si E

Jika Tidak Kamu Coba

Persoalan hati memang paling sulit dimengerti. Tidak terkecuali makhluk yang dititipkan hati tersebut. Bicara hati memang tidak sanggup sekali. Karena dalam sedetik katanya bisa berubah lagi. Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa, persoalan hati tidak pernah mampu ditebak. Ketika hari ini aku pikir aku mencintainya, tidak sejurus kemudian. Begitulah katanya hati. Entah bagaimana hati bisa begitu kuat menjadi hal terpenting yang harus didengarkan. Padahal hati tidak pernah bisa membedakan yang benar-benar rasional bisa terjadi dan ternalarkan oleh logika. Sepertinya ungkapan hati tidak bertulang juga harus ada. Jika tidak kamu coba, bagaimana hati bisa mengerti. Anggaplah hati menjadi awal. Kemudian akal merasionalkan. Sesuatu yang tidak pernah bisa hati mengerti dan sebaliknya. Hanya saja bagaimana bisa tahu jika belum mencoba. Jika perkara cinta, memang bisa apa? Rasakan dan nikmati saja. Cobalah mengerti hal yang tidak bisa dimengerti. Seperti itulah kali ini. Iya. A

Hempasan Angin

"Bagaimana aku melawan ini? Hempasan cintamu bagai angin yang masuk dalam pori-pori kecil tubuhku. Masuk begitu saja," ujarku kesal. "Kenakan jaketmu! Aku akan pergi segera," ujarmu dingin. "Apakah seseorang yang mengaku dirinya laki-laki selalu begitu? Pergi di saat sang wanita sudah menjatuhkan hatinya sangat dalam. Jahaaaaaaattt!" Rutukku kembali. "Hahaha...". "Apa?" Sungutku lagi. Tiba-tiba jaket tebal menghujam wajahku. Terurai hingga ke tubuhku. Baru saja aku arahkan kedua lengan untuk melepas jaket itu dari wajahku, sebuah dekapan mendarat mulus. Aku terpaku. Bungkam. Mematung. Lenganku merasakan degupan jantung yang begitu kencang. "Aku nyaris berhenti jika kamu tidak mengungkapkannya barusan". Iya. Ada sesuatu yang lepas begitu saja. Rongga dadaku luang berganti hempasan angin semilir yang hangat. Pernikahanku yang tanpa cinta. Kini aku tahu akan berlangsung seperti apa. Mengenalmu lebih dalam adalah p

Kunci Hati

"Nih! Kunci hatiku buat kamu," kataku singkat sambil menyodorkan scrapbook harianku. Lelaki dihadapanku hening. Raut wajahnya mengkerut. Bertanya-tanya pada apa yang baru saja didengarnya. Matanya menelisik tajam mataku, meminta penjelasan. Aku tidak peduli dengan perubahannya setelah ucapanku barusan. Aku memilih diam dan abai pada isyarat-isyaratnya meminta penjelasan. Biarkan, karena aku tidak mau terlalu gamblang mengungkapkan perasaanku yang masih gamang. Benar saja, lelaki dihadapanku memang pantang menyerah. Pantang putus dalam berusaha. Apalagi perihal penjarahan terhadap kepemilikan hatiku. "Maksud kamu apa? Kunci hati? Lalu ini apa?" Berondongan pertanyaan itu sudah kuduga tetapi menjawabnya selalu membuatku tak siap. Andai dia tahu tanpa aku harus berkata. "Jawab dong! Aku gak ngerti maksud kamu apa?" "Iya... iya... aku akan jawab". "Apa? Apa? Apa?" Katanya sambil menggoyang-goyang ujung lengan bajuku. Aku kal

Ketika Air Mata ini Menetes

Emosi sedih selalu identik dengan tangisan, terutama bagi kaum wanita. Bukan karena wanita lemah tetapi luapan emosi melalui tangis adalah bagian dari caranya menguatkan diri. Terlalu banyak hal yang dipikirkan dan dirasakan seorang wanita yang terkadang tidak bisa terurai dengan tepat satu per satu. Begitulah salah satu hal unik dari wanita. Air mata. Apakah air mata ini menetes hanya karena kesedihan? Tentu tidak. Banyak emosi lain ketika tersentuh atau terharu, marah, bahkan bahagia. Dan, apakah bisa diatur? Sering kali air mata ini begitu tulus dan mengerti dengan indah mengalir sendiri, mengeluarkan racun-racun tidak penting dalam diri. Ketika air mata ini menetes dari seorang wanita, jangan pernah sebut hal tersebut terjadi karena kelemahannya. Lelaki juga bisa meneteskan air mata hanya saja tidak sebanyak wanita. Memang begitulah wanita, makhluk spesial yang diciptakan Tuhan.

