Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Memetik Senyummu

Pongah. Malam itu bintang sangat dekat dengan langit. Meskipun bulan masih jadi terang yang paling sendu. Tetap gelap menjadi juara satu. "Mah, mungkin cinta kita tidak bisa seperti cinta anak gedongan. Walaupun begitu kamu tahu aku rela memberi seluruh nafas ini." Danto sudah tidak ingin bungkam lagi pada cintanya. Berbulan memendam rasa, kini dia tidak ingin lagi tersiksa. Biar saja malam marah karena pujangga cintanya memilih manusia. Wanita di hadapannya diam seribu bahasa. Entah takut atau malu pada pemilik pertigaan penghubung desa, kota dan rumahnya. Yang jelas, wanita ini sedang berpikir sebab akibat dari tindakan yang akan diambilnya. "Kamu paling tahu bagaimana aku mengejar cintamu. Pertigaan ini bahkan menjadi saksi, Mah. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Katakan apa pendapatmu?" "Pertigaan ini milikmu maka tanamlah apapun di sini." "Maksudmu?" "Petik senyumku. Jika kamu berhasil maka Tuhan pun tidak punya kuas

Kolot, Cuma Mencoba Taat

"Beb, aku nggak bisa nih kayak gini lagi. Aku nggak tega tambahin dosa kamu. Aku juga nggak kuat kalau terus ngelakuin dosa. Apalagi dosa aku sudah banyak. Kita putus saja ya!" "Loh, kok gitu? Kamu sudah nggak sayang aku lagi? Lagipula aku kan janji akan nikahin kamu." "Bukannya nggak sayang. Dalam Islam itu tidak pernah ada pacaran. Salah aku sih karena nggak mau mengkaji Islam lebih dalam. Sudah jelas-jelas Allah melarang demi kebaikan." "Tahu dari mana Allah melarang. Emang kamu bisa bicara sama Allah?" "Semuanya ada di manual book kita. Kamu punya banyak di rumah dan bisa dibaca kapan saja. Itu Alquran." "Ooh... iya aku tahu. Dilarang mendekati zina kan?" "Lah, itu kamu tahu!" "Ya tapi aku mau serius sama kamu. Kita juga lagi proses ke sana. Kamu kan tahu aku juga kerja keras buat apa." "Kalau gitu, kamu berhubungannya sama orang tua aku saja gimana? Jadi nanti chat-nya sama orang t

Light Upon Light

Gambar
https://noorculturalcentre.ca/ Cahaya di atas cahaya. Cahaya berlapis. Aku rindu malam itu. Malam di mana aku melihat begitu banyak bintang. Malam ketika cahaya bintang seperti tidak tertutup. Malam saat untuk pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Hatiku remuk redam saat itu. Aku hanya ingin pergi jauh. Ke tempat yang tinggi. Tempat aku bisa dipeluk Tuhan lebih dekat. "Aku ingin berdoa lebih dekat. Biar Tuhan dengar semua doaku," pikirku saat itu. Aku kemasi barang-barang. Beberapa hari menghilang dari kantor sepertinya bukan masalah. Lagi pula aku sudah bekerja cukup keras beberapa minggu terakhir. Beberapa hari meminta izin berlibur dari rumah juga harusnya tidak jadi masalah. Aku sudah lama tidak berlibur. Beruntung aku tidak benar-benar sendiri. Ada teman terbaikku saat itu. Aku yakin bahwa keberadaannya juga atas kiriman dari Tuhan yang tidak ingin aku sendiri. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung dengan tas carrier besar. Hah, bodoh! Sud

Mengajarkan Tanggung Jawab

"Mak, anak saya tuh sudah besar, sudah kuliah, tapi bantuin Mamaknya saja tidak ada. Sibuk dengan gadget, kuliah dan teman-temannya, Mak." "Kalau sudah besar seperti itu memang susah ya, Mak. Itulah hasil yang Mamak tuai setelah menanamnya saat kecil dulu. Maaf ya, Mak. Kalau sudah begitu hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga ada hidayah dan coba diajak ngobrol pelan-pelan, Mak." Percakapan singkat itu aku dengar dari siaran radio mobilku. Malam ini lengang. Aku mengemudi mobil dengan santai. Aku jadi ingat pernah melihat kondisi serupa dalam kehidupan nyata. Kondisi tersebut sebenarnya sangat sederhana tentang bagaimana mengajarkan tanggung jawab. Mengajarkan tanggung jawab tidaklah mudah. Apalagi tanggung jawab tidak selalu terkait dengan balasan di saat yang sama. Tanggung jawab seringkali tidak pernah terikat dengan hak sehingga jika tidak menguntungkan akan sulit juga diterapkan. Pertanyaan sederhana yang selalu muncul yaitu kapan waktu yang tepat mengaja

Jangan Jadi Manusia Gagal Paham

Kita memang sering gagal paham. Lihat rumput sebelah lebih hijau. Jadi mau. Lihat tetangga punya rumah baru. Jadi iri. Lihat saudara kandung berprestasi. Jadi kalang kabut. Kita memang sering jadi manusia gagal paham. Pesona, branding diri, kesuksesan dan semua yang hanya terlihat oleh mata tampak sempurna. Padahal tahukah, bahwa Allah juga telah menyebutkan bahwa penglihatan manusia itupun dalam keadaan payah. Catat payah! Maka jangan jadi manusia gagal paham. Apalagi ketika dalam kondisi terdesak. Rasanya perasaan jadi dewa. Lalu lupa pada kodrat takdir. Ingat bahwa Allah menjamin rezeki bagi setiap yang bernyawa. Dan bahwa tidak ada yang lebih mengerikan dari sifat hasad. Ada proses yang harus dilalui. Perhatikan bahwa tidak ada yang singkat dalam perjalanannya. Terlebih saat memutuskan memulai sebuah usaha. Bisnis itu hanya salah satu wasilah kebaikan. Jika tidak didapatkan dengan cara yang baik maka habislah dia sebagai wasilah kebaikan. Bahkan terkadang, kita juga ikut