Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Aku Kembali

Sebuah bola melayang mengenai kepalaku. Aku terjaga. Mengusap bagian kepala yang terbentur. Seorang wanita muda bermata coklat besar menghampiriku. "Maafkan keponakan saya ya, Mas!" katanya sambil menarik bocah lelaki berusia lima tahun yang sedang memungut bola. "Ah... iya bukan masalah besar," jawabku sungkan. Sebenarnya aku ingin marah tapi mata coklat besarnya seperti menghipnotisku. Membuatku teringat pada kekasihku di kampung. Siti Aminah. Gadis polos itu selalu menungguku dengan setia. Padahal di kota aku sering main dengan wanita. Begitulah lelaki, bermain dengan wanita nakal untuk memuaskan nafsu dan hanya ingin kembali pulang pada wanita polos baik yang membuatnya tentram. Jangan merasa ini kejam dan tidak adil. Salah siapa kalian, para wanita, tidak bisa nakal dan polos dalam waktu bersamaan. Minimal kalian tahu kapan adrenalin kami, para pria, sedang terpacu. Seperti saat ini. "Hmm, hai boleh kenalan?" Aku sudah bangkit dan mendahul

1 Syawal 1439H

Hilalnya sudah berganti. Tidak lagi sama. Jauh dari serupa. Sebulan sudah. Apakah latihan ini bisa bertahan? Menghantarkan kita menjadi pribadi lebih tangguh satu bulan ke depan. Masih jelas, aku ingat setahun lalu aku bertekad berjuang pada apa yang kupercaya. Tidak mudah. Sungguh jauh dari mudah. Tapi Tuhan Mahabaik. Diberikan aku jalan terbaik. Tahun ini, entah apa yang sudah tertakdirkan untukku setahun ke depan. Apakah penuh bahagia atau perjuangan? Yang jelas, malam ini sedihku membuncah. Sudahkah aku menjamumu dengan jamuan terbaik? Sudahkah Engkau menyukai jamuanku? Aku berusaha dan semoga dikabulkan. Sebulan tidak terasa. Ada banyak nikmat yang belum pernah aku rasa sebelumnya. Aku tahu sudah sejauh ini Engkau menuntunku menapaki jalan kehidupanku. Semua penuh dengan hal luar biasa. Semoga aku termasuk sedikit golongan yang pandai bersyukur. Lalu mendapatkanmu kembali bersama orang-orang yang kusayangi. Menjamumu lagi dengan lebih baik. Tetesan hangat meleleh dari

Maka, Islam Itu yang Mana?

Resah aku tatkala seorang teman berkata, "Apa aliran Islammu?" Setahuku Islam hanya ada satu, yaitu Islam. Lalu aliran yang banyak diperbincangkan itu hanyalah sudut pandang terhadapnya. Jika gajah itu besar ketika kita melihatnya terlalu dekat maka kita juga bisa melihatnya kecil ketika terlalu jauh. Lalu apakah itu salah? Tetap saja kita memandang gajah. Selama tetap gajah dari manapun melihat tetaplah gajah. Hanya gajah. Seperti itulah hemat pikirku. Kemudian ketika masing-masing sudut pandang merasa menjadi yang paling benar, siapa yang berani bertanggung jawab? Bahkan prediksi itu sudah ada sekian abad yang lalu. Tentang perbedaan. Tentang sudut pandang. Lantas ketika ditanya, "Apa aliran Islammu?" Mestinya itu merupakan cara menginstropeksi diri. Apakah sudah termasuk ke dalam satu yang terbaik yang janjikan? Maka bacalah dengan menyebut nama Rabb dan Rasul tentang Alquran dan Assunnah. Maka, Islam itu yang mana?