Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Muda Juga Tidak Menjamin

Suatu ketika aku duduk dalam acara seminar pengembangan diri. Aku sengaja memilih bangku di tengah-tengah ruangan. Hematku, bangku di tengah ruangan seperti poros dari jalannya seminar. Antara suasana dan kondisi pemateri dan peserta. Rupanya muda juga tidak menjamin. Begitu kira-kira inti dari isi seminar. Muda juga tidak menjamin? Memang iya. Bukankah kita juga sering mendengar tidak banyak yang bisa dipetik dari pemuda. Cap pemuda memang mengerikan. Misalnya tidak banyak pengalaman, belum mahir mengelola insting dan risiko. Padahal, tuntutan sebagai pemuda begitu besar. Tidak heran jika banyak pemuda yang pada akhirnya memilih kalah pada dunia. Sebenarnya, menjadi pemuda adalah spesial. Tekad dan semangat besar harus selalu jadi pegangan. Tentu saja tidak ada yang mudah. Meskipun tidak juga terlalu sulit. Hanya saja, pemuda memang dituntut untuk selalu mau belajar dan bekerja keras. Bukan apa-apa. Pemuda biasanya tidak sabaran untuk sukses. Bahkan sering kali cepat menyerah

Pencari Kasih

Gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com Mari kita menaikan sebuah standar keromantisan. Jika seringkali senja dikaitkan dengan romantis maka mega merupakan yang paling romantis. Bukankah semburat jingga mega lebih indah dan mengagumkan? Lantas melihat mega seperti memberi dorongan pada jiwa dan raga untuk hidup kembali dan semangat lagi mengawal hari. Ya, seperti hari ini. Aku melihat mega itu. Katamu, "Tataplah meskipun sinarnya menyilaukan. Di sanalah sensasi kenikmatannya berasal." Aku hanya terdiam. Aku tahu kamu selalu memiliki cara unik menjadi bahagia. Aku suka itu. Sejak dulu. Entah bagaimana, jantungku tidak pernah bisa berhenti melihat wajah tampanmu diterpa kilau mega itu. Aku gugup. Sungguh. "Hei!" tegurmu ketika aku hanya menatap kosong wajah di hadapanku. "Tidak perlu terpesona seperti itu. Aku tahu bahwa aku sangat tampan. Namun, aku juga tahu bahwa aku akan mati tidak lama lagi." Terkutuklah kata 'mati' itu! Ak

Memetik Senyummu

Pongah. Malam itu bintang sangat dekat dengan langit. Meskipun bulan masih jadi terang yang paling sendu. Tetap gelap menjadi juara satu. "Mah, mungkin cinta kita tidak bisa seperti cinta anak gedongan. Walaupun begitu kamu tahu aku rela memberi seluruh nafas ini." Danto sudah tidak ingin bungkam lagi pada cintanya. Berbulan memendam rasa, kini dia tidak ingin lagi tersiksa. Biar saja malam marah karena pujangga cintanya memilih manusia. Wanita di hadapannya diam seribu bahasa. Entah takut atau malu pada pemilik pertigaan penghubung desa, kota dan rumahnya. Yang jelas, wanita ini sedang berpikir sebab akibat dari tindakan yang akan diambilnya. "Kamu paling tahu bagaimana aku mengejar cintamu. Pertigaan ini bahkan menjadi saksi, Mah. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Katakan apa pendapatmu?" "Pertigaan ini milikmu maka tanamlah apapun di sini." "Maksudmu?" "Petik senyumku. Jika kamu berhasil maka Tuhan pun tidak punya kuas

Kolot, Cuma Mencoba Taat

"Beb, aku nggak bisa nih kayak gini lagi. Aku nggak tega tambahin dosa kamu. Aku juga nggak kuat kalau terus ngelakuin dosa. Apalagi dosa aku sudah banyak. Kita putus saja ya!" "Loh, kok gitu? Kamu sudah nggak sayang aku lagi? Lagipula aku kan janji akan nikahin kamu." "Bukannya nggak sayang. Dalam Islam itu tidak pernah ada pacaran. Salah aku sih karena nggak mau mengkaji Islam lebih dalam. Sudah jelas-jelas Allah melarang demi kebaikan." "Tahu dari mana Allah melarang. Emang kamu bisa bicara sama Allah?" "Semuanya ada di manual book kita. Kamu punya banyak di rumah dan bisa dibaca kapan saja. Itu Alquran." "Ooh... iya aku tahu. Dilarang mendekati zina kan?" "Lah, itu kamu tahu!" "Ya tapi aku mau serius sama kamu. Kita juga lagi proses ke sana. Kamu kan tahu aku juga kerja keras buat apa." "Kalau gitu, kamu berhubungannya sama orang tua aku saja gimana? Jadi nanti chat-nya sama orang t