Menyibak Cahaya Untukmu

Gambar
Buat kamu yang tidak pernah berhenti berdoa dan berusaha. Cahaya itu, selalu ada. Di tempat yang sama. Terkadang hilang hanya karena tertutup hal yang lebih dekat pada pandangan kita. Mungkin aku terlalu takut mendampingi setiap langkahmu. Mungkin aku yang belum berani menapakan kakiku sejajar dengan kakimu. Mungkin aku sangat lemah untuk kuat berdiri di sisimu melewati segalanya. Aku tidak pernah benar-benar paham tentang itu. Entah dengan kamu. Namun, aku tahu kamu selalu berdoa dan berusaha pada jalan yang baik. Kamu masih begitu tabah menyibak cahaya itu. Aku selalu berharap cahaya itu aku, tetapi sering kali aku berharap cahayamu bukan aku. Karena melihatmu berjuang begitu hebat membuatku terperosok dalam pada ketidakberdayaan. Kamu yang begitu hebat bukan aku. Jadi pantaskah cahaya itu aku? Cahaya itu selalu ada. Di tempat yang sama. Tidak kemana-mana pun masih dengan terang yang sama. Teruslah berjuang menemuukannya. Entah cahaya itu aku atau yang lainnya. Aku hanya i

Tidak Lagi Aku Temukan Kamu di Kursi yang Sama

Gambar
Pagi ini aku kembali ke ruang rutinitas senin hingga jumat. Setelah beberapa hari lalu aku tinggalkan karena keperluan lain di seberang pulau sana. Dan, ketika aku kembali tidak lagi aku temukan kamu di kursi yang sama. Perbincangan ini bahkan telah hadir berbulan-bulan lalu. Kita akan pergi bersama dan berebut antara aku dan kamu yang lebih dulu. Rasanya lucu, kali ini entah permintaan siapa yang terkabul. Yang pasti, kamu pergi di saat aku tidak ada di sini. Dan, itu menyebalkan. Ruangan ini menjadi jauh lebih lengang. Kursi itu kosong. Tidak ada lagi wajah sok sibukmu di depan layar komputer atau wajah sok seriusmu menghitung nota-nota pengeluaran. Dan, yang lebih penting, tidak ada lagi yang bisa bebas aku jahili setiap saat. Setelah sekian lama perbincangan kita kala itu terwujud. Saat itu, kita sudah sepakat dengan alasan pergi dan tetap bertahan sementara waktu. Aku ingat betul, kini sudah tidak ada alasan untukmu tetap tinggal dan bertahan. Lantas aku, berharap

Tepian Mahakam

Aku masih suka tanganku digandeng berayun seperti ini. Mungkin terkesan kekanakan. Tapi, biarlah keromantisan ini bertahan lebih lama. Di tepian sungai Mahakam, saksi bisu perjalanan cinta kita. Birunya tidak pernah setenang ini sampai aku menemukanmu. Oh... sampai Tuhan mempertemukan kita. Lalu kamu berani memintaku, menyatakan cinta. Saat itu, aku tak pernah berpikir kamulah orangnya. Seiring waktu berlalu, yang datang lalu pergi, hanya kamu yang tetap di sisi. Bukankah itu bukti kita tak pernah ingin terganti. Waktu berlalu dan kamu makin dewasa bagiku. Beberapa aku tahu kamu berusaha lebih dari yang pernah kamu tahu. Aku pun begitu menerima kamu berarti memporak-porandakan pertahan diriku. Aku tak apa. Hanya saja memang butuh banyak waktu. Dan, kamu memberikan itu. Aku akan mengalah dan berusaha memahamimu, ucapmu kala itu di tepian Mahakam. Kali berikutnya, aku menemukan diriku hilang ketika kamu sulit dikabari dan ditemui. Aku pergi, mengadu di tepian Mahakam ini. Lalu

