Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Imajinasi Pasal Santet

Imajinasi para petinggi negeri ini memang luar biasa. Entah harus jempol siapa lagi yang perlu saya pinjam. Padahal pimpinan negerinya sudah bahas unicorn tingkat tinggi, lah mereka masih saja bahas santet. Otak mana otak? Ya harap maklum saja, ibarat pepatah gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak. Manusia memang suka begitu. Lupa pada hal besar di depan mata. Padahal, bukankah lebih baik menyelesaikan kahutla yang selalu berulang setiap tahun yang justru semakin parah? Bukankah lebih baik menuntaskan pengelolaan BPJS/KIS yang kian hari kian defisit? Bukankah lebih baik menjadi bagian yang hadir untuk kepentingan rakyat? Mungkin benar bahwa kalian lemah terhadap kekuasaan. Duhai manusia!

REVIEW BUKU HITAM PUTIH CINTA REMAJA

Gambar
Photo by Suzuhiinada Judul buku       : Hitam Putih Cinta Remaja Penulis              : Deejay Supriyanto Penerbit            : Delta Media Cetakan/hal      : 2013/180 halaman             Buku Hitam Putih Cinta Remaja merupakan karya solo pertama dari seorang Deejay Supriyanto. Awalnya, penulisan buku ini tidak sengaja diniatkan untuk terbit. Namun, pembahasan menarik dan pesan positif yang sesuai dengan kondisi cinta remaja sekarang, buku ini mendapat kehormatan untuk diterbitkan. Bahkan dijadikan referensi bacaan yang cukup bagus untuk diskusi di kalangan remaja, orang tua dan guru.             Dunia remaja adalah dunia yang paling unik, di mana usia ini memasuki fase perubahan yang paling sangat menentukan bagi setiap para pelakunya. Kenapa remaja dibilang unik? Ya, remaja pada masa ini adalah sebagai bentuk pencarian jati diri, pencarian, idola dan mempunyai hasrat ingin tahu yang sangat besar terhadap sesuatu. Untuk itulah, buku ini hadir dengan maksud menceritak

Pindahkan Saja Ibu Kota Negara Indonesia!

Saat melihat penyelenggaraan 1 Muharram 1441 Hijriah semalam, diam-diam saya mengaamiinkan pemindahan ibu kota negara Indonesia. "Jakarta tidak akan kehilangan apapun saat ibu kota negara pergi." Kemeriahan acara semalam dan tumpah ruahnya masyarakat, entah kenapa membuat saya yakin. Jajaran pemerintah kota ini akan semakin baik tanpa adanya jajaran pemerintah pusat. Toh Jakarta akan tetap istimewa di hati masyarakat karena pemerintahnya tahu cara menyejahterakan. Pemerintahnya paham betul makna dari sebuah kata 'pembangunan'. Lihat saja keistimewaan Yogyakarta saat ini. Jakarta juga berpotensi seperti itu. Jakarta juga akan menjadi kota yang lebih berkah. Tentu saja pemindahan ibu kota negara secara otomatis memindahkan juga banyak transaksi tidak halal. Bukankah perbuatan tidak halal itu berpengaruh terhadap keberkahan suatu tempat? Biarkan saja ibu kota negara pergi! Karena Monas tetap akan menjadi monumen peradaban dan akal sehat. Bundaran HI tetap akan

Hilangnya Sebuah Adab

Bukankah bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang penuh dengan adab sopan santun? Bukankah negara ini dikenal dengan rakyatnya yang saling mengasihi, gotong royong dan berjiwa kesatria? Tapi rasanya semua hilang, entah karena apa. Kita seharusnya ingat betul, salah satu pelajaran penting menjadi seorang manusia, yaitu diam saat orang lain berbicara. Tidak hanya diam tapi juga mendengarkan dan menyimak. Mungkin kita tidak sependapat atau sepaham dengan apa yang diucapkan tetapi tetap diam, mendengar dan menyimak adalah bukti bahwa kita sedang memberi sebuah penghormatan. Penghormatan yang kita juga ingin orang lain lakukan pada kita. Masih bisakah kita diam ketika orang lain berbicara? Tanpa tertawa, masih bisakah? Kalau begitu 'Jangan tertawa!'