Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Pengecut Malam

    Malam itu sunyi sekali, aku bahkan hampir tidak mendengar satu pun suara nyamuk. Biasanya setiap malam suara dari segala penjuru saling bersahutan. Namun, malam itu tampak berbeda. Rasanya asing dan aneh. Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Melihat jam dinding dan merasa gelisah pada sesuatu. Sesuatu yang membuatku terjaga malam itu.     Ini tentang mimpi. Mimpi yang aku tidak ingin hanya menjadi sebuah mimpi. Makanya aku terjaga dan bergegas menuliskan kembali untaian mimpi itu sebagai doa dan rencana. Tentu saja harus dilaksanakan. Aku menulisnya. Meskipun tidak semua terekam jelas dalam kesadaranku. Sejauh yang aku ingat itu adalah mimpi yang indah. Sangat indah.     Saat itu, semangat sekali aku menulisnya. Sampai pada satu periode tertentu aku terhenti. Ini adalah bagian memilih untuk pergi dan tidak. Bingung. Sekejap aku tidak ingin meneruskannya. Jika tiba pada waktu itu apa yang harus aku pilih? Aku takut. Pilihan yang sulit. Akankah aku berani mengorbankannya? Aku tidak

Langit yang Biru

    Hari ini aku ingin sekali berkisah tentang langit yang biru. Aku kini memandangnya. Langit baik ya, selalu memberi ketenangan. Walaupun terkadang kamu marah dan menghitam pekat membuat kami takut. Namun, kamu tidak pernah mengkhianatiku untuk tersenyum setelah melihatmu. Hei langit, tetaplah biru!     Hari ini kisah langitku yang biru tidak mudah. Meskipun aku tau bukan kamu pelakunya, tapi tetap saja aku ingin mencari kambing hitam untuk semua kegelisahanku. Iya langit. Aku gelisah. Aku gelisah, ketika aku harus tersadar dan berpikir kalau waktu tidak akan lama lagi melihat indahnya birumu. Aku gelisah, ketika aku harus tersadar bahwa hanya aku yang akan kehilangan, dan kamu bahkan tidak akan pernah sadar ada aku yang selalu melihatmu.     Inikah bentuk keadilan?     Kamu tau pasti bahwa aku tidak pernah peduli dengan semua itu. Biarlah meski hanya aku yang akan kehilangan. Biarlah hanya aku yang akan mengingatmu dalam ingatanku. Lalu biarlah hanya aku yang akan merasakan perih

24 tahun 7 bulan

    Sudah bertambah lagi satu bulan. Rasanya waktu semakin cepat. Katanya salah satu tanda-tanda kiamat adalah waktu yang semakin cepat berlalu, mungkin kiamat kecil itu semakin dekat denganku. Entahlah, mungkin aku aneh, tapi aku selalu berpikir bahwa aku akan cepat meninggal. Namun, jika dipikirkan apakah aku sudah siap menghadapNya? Apakah bekalku sudah cukup? Kemudian aku menampik dan memikirkan bahwa aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkannya (Baca saja "menghibur diri").     Bertambah satu bulan lagi ya, semakin dekat menuju deadline hidupku. Huff....Tapi aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku. Pasti. Akan selalu seperti itu.     Berbicara deadline hidup. Kenyataannya impianku sangat sederhana, ingin bermanfaat untuk orang banyak. Hanya itu. Namun, beberapa memang harus dijabarkan lebih konkret seperti bagaimana proses hujan terjadi atau bagaimana pohon bisa merubah karbondioksida menjadi oksigen. Sederhana tapi akan banyak kekaguman di dalam

