Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Selamatkan Aspirasi

Siapa yang memelintir? Siapa yang khawatir? Siapa yang ketakutan? Siapa yang menghasut? Hari ini tepat di hari Jumat 31 Maret 2017 (313), masyarakat muslim Indonesia kembali menyatukan suara. Lewat kegiatan yang disebut aksi sebagai perwujudan paham demokrasi. Isu makar, profokatif atau kampanye terselubung menjadi momok yang mengintai. Strategi politik atau langkah-langkah strategis lain dipersiapkan agar tidak terjadi goncangan bagi negara. Penguasa semakin lihai menggocek sedangkan rakyat semakin limpung merasa tidak terlindungi Kita semua pasti sepakat bahwa hukum harus adil dan transparan. Kita semua paham benar keragaman memiliki batas toleransi. Kita semua juga sudah mengerti pemeran utama penyebab keresahan ini. Namun siapa peduli? Kata orang, jika sudah suka apalagi cinta mau apapun kejelekan yang diperbuat tetap akan dibela. Mungkin bisa disebut sebagai cinta buta. Lalu kepada siapa cinta buta itu dipersembahkan? Bagi kaum muslim tentu cinta buta pada kitab su

Negara Kita Berbenah

Salin-Adaptasi-Inovasi-Terapkan. Mungkin slogan presiden akhir-akhir ini tentang 'Kerja. Kerja. Kerja.' menjadi pacuan tersendiri untuk para menterinya. Beberapa program meski terseok-seok mulai muncul ke permukaan seperti Kartu Indonesia Pintar, Rumah Subsidi, BPJS Kesehatan dan yang terhangat yaitu Tax Amnesti. Memang bukan persoalan mudah mengingat banyak kepentingan terutama pemberitaan akhir-akhir ini menurunkan kepercayaan masyarakat. Walaupun penuh pro dan kontra, tetap tidak ada pengaruhnya. Justru pemerintah dianggap semakin tak tersentuh dan jauh dari rakyat. Dengan segala kekurangan itu, tentu ada kelebihan yang tidak boleh diabaikan. Perkembangan pesat di dunia informasi agaknya cukup menjadi momok menakutkan. Sentral informasi dan database lengkap menjadi kunci dan solusi. Siapa yang paling bertanggung jawab? Pastilah si pemilik birokrasi. Sebagai pusat desain terkini yang makin meningkat maka tengok saja Indonesia Design Development Center (IDDN). Sebagai pu

Sahabat, Cinta

"Nyit, kalo gitu aku mau dong jadi sahabat kamu. Jadiin aku sahabat kamu ya! Biar kamu juga punya perhatian kayak gini ke aku," sorot mata Dimas lurus pada dinding putih rumah sakit. Anggit hanya menoleh sekilas. Memandang Dimas dengan raut tidak mengerti. Kemudian kembali meremas tangannya. Kekhawatirannya belum sirna. Tepat di ruang ICU terbujur lemah Adit yang baru saja mengalami kecelakaan. Benturan dan lukanya tidak parah tetapi dokter menyarankan agar Adit beristirahat lebih lama. -------------------- "Seharusnya lo gak usah repot nganter gue, Dim! Lo juga kan kecelakaan bareng Adit. Mestinya ikutan dirawat. But anyway, thanks ya," Anggit berlalu memasuki pagar rumah setelah menepuk pundak Dimas, tanda terima kasih. "Eh Nyit!" "Apa?" "Omongan gue di rumah sakit tadi ...." "Gue tau kok lo bercanda. Santai aja, Dim! Gue masuk ya, bye!" Mulutnya tidak lagi berhasil mengeluarkan sepatah k

Abnormal

Berbeda bukan berarti aneh. Berbeda adalah keunikan. Jika mereka menganggapmu aneh, maka aku akan memilih menilaimu sebagai sosok dengan sudut pandang lain. Kacamatamu mungkin tidak sama dengan mereka. Meski begitu ketulusanmu tidak pernah salah. Kamu tahu lebih dalam bagaimana memperlakukan dengan hati. Kamu seperti harta karun yang terkubur dalam. Kamu berbeda tetapi tidak aneh. Bagiku kamu selalu paham bahasa yang tidak pernah sanggup terucap. Kamu mengerti cara mengubah dengan konstruksi. Bukan bual atau janji. Aku tahu batinmu tersiksa karena tidak banyak orang menerima. Padahal kamu adalah kesempurnaan paling sempurna. Tidak ada rasa iri, benci, dengki apalagi dendam. Kamu hanya bisa merasa bahagia dan tak berhenti menebar tawa. Pandangan mereka terhadapmu terwakili dalam rupa iba. Namun dalam benakku sayap-sayap malaikat dekat di sampingmu. Beberapa mengerti, menyayangi dan mengusap lembut kepalamu. Katanya kamu membawa berkah. Memperlakukanmu bak raja merupakan salah sa

