Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Rongga Cinta

Cinta memang kadang sulit Mengucapkannya Mengungkapkannya Melenyapkannya Atau menguburnya saja Seperti pilihan yang tidak ingin kita pilih Semuanya sama Sama menyakitkannya Lalu sama kebagiaannya Karna cinta memang begitu Kembar berbeda watak Kadang mengharap yang dicinta Justru nyaman dengan yang mencinta Mengutuk bahwa cinta salah Tapi alpha Rasa belum bersahabat dengan logika Atau logika yang tidak ingin berkawan dengan rasa Sekelumit itu Menyadari peluh hilang Lantaran habis ditenggang pemabuk cinta Hingga senja tiba Pujangga cinta masih menanti Di koridor penuh batu nisan Tertelungkup dia Sadar cinta kalah oleh tanah basah berbau anyir Robek hatinya Gundukan itu menelan habis harap Cinta memang begitu adanya Menari pada setiap air mata Bisu dalam nanar pertanggungjawaban Katanya cinta baik hati Tapi lupa diri di jurang mati Sampai membusuk daging

Lentera Hitam

Malam ini tidak akan gelap. Setiap rumah telah memasang banyak lentera merah di pintu pagarnya. Rumahku juga sudah memasang tiga buah lentera merah cantik. "Nay, makanannya sudah siap. Ayo makan!" Suara Ibu memanggilku dengan nyaring. "Iyaaa..." jawabku sambil berlari menuju dapur. Rumahku yang sederhana telah dipenuhi aroma masakan ibu. Ibuku memang jagoan memasak. Masakannya selalu membuatku tak ingin berhenti sebelum benar-benar kenyang. "Ini. Ayo makan!" Aku duduk tepat di posisi makananku diletakan. Ibu duduk tepat dihadapanku. Iya, hanya ada kami berdua namun kami bahagia. Meskipun tetap saja rasanya tak lengkap. Sementara Ayah hanya sesekali makan bersama kami lantaran kesibukannya di kantor. "Ayah, gak pulang lagi Bu?" Aku tahu pertanyaan ini merusak suasana. Bodoh. Riak wajah Ibu seketika lusuh. Lalu aku hanya bisa mengutuk diri ketika hening menjadi raja di makan malam kami. Ayah memang jarang pulang. Sesekali pulangpun

Baiklah, Jika Hari Ini Tak Bisa Besok Kita Masih Punya Waktu!

"Salah satu poin dalam daftar impianku adalah bisa mendaki hingga puncak Mahameru bersamamu!" Kataku akhirnya. Sungguh, aku tak bisa lagi menahan amarah yang menderu dalam dada. Mantan pacar yang kini telah menjadi suamiku seminggu terakhir ini, benar-benar membuatku kecewa. Bagaimana bisa dalam seminggu kamu berubah? "Kamu berubah! Dalam waktu seminggu kamu jadi tak suka lagi mendaki? Bukannya gunung adalah jiwa yang lain?" "Iya, sebelum aku menemukan jiwa yang paling aku ingin miliki." Aku lempar tubuhku ke tempat tidur. Aku tutup rapat seluruh tubuhku dengan selimut. Sejurus kemudian aku rasakan belaian tanganmu di kepalaku. Aku tak ingin kalah. Tak ingin sebelum kamu bersedia membawaku ke puncak Mahameru. "Kenapa harus Mahameru? Banyak tempat lain yang jauh lebih indah. Mahameru itu bahaya. Aku gak mau terjadi apa-apa, sayang." "Kamukan sering ke sana. Apakah kamu tak bisa membawa istrimu ke sana?" Ucapku sengit. "