Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Rasa yang Tidak Perlu

Pekat itu tidak pernah nyata Dia hanya ada ketika cahaya tidak terasa Pekat.. Bolehkah pergi sekarang? Pahit ini hadir dengan segala takdir Saat sesuatu kehilangan kadar manis Pahit.. Bisakah hilang segera? Sedih mengikat murung dalam wajah Melenyapkan bentangan bahagia Sedih.. Dapatkah berpindah sejauh pandang?

Seperangkat Sabar

Sabar itu berat! Lebih berat dari rindu Dilan kepada Milea, bahkan bisa jutaan kali lipatnya. Pembelajarannya lama tapi ujiannya setiap saat. Makanya hadiah sabar adalah surga. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’alana berikut. “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.” (QS Al-Furqan:75). Bagiku, sabar menjelma dalam sosok orang tau. Segala tingkah laku dan tumbuh kembang kita tidak lantas membuat mereka marah atau membenci kita. Sabar, begitulah katanya. Lalu dengan sabarnya selalu memaafkan kita dan mendatangkan kesempatan baru lagi ini. Sementara arti sabar untukku, yaitu ikhlas membiarkan cemooh orang-orang datang karena ketidakjelasan pekerjaanku atau menahan dalam penantian dipertemukan dengan pasangan hidupku. Sabar. Setiap kali hati ini berontak, kata ajaib itu tidak pernah absen terucap. Begitulah rupanya Allah menghadirkan masalah untuk membuat kita kuat dan menguji seberapa sabar kokohnya hati ini tetap berik

Pahlawan Keluargaku

Jika Ibu memberikan kecerdasan untukku maka Ayah pastilah yang menurunkan akhlak ini. Teladan baik darinya. Tentang bagaimana menjadi wanita yang sederhana, bersahaja dan ramah tetapi tidak murahan. Tentang bagaimana menjaga kehormatan keluarga ketika berada di luar rumah dan di lingkungan masyarakat. Dan, tentang bagaimana meletakan dunia dalam genggaman tangan bukan di dalam hati. Iya. Ayahku adalah pahlawanku. Pahlawan keluargaku. Mungkin hanya kata-kata itu yang terpatri dalam dadaku kini. Aah... aku bisa apa jika ternyata sosok yang aku kagumi ini ternyata seorang pengkhianat besar. "Ayah akan segera kembali. Janji!" Pesannya malam itu. Tepat ketika genap delapan tahun sosoknya kembali dengan tubuh yang kaku. "Ayaah.. sosokmu memang kembali tetapi Ayah tidak berjanji untuk kembali dalam keadaan mati," rengekku di samping tubuhnya. Setelah delapan tahun aku menanti. Setiap waktu tidak henti banyak doa kupanjatkan untuk keselamatannya. Aku sungguh berha

Stop Tanya Kapan! Kalau Ternyata Kamu Meminang Wanita Lain

Malam itu sungguh aku merasa semakin bersalah. Pesan singkatmu lagi-lagi menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Apalagi yang harus aku katakan padamu. Jika aku ungkapkan isi hati bahwa aku tidak seyakin itu denganmu maka aku takut kamu berhenti dan akan pergi. Lalu aku melewatkan lelaki baik sebagai pendamping hidup. Meskipun aku memang bersalah dengan menunda-nunda memberikan jawaban. Namun, wanita memang begitu, terlalu rumit! Berharap kamu mengerti isi hati walaupun aku tidak pernah sukses mengungkapkannya. Seperti aku tidak ingin kamu pergi tetapi aku tidak ingin juga kamu selalu menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Mungkin aku hanya takut. Entahlah aku tidak pernah memiliki jawaban untuk itu. Sekali lagi aku bersalah. Iya aku mengakuinya. Kamu sudah sangat jelas mengungkapkan bahwa kamu lelah menjalani setiap hari dalam kesendirian. Kamu memiliki segalanya dan bisa melakukan apa saja untuk membunuh kesendirian itu, kataku berdalih di satu kesempatan