Biarlah Tuhan Memutuskannya

    Terkadang banyak hal yang kita ingin kan tetapi tidak tercapai. Bukan karena kebodohan atau kelalaian. Namun kepantasan dan kelayakan. Ingatkah kita bahwa semuanya tercatat dalam kitab Nya?     Uniknya kita tidak pernah tau apa yang tercatat disana. Tapi kita harus dituntut untuk percaya. Inilah kesempurnaan cinta yang sesungguhnya. Meyakini dan terus percaya saja. Cukup.     Pasti sering kali terjadi apa yang tidak kita harapkan malah diberikan Tuhan untuk kita. Bahkan itu menjadi bagian penting dalam hidup kita. Saat itu, bisa jadi kita tidak pernah mensyukuri apa yang sudah diberikan.     Kadang kala, kita juga pernah merasakan ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Padahal orang itu tidak menginginkan apa yang kita inginkan darinya. Aneh. Tapi itulah uniknya kehidupan ini.     Pernahkah terlintas dipikirkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah meminta untuk terakhir ke dunia ini, tapi kenapa Tuhan memberikan amanah dan tanggung jawab yang begitu besar pada kita? Bisak

Sebuah Sabar

    Ada nasihat yang menyatakan untuk sabar dan shalat. Terlihat mudah ya, tapi jika dikonsistenkan tidak akan semudah itu. Pernah dengar bahwa jarak kemenangan sangat mudah yaitu ketika jidat bertemu tempat sujud. Tapi tentu saja tidak akan semudah kelihatannya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering berpikir bahwa semua yang terlihat mudah pada akhirnya tidak akan pernah semudah itu. Itulah kenapa cover selalu hanya satu halaman sedangkan kisahnya bisa beratus-ratus halaman.     Lalu bagaimana dengan sebuah "sabar"? Dalam perjalanan hidup, kata ini sering kita dengar. Bahkan dalam hitungan menit mungkin saja bisa terus dilontarkan kepada kita. Apakah sabar itu semudah itu? Tentu saja tidak. Namun, aku pernah mendengar sebuah ceramah mengenai sabar. Intinya sabar itu hanya ada 2, yaitu sabar dalam beribadah dan sabar dalam menahan berbuat maksiat.     Pada kondisi apapun coba berusahalah untuk selalu mengelompokkan aktifitasmu dalam dua golongan itu, ibadah atau maksiat.

Muhasabah Diri

    Dua kata ini terlalu indah untuk diartikan. Muhasabah Diri. Cara inilah yang membuatmu terenyuh betapa kecilnya diri kita. Setelah semua hal yang kita usahakan, semua kelelahan hati yang tidak pernah berhenti berharap kepada manusia, dan semua kesombongan/keangkuhan yang sudah kita pamerkan kepada orang lain. Kini, lihatlah ke dalam dirimu, jujurlah kepada dirimu bahwa sebenarnya diri ini hanyalah ranting rapuh, sangat rapuh.     Muhasabah diri, akan selalu membuat kita bersyukur bahkan dalam nikmat kecil yang terus kita inkari, nikmat jantung kita yang masih mampu berdetak. Tahukah kalian sahabat, ketika seorang manusia mencapai kesempurnaan dalam bermuhasabah, maka tidak akan ada kesanggupan air mata yang tidak menetes. Percayalah ketika berada pada titik itu, keinginan terhadap dunia sudah tidak penting lagi.     Selebihnya aku juga tidak paham bagaimana harus mendeskripsikannya, aku pun belum sampai pada titik itu. Bagaimana aku berani menulis tentang ini, karena aku hanyalah

Kepribadian

    Mengulas sedikit tentang kepribadian rasanya tidak akan pernah habis. Aku sempat membaca sebuah artikel yang intinya menceritakan bahwa tidak ada seorang pun manusia yang murni dalam satu kepribadian dan kepribadian itu hanyalah sebuah kecenderungan. Kesempurnaan kepribadian memang tidak mudah ditemukan, karna pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu berinteraksi, menularkan dan ditularkan.     Aku pun cukup tertarik dengan hal ini. Menurutku kepribadian adalah karakter, senjata beradaptasi, dan tentu saja kunci menemukan pasangan. Pasangan di sini tidak hanya untuk urusan percintaan tapi terhadap segala sesuatu tentang suka dan tidak suka, gemar dan tidak gemar, ahli dan tidak ahli, atau menerima dan menolak. Iya terkadang tanpa sadar ada berbagai kejadian respon pikiran untuk menolak tanpa alasan dan hanya mengandalkan intuisi bisa jadi karena kepribadian. Menarik sekali.     Tuhan sangat indahkan membuat dunia ini? Bagaimana kamu memiliki karakter yang be