Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Sayap Kupu-Kupu

"Kak, adek gak mau ninggalin Kaka!" Senyumku mengembang sekaligus memperlihatkan barisan gigiku yang tidak rapih. "Kaka juga gak mau ninggalin Adek. Eh tapi Adek suka nakal sih! Kaka males jadinya." Untuk mendengar kalimat itu, aku harus rela kehilangan senyumku. Aku tidak nakal. Sungguh. Aku hanya ingin mengambil perhatian Kaka. Karena Kaka yang sudah semakin besar lebih sering pergi sendiri dengan teman-temannya. Lalu aku tidak lagi mempunyai teman bermain. "Hei..malah bengong. Ini handphone Mama, Adek saja yang main, Kaka mau main di luar." "Kaka...Adek ikuut..." "Gak ah! Adek di rumah aja." Prrkk! Pintu ditutup. Ruangan ini seketika sepi. Padahal, TV masih menyala. Mempertunjukan tingkah anak laki-laki kembar dari negeri tetangga. Dulu, aku dan Kaka sering menontonnya. Namun, sekarang hanya ada aku. Sendiri. Papa dan Mamaku bekerja dari pagi hingga sore. Aku akan benar-benar merasa memiliki keluarga di malam hari. I

Sesal Menyesal

Bagaimanapun, menyaksikan seseorang pergi memilih jalan yang diyakini salah, tetaplah menyakitkan. Meskipun jauh di lubuk hati, begitu menyayangkan. Bahkan ikut menyalahkan diri. Namun, dalam logika tidak ada yang patut disalahkan. Tiap-tiap kita wajib bertanggung jawab atas diri sendiri. Termasuk lebih baik dan lebih berilmu. Aku sadar, tidak ada yang paling mungkin yang bisa dilakukan karena hakikatnya tidak ada yang salah dari pernyataan membela diri. Apalagi meminta keadilan. Bahwa dalamnya hati tidak bisa diprediksi. Dalamnya kalbu tidak patut dihakimi. Aku tidak akan memintamu kembali. Aku hanya berharap kamu segera pulang. Segera ikut antrean masuk dengan sabar. Yakin Tuhan dengar dan selalu melihat. Tatkala, semua tidak lagi sesuai harapan. Tuhan justru memanggil untuk lebih dekat kepadaNya.