Light Upon Light

Gambar
https://noorculturalcentre.ca/ Cahaya di atas cahaya. Cahaya berlapis. Aku rindu malam itu. Malam di mana aku melihat begitu banyak bintang. Malam ketika cahaya bintang seperti tidak tertutup. Malam saat untuk pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Hatiku remuk redam saat itu. Aku hanya ingin pergi jauh. Ke tempat yang tinggi. Tempat aku bisa dipeluk Tuhan lebih dekat. "Aku ingin berdoa lebih dekat. Biar Tuhan dengar semua doaku," pikirku saat itu. Aku kemasi barang-barang. Beberapa hari menghilang dari kantor sepertinya bukan masalah. Lagi pula aku sudah bekerja cukup keras beberapa minggu terakhir. Beberapa hari meminta izin berlibur dari rumah juga harusnya tidak jadi masalah. Aku sudah lama tidak berlibur. Beruntung aku tidak benar-benar sendiri. Ada teman terbaikku saat itu. Aku yakin bahwa keberadaannya juga atas kiriman dari Tuhan yang tidak ingin aku sendiri. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung dengan tas carrier besar. Hah, bodoh! Sud

Mengajarkan Tanggung Jawab

"Mak, anak saya tuh sudah besar, sudah kuliah, tapi bantuin Mamaknya saja tidak ada. Sibuk dengan gadget, kuliah dan teman-temannya, Mak." "Kalau sudah besar seperti itu memang susah ya, Mak. Itulah hasil yang Mamak tuai setelah menanamnya saat kecil dulu. Maaf ya, Mak. Kalau sudah begitu hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga ada hidayah dan coba diajak ngobrol pelan-pelan, Mak." Percakapan singkat itu aku dengar dari siaran radio mobilku. Malam ini lengang. Aku mengemudi mobil dengan santai. Aku jadi ingat pernah melihat kondisi serupa dalam kehidupan nyata. Kondisi tersebut sebenarnya sangat sederhana tentang bagaimana mengajarkan tanggung jawab. Mengajarkan tanggung jawab tidaklah mudah. Apalagi tanggung jawab tidak selalu terkait dengan balasan di saat yang sama. Tanggung jawab seringkali tidak pernah terikat dengan hak sehingga jika tidak menguntungkan akan sulit juga diterapkan. Pertanyaan sederhana yang selalu muncul yaitu kapan waktu yang tepat mengaja

Jangan Jadi Manusia Gagal Paham

Kita memang sering gagal paham. Lihat rumput sebelah lebih hijau. Jadi mau. Lihat tetangga punya rumah baru. Jadi iri. Lihat saudara kandung berprestasi. Jadi kalang kabut. Kita memang sering jadi manusia gagal paham. Pesona, branding diri, kesuksesan dan semua yang hanya terlihat oleh mata tampak sempurna. Padahal tahukah, bahwa Allah juga telah menyebutkan bahwa penglihatan manusia itupun dalam keadaan payah. Catat payah! Maka jangan jadi manusia gagal paham. Apalagi ketika dalam kondisi terdesak. Rasanya perasaan jadi dewa. Lalu lupa pada kodrat takdir. Ingat bahwa Allah menjamin rezeki bagi setiap yang bernyawa. Dan bahwa tidak ada yang lebih mengerikan dari sifat hasad. Ada proses yang harus dilalui. Perhatikan bahwa tidak ada yang singkat dalam perjalanannya. Terlebih saat memutuskan memulai sebuah usaha. Bisnis itu hanya salah satu wasilah kebaikan. Jika tidak didapatkan dengan cara yang baik maka habislah dia sebagai wasilah kebaikan. Bahkan terkadang, kita juga ikut