Aku Selalu Ingin Kembali

Gambar
Aku selalu ingin kembali pada mereka yang tak pernah ingin pergi Aku selalu ingin kembali pada mereka yang tak pernah berhenti berbagi Aku selalu ingin kembali pada mereka yang tak pernah letih menemani Aku selalu ingin kembali pada mereka yang tak pernah berusaha menyakiti Aku selalu ingin kembali pada setiap tawa dan sedih mereka yang berasal dari hati Aku selalu ingin kembali pada setiap senyum dan kesal mereka yang tersakiti Aku selalu ingin kembali pada setiap hangat dan dingin mereka yang lemahnya justru menguatkan Aku selalu ingin kembali pada perih dan bahagia mereka yang lantang menentang kalah Aku selalu ingin kembali dalam kasih itu, buaian itu, kelembutan itu Aku selalu ingin kembali kepada keikhlasan itu, ketentraman itu, kedewasaan itu Aku selalu ingin kembali terhadap ketulusan itu, kepolosan itu, kebersahajaan itu Aku selalu ingin kembali di ruang putih itu, bercahaya itu, berbintang itu Aku selalu ingin kembali Dekap kekasih sejati Dimanja dengan be

Masih yang Paling Manis

Gula itu manis tapi masih kalah manis dengan sapamu di pagi hari Coklat itu manis tapi masih lebih manis kamu yang menemaniku sarapan Black Forrest itu manis tapi manisnya juaraan kamu yang diam-diam perhatian Agar itu manis tapi masih banyak manisnya saat kamu rela nungguin aku yang suka lama di toilet Kamu masih yang paling manis Kamu masih yang paling manis Kamu masih yang paling manis Kamu masih yang paling manis Sebenarnya semuanya kelakuanmu yang paling manis Sebenarnya semua tawamu yang paling manis Sebenarnya semua kelakarmu yang paling manis Sebenarnya semua yang ada padamu yang paling manis

Mbell Sayang

Entah sudah kesekian kali kata-kata ini berpusat padamu. Meski masih terhitung waktu kebersamaan kita tetapi aku tahu perjalanan ini pernah didampingi olehmu. Kedewasaanku juga pernah dipupuki oleh kedewasaanmu. Kali ini kata-kata ini ingin berkisah tentangmu sekali lagi. Sungguh aku tidak rela harus pulang lalu menemukan kursi di depanku kosong. Dimana akan aku salurkan keisengan ini? Pada kursi sebelah? Aah... jangan bercanda. Kamu boleh pergi setelah aku kembali dan bersama-sama kita pergi. Biar saja kamu tersiksa sampai aku kembali. Atau aku demo rumahmu untuk yang pertama kali. Aku serius tentang ini. Kamu pahamkan seberapa gilanya aku? Banyolan dan kekonyolan kita selama ini boleh saja terganti, tetapi tidak dengan pergi sebelum aku kembali. Rasanya itu tidak adil. Pahamkan? Atau aku paksa saja kamu paham. Saat besok waktu dipentaskan, telepatikan padaku. Karena aku tidak ingin kehilangan satupun kejadian penting ini. Agar lengkap kisah ini aku tulis dengan judul Mbell Sa

Siap atau Belum Siap

Menikah. September memang ceria. Akhirnya aku tahu me ngapa September begitu ceria. Undangan pernikahan berdatangan silih berganti. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari tiga undangan pernikahan. Tentu jika bukan sabtu ya minggu. Mungkin karena itu umum jika ada yang bertanya kapan menikah jawab saja jika bukan sabtu ya minggu. Itulah salah satu hal lucu tentang menikah. Faktanya memang menikah gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Begitulah. Disebut gampang ketika mulut manis dan penerimaan dalam hati untuk melaksanakannya lillah karena ibadah kepada Allah. Susah juga karena ternyata benar, kenaifan ini kadang tergadai oleh kerasnya dunia yang menuntut ini dan itu. Ternyata benar. Menikah adalah persatuan dua keluarga bukan hanya aku dan kamu. Agaknya ini sulit dipahami karena terkadang pemikiran tidak bisa seratus persen disamakan. Padahal, menjalankan rumah tangga adalah kerja sama antara aku dan kamu. Pelik ketika keluarga menjadi ujian pertama menuju pernikahan. Ji

Bersabarlah Sedikit Lagi

Sudah semakin berat rasanya ujian ini? Bersabarlah sedikit lagi karena itu berarti sebentar lagi akan segera selesai. Bersabarlah sedikit lagi. Hidup memang untuk diuji, begitu segelintir orang pesimis memandang hidup ini. Hidup untuk ibadah dan salah satunya dengan melewati ujian, begitu kata segelintir orang optimis memandang hidup. Lalu sisanya, hidup saja tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan kolot itu. Kalian termasuk bagian yang mana? Terkadang hidup aneh. Memang. Tapi di sanalah letak asiknya. Terkadang kita ingin bertarung. Atau lemah pada waktu bersamaan. Terkadang ingin menyerah. Atau mecoba sekali lagi sebagai pembuktian diri. Bisa jadi karena tidak ingin berhenti untuk tetap memilih melewati atau lari saja dari kenyataan. Bersabarlah sedikit lagi. Mungkin besok akan berubah lebih baik. Atau diri ini yang mulai terbiasa pada kondisi. Sedikit lagi saja. Bersabarlah diri. Jangan mengalah setelah semua yang terjadi. Bertahan agar Tuhan lebih peduli dan mengasihi. Ber