Ketika Kuputuskan Memindahkan Cara Menggapai Rezeki-Mu

Sejak 4 bulan di dalam kandungan, ketika ruh ditiupkan pada gumpalan daging yang tidak bernyawa, ketika itu disempurnakan juga 3 perkara dalam hidup seorang manusia, yaitu mati, jodoh dan rezeki. Lalu bagiku, tepat setahun yang lalu, ketika kuputuskan memindahkan cara menggapai rezeki-Mu, kini aku bangga melihat diriku sendiri. Memang masih jauh dari kesuksesan tapi rupanya ada yang lebih nikmat dari itu. Iya, hal itu adalah sebuah proses. Pagi ini, senyumku agak sumringah. Layar pengingat di ponsel pintarku menampilkan tulisan 'Hari Terakhir'. Cukup mengerikan jika tidak melihat secara utuh isi pengingatnya. Ternyata tepat setahun yang lalu aku memilih salah satu keputusan hebat untuk menjalani hidup ini. Resign. Aku mantap untuk keluar dari kantor lamaku bukan karena salary yang ditawarkan sedikit. Bukan juga karena tekanan pekerjaan yang tinggi seperti bekerja bagai kuda. Bahkan kantor lamaku bisa dijangkau hanya sekitar 15-20 menit dari rumah. Hei! Untuk kota urban sepe

Saat Kami Harus Kembali PadaMu

Setiap jiwa selalu mutlak menjadi hak-Nya. Siapa yang bisa menghadirkan cinta, benci dan amarah? Jiwa hanya bisa selalu meminta untuk terus didekatkan pada Rabb-Nya. Ketika perilaku dosa dilakukan, hanya ada satu cerminnya. Hati. Hati tidak pernah berdusta apalagi berikrar menuhankan yang lainnya. Hati bisa jadi tertutup oleh dosa dalam perjalanannya. Siapa penyebabnya? Saat bencana dikata sebagai sistem alam yang bisa menimpa siapa saja, lalu dimana kepingan doa itu bermuara? Salam terkasih untuk kalian yang sedang diuji. Kalian yang sedang diperingatkan. Dan, kalian yang sedang mencoba bangkit kembali dalam ketaatan. Inilah kami, Tuhan! Hamba lemah yang dengan sedikit guncangan langsung porak-poranda semuanya. Semua harta yang kami kumpulkan bertahun-tahun lamanya. Semua kekuasaan yang kami agungkan di mata manusia. Tuhan, maaf! Kami lupa mengingatmu. Kami sibuk bahwa kami kuasa atas hidup kami. Kami sibuk bekerja dan hidup agar bahagia dan sejahtera. Lalu kami lupa ingatan b

Rasa yang Tidak Perlu

Pekat itu tidak pernah nyata Dia hanya ada ketika cahaya tidak terasa Pekat.. Bolehkah pergi sekarang? Pahit ini hadir dengan segala takdir Saat sesuatu kehilangan kadar manis Pahit.. Bisakah hilang segera? Sedih mengikat murung dalam wajah Melenyapkan bentangan bahagia Sedih.. Dapatkah berpindah sejauh pandang?

Seperangkat Sabar

Sabar itu berat! Lebih berat dari rindu Dilan kepada Milea, bahkan bisa jutaan kali lipatnya. Pembelajarannya lama tapi ujiannya setiap saat. Makanya hadiah sabar adalah surga. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’alana berikut. “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.” (QS Al-Furqan:75). Bagiku, sabar menjelma dalam sosok orang tau. Segala tingkah laku dan tumbuh kembang kita tidak lantas membuat mereka marah atau membenci kita. Sabar, begitulah katanya. Lalu dengan sabarnya selalu memaafkan kita dan mendatangkan kesempatan baru lagi ini. Sementara arti sabar untukku, yaitu ikhlas membiarkan cemooh orang-orang datang karena ketidakjelasan pekerjaanku atau menahan dalam penantian dipertemukan dengan pasangan hidupku. Sabar. Setiap kali hati ini berontak, kata ajaib itu tidak pernah absen terucap. Begitulah rupanya Allah menghadirkan masalah untuk membuat kita kuat dan menguji seberapa sabar kokohnya hati ini tetap berik

Pahlawan Keluargaku

Jika Ibu memberikan kecerdasan untukku maka Ayah pastilah yang menurunkan akhlak ini. Teladan baik darinya. Tentang bagaimana menjadi wanita yang sederhana, bersahaja dan ramah tetapi tidak murahan. Tentang bagaimana menjaga kehormatan keluarga ketika berada di luar rumah dan di lingkungan masyarakat. Dan, tentang bagaimana meletakan dunia dalam genggaman tangan bukan di dalam hati. Iya. Ayahku adalah pahlawanku. Pahlawan keluargaku. Mungkin hanya kata-kata itu yang terpatri dalam dadaku kini. Aah... aku bisa apa jika ternyata sosok yang aku kagumi ini ternyata seorang pengkhianat besar. "Ayah akan segera kembali. Janji!" Pesannya malam itu. Tepat ketika genap delapan tahun sosoknya kembali dengan tubuh yang kaku. "Ayaah.. sosokmu memang kembali tetapi Ayah tidak berjanji untuk kembali dalam keadaan mati," rengekku di samping tubuhnya. Setelah delapan tahun aku menanti. Setiap waktu tidak henti banyak doa kupanjatkan untuk keselamatannya. Aku sungguh berha

Stop Tanya Kapan! Kalau Ternyata Kamu Meminang Wanita Lain

Malam itu sungguh aku merasa semakin bersalah. Pesan singkatmu lagi-lagi menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Apalagi yang harus aku katakan padamu. Jika aku ungkapkan isi hati bahwa aku tidak seyakin itu denganmu maka aku takut kamu berhenti dan akan pergi. Lalu aku melewatkan lelaki baik sebagai pendamping hidup. Meskipun aku memang bersalah dengan menunda-nunda memberikan jawaban. Namun, wanita memang begitu, terlalu rumit! Berharap kamu mengerti isi hati walaupun aku tidak pernah sukses mengungkapkannya. Seperti aku tidak ingin kamu pergi tetapi aku tidak ingin juga kamu selalu menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Mungkin aku hanya takut. Entahlah aku tidak pernah memiliki jawaban untuk itu. Sekali lagi aku bersalah. Iya aku mengakuinya. Kamu sudah sangat jelas mengungkapkan bahwa kamu lelah menjalani setiap hari dalam kesendirian. Kamu memiliki segalanya dan bisa melakukan apa saja untuk membunuh kesendirian itu, kataku berdalih di satu kesempatan

Aku Kembali

Sebuah bola melayang mengenai kepalaku. Aku terjaga. Mengusap bagian kepala yang terbentur. Seorang wanita muda bermata coklat besar menghampiriku. "Maafkan keponakan saya ya, Mas!" katanya sambil menarik bocah lelaki berusia lima tahun yang sedang memungut bola. "Ah... iya bukan masalah besar," jawabku sungkan. Sebenarnya aku ingin marah tapi mata coklat besarnya seperti menghipnotisku. Membuatku teringat pada kekasihku di kampung. Siti Aminah. Gadis polos itu selalu menungguku dengan setia. Padahal di kota aku sering main dengan wanita. Begitulah lelaki, bermain dengan wanita nakal untuk memuaskan nafsu dan hanya ingin kembali pulang pada wanita polos baik yang membuatnya tentram. Jangan merasa ini kejam dan tidak adil. Salah siapa kalian, para wanita, tidak bisa nakal dan polos dalam waktu bersamaan. Minimal kalian tahu kapan adrenalin kami, para pria, sedang terpacu. Seperti saat ini. "Hmm, hai boleh kenalan?" Aku sudah bangkit dan mendahul

1 Syawal 1439H

Hilalnya sudah berganti. Tidak lagi sama. Jauh dari serupa. Sebulan sudah. Apakah latihan ini bisa bertahan? Menghantarkan kita menjadi pribadi lebih tangguh satu bulan ke depan. Masih jelas, aku ingat setahun lalu aku bertekad berjuang pada apa yang kupercaya. Tidak mudah. Sungguh jauh dari mudah. Tapi Tuhan Mahabaik. Diberikan aku jalan terbaik. Tahun ini, entah apa yang sudah tertakdirkan untukku setahun ke depan. Apakah penuh bahagia atau perjuangan? Yang jelas, malam ini sedihku membuncah. Sudahkah aku menjamumu dengan jamuan terbaik? Sudahkah Engkau menyukai jamuanku? Aku berusaha dan semoga dikabulkan. Sebulan tidak terasa. Ada banyak nikmat yang belum pernah aku rasa sebelumnya. Aku tahu sudah sejauh ini Engkau menuntunku menapaki jalan kehidupanku. Semua penuh dengan hal luar biasa. Semoga aku termasuk sedikit golongan yang pandai bersyukur. Lalu mendapatkanmu kembali bersama orang-orang yang kusayangi. Menjamumu lagi dengan lebih baik. Tetesan hangat meleleh dari

Maka, Islam Itu yang Mana?