Vaksinasi

Masih hangat diperbincangkan, halal dan haram vaksinasi campak dan rubella beberapa waktu ini. Banyak isu berkembang lantaran vaksin MR diimpor dari India yang kurang terpercaya. Bahkan beberapa kejadian pasca pemberian vaksin memframingkan ketidakefektifan adanya vaksinasi. Tentu orang ahli dibidang kesehatan menyayangkan kurang adanya dukungan dari pihak yang menentang vaksinasi. Padahal, vaksinasi justru lebih banyak mendatangkan keuntungan sebagai awal pencegahan preventif. Terlebih, track record imunisasi sebagai pencegahan polio sudah berhasil membawa Indonesia sebagai negara bebas polio. Lantas, sebagai negara mayoritas muslim tentu saja halal dan haram menjadi momok penting disegala aspek. Termasuk pemberian vaksin ke dalam tubuh. Apakah yang disuntikan ke dalam tubuh terbuat dari bahan halal atau haram? Apakah yang disuntikan ke dalam tubuh melalui proses, penyimpanan dan pendistribusian yang halal atau haram? Penting sekali bagi umat muslim untuk beikhtiar mencari tau t

Izin Aku Menulis

Gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/ Perjalanan itu selalu membuatku ingin menulis. Lagi. Lagi dan lagi. Bertemu dengan orang lain selalu membuatku ingin menulis. Lagi. Lagi dan lagi. Melewati satu kondisi dan situasi selalu menuntunku untuk menulis. Lagi. Lagi dan lagi. Menunggumu di pojok ruang hati selalu mengingatkanku untuk menulis. Lagi. Lagi dan lagi. Ketika mengingat suatu pengalaman apapun itu, aku ingin menarik secarik kertas dan menulis. Ketika menentukan suatu pilihan sulit dan mudah selalu aku berharap tanganku sedang menggenggam pena. Ketika terlalu berat rasanya mengungkapkan apa yang dirasa selalu aku coba menarikan penaku di atas secarik lembar putih. Ketika lelah mengungkapkan sesuatu tetapi tidak juga dimengerti orang lain aku berharap beroleh waktu untuk menulis. Aku lepaskan penat, lelah, suka, cita, cinta, bahagia dan segala rasa yang aku punya pada kata. Kata yang diproduksi karena tidak semua orang ingin mendengar atau karena suara ini terlalu men

Siapa yang Selalu Dilukai?

Gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/ Umat Muslim. Dimanapun. Kapanpun. Siapapun. Apapun. Bagaimanapun. Ketika telah berikrar 'Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah' maka terjalinlah ikatan persaudaraan sesama muslim. Tidak terkecuali Rohingya. Ketika mereka seharusnya memperoleh perlindungan atas nama hak asasi manusia dalam beragama tapi justru dari saudara setanah air, mereka disiksa secara biadab. Pun ketika umat muslim mestinya menjadi umat terbaik untuk mengelola bumi tapi justru umat muslim yang paling sering dilukai, difitnah dan dizalimi. Ada apa? Karena risalah dan tauhid yang diembannya. Kebenaran dan kedamaian yang dibawanya. Cinta kasih yang tak pernah pamrih. Hati yang selalu tulus dan ikhlas. Dan, solidaritas menjadi manusia paling banyak memberikan manfaat. Begitulah umat muslim menjalankan kehidupan. Bukan dengan kekerasan menyelesaikan masalah. Bukan dengan aniaya menenggelamkan rasa kemanusiaan. Jika tak muslim bukan berarti tidak bisa b

Satu Tujuan dengan Banyak Jalan

Mungkin Tuhan ingin berbicara padaku melalui ucapan mereka. Setelah sekian kaliannya aku tidak tergugah. Kini, aku tahu aku harus kembali berjalan menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Semua itu hanya untuk suatu keyakinan pada Tuhan. Aku memang tidak pernah berminat lebih pada hal yang terlalu fanatik. Lantas aku tertampar pada sebuah pertanyaan lanjutan yang menanyakan apa aliran yang aku percaya. Setahuku agamaku adalah yang terbaik dengan 6 rukun imam dan 5 rukun islam. Aku berusaha menemukan-Nya secara sistematis dengan segala potensi sebagai manusia. Kemudian aku mulai mencari

Simpan Dalam

Simpanlah kisah sedih itu hanya untukmu karena tidak ada gunanya mengumbar kisah sedih yang justru tidak memberi manfaat apapun. Apa layak kisah sedih dijual dengan hadiah atau kebenaran? Kisah sedih tentang aib sendiri di masa lalu. Tidak. Jangan sampai. Simpan saja kisah sedihmu dalam-dalam. Sebagai pertanda bahwa kamu pernah hidup dalam dera nestapa. Bukan hanya gemintang keriangan. Atau tulislah agar menginspirasi. Karena yang akan membaca tentu mereka yang terpilih. Bebaskanlah kepedihan itu jika pilihan itu terbaik. Kembalikan pada sebuah penerimaan yang ketika disebut kesedihan itu maka yang terapalkan adalah syukur dan pujian. Berharap diperoleh lagi kemudahan setelahnya. Biarkan kesedihan itu pergi atau kubur bersama gundukan tanah pemakaman.

Penikmat Sejati

Bagiku penikmat sejati bukan dia yang paling pagi menyeruput kopinya dengan nikmat. Bukan juga pemilik warisan tujuh turunan. Apalagi penggagas narkotika di dunia. Bagiku penikmat sejati adalah dia yang tertawa saat sedih. Dia yang melayangkan senyum saat hatinya hancur. Dia yang menguatkan ketika dunia justru membuatnya rapuh. Dan, dia yang paling tegak berdiri ketika diterpa peliknya skenario takdir. Mungkin tidak ada atau entahlah aku tidak terlalu yakin pada keberadaannya. Namun, yang pasti aku tetap tidak mau menyerah untuk percaya adanya keajaiban. Aku tidak pernah berkeinginan meniupkan angin segar atau kebodohan sebuah pengharapan tetapi memilih mengikhlaskan dengan berpikir selalu pada hal terbaik yang telah, terjadi dan akan terjadi merupakan hal menggembirakan.

Yang Paling Adil

Tuhan itu adil. Adil banget. Tinggal kamunya, mau jadi bagian dari masalah atau solusi. Mau jadi baik atau jahat. Mau jadi kuat atau lemah. Mau terus-terusan sedih atau disenyumin saja. Terserah kamunya, mau diam atau bergerak. Mau berusaha atau pasrah. Mau lebih baik atau standar. Mau yang halal atau haram. Terserah kamunya. Itu free will yang dikasih Tuhan ke manusia. Free will itu mau kamu isi dengan apa? Menjadi bagian dari masalah atau solusi. Baik atau jahat. Kuat atau lemah. Sedih atau senyum. Diam atau gerak. Usaha atau pasrah. Baik atau standar. Halal atau haram. Bebas. Kalau gitu dimana fungsi Tuhan? Tentu saja menentukan dan menakdirkan. Ingat bahwa jodoh, rezeki, usia, semua sudah diatur-Nya. Pada hal-hal itu percayalah semuanya tentang perihal terbaik. Tidak perlu ragu apalagi hilang kepercayaan. Jika rasanya semua hal itu tidak baik. Kamu, aku, kita hanya belum paham skenario utuhnya. Iya, yang kita rasakan mungkin hanya sekeping saja. Atau beberapa saja. Belum pa

Yang Sampai Pada-Nya

Takbir masih menggema bertalu-talu. Belum ingin berhenti, mengingat matahari masih belum juga bersinar. Serombongan manusia tunduk berjalan, mulutnya komat-kamit berzikir. Tumben. Shalat Subuh berjamaah baru saja usai tetapi mesjid sudah tumpah ruah dengan warna putih. Memang belum hilang dalam ingatan peristiwa beberapa saat lalu. "Ayo Nak, Yah! Nanti kita tidak memperoleh tempat shalat. Lihat! Banyak orang sudah berjalan ke mesjid," seruku tak sabar. "Sebentar Mah, Dede lama nih!" Teriak Kaka dari kamarnya. Aku melangkah ke kamar untuk melihat apa yang sedang dilakukan suamiku. Dia masih sibuk mengancingkan baju koko putihnya. "Sini Mamah bantuin," kataku sambil mendekat. "Ayah takut Mah". "Mamah juga," sahutku sambil menguatkan diri. "Semoga Allah menjaga keluarga kita". "Aamiin ya rabbal'alamiin". "Maafin Ayah ya Mah! Jika hari ini adalah hari terakhir semoga kita termasuk yang diperh