Resah aku tatkala seorang teman berkata, "Apa aliran Islammu?" Setahuku Islam hanya ada satu, yaitu Islam. Lalu aliran yang banyak diperbincangkan itu hanyalah sudut pandang terhadapnya. Jika gajah itu besar ketika kita melihatnya terlalu dekat maka kita juga bisa melihatnya kecil ketika terlalu jauh. Lalu apakah itu salah? Tetap saja kita memandang gajah. Selama tetap gajah dari manapun melihat tetaplah gajah. Hanya gajah. Seperti itulah hemat pikirku. Kemudian ketika masing-masing sudut pandang merasa menjadi yang paling benar, siapa yang berani bertanggung jawab? Bahkan prediksi itu sudah ada sekian abad yang lalu. Tentang perbedaan. Tentang sudut pandang. Lantas ketika ditanya, "Apa aliran Islammu?" Mestinya itu merupakan cara menginstropeksi diri. Apakah sudah termasuk ke dalam satu yang terbaik yang janjikan? Maka bacalah dengan menyebut nama Rabb dan Rasul tentang Alquran dan Assunnah. Maka, Islam itu yang mana?

Sayap Kupu-Kupu

"Kak, adek gak mau ninggalin Kaka!" Senyumku mengembang sekaligus memperlihatkan barisan gigiku yang tidak rapih. "Kaka juga gak mau ninggalin Adek. Eh tapi Adek suka nakal sih! Kaka males jadinya." Untuk mendengar kalimat itu, aku harus rela kehilangan senyumku. Aku tidak nakal. Sungguh. Aku hanya ingin mengambil perhatian Kaka. Karena Kaka yang sudah semakin besar lebih sering pergi sendiri dengan teman-temannya. Lalu aku tidak lagi mempunyai teman bermain. "Hei..malah bengong. Ini handphone Mama, Adek saja yang main, Kaka mau main di luar." "Kaka...Adek ikuut..." "Gak ah! Adek di rumah aja." Prrkk! Pintu ditutup. Ruangan ini seketika sepi. Padahal, TV masih menyala. Mempertunjukan tingkah anak laki-laki kembar dari negeri tetangga. Dulu, aku dan Kaka sering menontonnya. Namun, sekarang hanya ada aku. Sendiri. Papa dan Mamaku bekerja dari pagi hingga sore. Aku akan benar-benar merasa memiliki keluarga di malam hari. I

Sesal Menyesal

Bagaimanapun, menyaksikan seseorang pergi memilih jalan yang diyakini salah, tetaplah menyakitkan. Meskipun jauh di lubuk hati, begitu menyayangkan. Bahkan ikut menyalahkan diri. Namun, dalam logika tidak ada yang patut disalahkan. Tiap-tiap kita wajib bertanggung jawab atas diri sendiri. Termasuk lebih baik dan lebih berilmu. Aku sadar, tidak ada yang paling mungkin yang bisa dilakukan karena hakikatnya tidak ada yang salah dari pernyataan membela diri. Apalagi meminta keadilan. Bahwa dalamnya hati tidak bisa diprediksi. Dalamnya kalbu tidak patut dihakimi. Aku tidak akan memintamu kembali. Aku hanya berharap kamu segera pulang. Segera ikut antrean masuk dengan sabar. Yakin Tuhan dengar dan selalu melihat. Tatkala, semua tidak lagi sesuai harapan. Tuhan justru memanggil untuk lebih dekat kepadaNya.

Gerai Rosmala Keluarkan Koleksi Khimar Arwa, Berhijab Syar'i Jadi Lebih Elegan

Gambar
Foto: Gerai Rosmala Banyak muslimah mengeluhkan berhijab syar'i menjadikan penampilan tidak terlihat kekinian. Tidak jarang juga yang menganggap model berhijab syar'i kuno dan monoton. Fenomena ini tampaknya tidak lagi berlaku saat ini. Pasar fashion khususnya busana syar'i telah mengalami banyak kemajuan. Beragam warna, bahan dan model berkembang dengan sangat pesat justru membuat konsumen bebas menentukan pilihan. Konsumen tidak perlu lagi mengeluh untuk berhijab syar'i. Jika tidak suka dengan model hijab syar'i A maka konsumen bisa beralih ke model hijab syar'i B atau yang lainnya. Tidak heran, kalau konsumen sangat dimanjakan oleh kondisi ini. Bahkan, konsumen sampai dibuat bingung dengan menjamurnya fashion hijab syar'i. Tentu saja termasuk juga saya. Sebagai penikmat dan pengguna fashion hijab syar'i belum lama ini, saya cukup kewalahan dibuatnya. Bayangkan, di usia saya yang cukup muda, ada tuntutan tersendiri untuk tampil kekinian ala anak

Rongga Cinta

Cinta memang kadang sulit Mengucapkannya Mengungkapkannya Melenyapkannya Atau menguburnya saja Seperti pilihan yang tidak ingin kita pilih Semuanya sama Sama menyakitkannya Lalu sama kebagiaannya Karna cinta memang begitu Kembar berbeda watak Kadang mengharap yang dicinta Justru nyaman dengan yang mencinta Mengutuk bahwa cinta salah Tapi alpha Rasa belum bersahabat dengan logika Atau logika yang tidak ingin berkawan dengan rasa Sekelumit itu Menyadari peluh hilang Lantaran habis ditenggang pemabuk cinta Hingga senja tiba Pujangga cinta masih menanti Di koridor penuh batu nisan Tertelungkup dia Sadar cinta kalah oleh tanah basah berbau anyir Robek hatinya Gundukan itu menelan habis harap Cinta memang begitu adanya Menari pada setiap air mata Bisu dalam nanar pertanggungjawaban Katanya cinta baik hati Tapi lupa diri di jurang mati Sampai membusuk daging

Lentera Hitam

Malam ini tidak akan gelap. Setiap rumah telah memasang banyak lentera merah di pintu pagarnya. Rumahku juga sudah memasang tiga buah lentera merah cantik. "Nay, makanannya sudah siap. Ayo makan!" Suara Ibu memanggilku dengan nyaring. "Iyaaa..." jawabku sambil berlari menuju dapur. Rumahku yang sederhana telah dipenuhi aroma masakan ibu. Ibuku memang jagoan memasak. Masakannya selalu membuatku tak ingin berhenti sebelum benar-benar kenyang. "Ini. Ayo makan!" Aku duduk tepat di posisi makananku diletakan. Ibu duduk tepat dihadapanku. Iya, hanya ada kami berdua namun kami bahagia. Meskipun tetap saja rasanya tak lengkap. Sementara Ayah hanya sesekali makan bersama kami lantaran kesibukannya di kantor. "Ayah, gak pulang lagi Bu?" Aku tahu pertanyaan ini merusak suasana. Bodoh. Riak wajah Ibu seketika lusuh. Lalu aku hanya bisa mengutuk diri ketika hening menjadi raja di makan malam kami. Ayah memang jarang pulang. Sesekali pulangpun

Baiklah, Jika Hari Ini Tak Bisa Besok Kita Masih Punya Waktu!

"Salah satu poin dalam daftar impianku adalah bisa mendaki hingga puncak Mahameru bersamamu!" Kataku akhirnya. Sungguh, aku tak bisa lagi menahan amarah yang menderu dalam dada. Mantan pacar yang kini telah menjadi suamiku seminggu terakhir ini, benar-benar membuatku kecewa. Bagaimana bisa dalam seminggu kamu berubah? "Kamu berubah! Dalam waktu seminggu kamu jadi tak suka lagi mendaki? Bukannya gunung adalah jiwa yang lain?" "Iya, sebelum aku menemukan jiwa yang paling aku ingin miliki." Aku lempar tubuhku ke tempat tidur. Aku tutup rapat seluruh tubuhku dengan selimut. Sejurus kemudian aku rasakan belaian tanganmu di kepalaku. Aku tak ingin kalah. Tak ingin sebelum kamu bersedia membawaku ke puncak Mahameru. "Kenapa harus Mahameru? Banyak tempat lain yang jauh lebih indah. Mahameru itu bahaya. Aku gak mau terjadi apa-apa, sayang." "Kamukan sering ke sana. Apakah kamu tak bisa membawa istrimu ke sana?" Ucapku sengit. "