Gadis Dalam Masjid

"Berdoalah! Setidaknya pahala meminta akan kamu kantongi!" Gadis bermata biru beranjak dari pojok bangku di bawah pohon Tanjung tepat di pinggir halaman masjid. Melangkah melewati lorong yang penuh sesak warga asing. Lekas menuju tempat wudhu wanita. Tidak berapa lama, ada butiran air di wajahnya yang masih tampak sembab. "Apakah saya diterima di sini?" Tanyanya kepada salah seorang pengurus masjid. Pengurus masjid tersebut agak terkejut menerima pertanyaan tersebut. Diamatinya gadis berambut hitam ikal sepundak. Pakaiannya bak artis Hollywood papan atas. Mungkin sudah teramat lama masjid tersebut tidak menerima tamu seorang gadis seperti ini. "Te... n... tu! Tentu! Silahkan! Ruang akhwat melalui tangga di sebelah kanan," katanya setelah berhasil menguasai situasi. "Terima kasih!" Senyum tipis tersemat di wajah gadis berusia 20-an ini. Langkahnya sedikit bimbang lantaran melihat cukup banyak jamaah wanita di masjid terseb

Aku Tersentuh Cinta

"Jika nanti aku lebih dulu meninggalkanmu. Ikhlaskan kepergianku. Karena setetes air matamu memberatkan langkahku. Secumit ketidakrelaanmu menyiksa rohku," suaramu masih selembut pertama kali kita bertemu. "Nanti siapa yang akan sibuk menyiapkan sarapan? Dan siapa yang akan cerewet memasukan ini dan itu atau mengingatkan setiap hal keperluanku? Lalu..." Aku tercekat. Kamu selalu memberi lebih dari yang aku harapkan. Dekapan yang selalu memenangkan hatiku berkali-kali. "Apakah kamu ridho dengan segala yang aku lakukan selama menjabat sebagai istrimu?" Sungguh bibirmu tidak semerona biasanya, tetapi mengapa senyummu sama manisnya? Apakah sudah pernah aku katakan bahwa kamu bidadari dunia yang sesungguhnya? "Apa maksudmu? Tentu aku sangat menyukainya, sayang!" Kecupku pada keningmu yang dingin. Kamu hanya berkedip. Aku tahu kondisimu semakin lemah. Dokter bilang tak ada harapan. Meskipun aku tidak pernah percaya kata dokter. Namun, guratmu y

Mesta

Gambar
  palingseru.com Tergerus sudah. Iya. Bumi ini sudah tidak layak huni sepertinya. Ada saja kelakuan dan tingkah polahnya mencari perhatian. Sementara pelaku pemberi perhatian yang dicari justru angkuh. Sibuk pada dunia lain. Tidak lagi mengindahkan. "Bumi kecewa? Sakit hati? Sudah... lemparkan saja muntahmu yang membara itu. Biar tahu mereka dimana tuan sesungguhnya." "Memang betul. Jika aku tidak diamanahkan titipan rejeki untuk mereka maka sudah tiada lagi sabar," sungut Bumi pilu. "Apa maksudmu dengan amanah titipan rejeki untuk mereka? Aku di sini untuk menyanggamu. Melindungi dan menemani setiap perjalananmu. Aku sungguh tidak rela perlahan wajah hijaumu berubah merah bata atau kelabu. Aku pun tidak suka biru rupamu menjadi kelam kotor tercemar. Garis-garis itu menjadi keruh bersedimen. Tiang-tiang langitmu nyaris rata diciduk. Tidakkah semua hal tersebut menyakitkan? Dan kamu diam seribu bahasa." "Untuk ikan maka dititipka

Kerja Sampingan

Tok! Tok! Tok! "Permisi!" Pukul 20.06 WIB. Terlalu larut untuk hal sepele. Aku hampiri pintu, melongok sedikit pada gorden yang tidak sempurna menutupi jendela. "Pasien!" Gumamku. Aku bersiap, memasang senyum paling manis. Meskipun lelah, tetapi tuntutan kata profesional sudah berakar dalam otak. Sigap aku buka pintu setelah terdengar lagi ketukan. "Selamat malam! Silahkan masuk!" "Maaf mengganggu begitu malam. Masih bisakah?" "Tentu. Apa yang bisa saya bantu?" Aku sediakan segelas air mineral dengan pisang dan kacang tanah rebus. Kesederhanaan ini selalu berhasil membuat nyaman setiap pasienku. "Saya punya anak berusia 30 tahun baru habis kontrak dan belum diterima kerja dimanapun. Ada juga menantu saya, seorang perawat honorer, tidak pernah menjadi perawat tetap sejak pertama kali bekerja. Sudah hampir lima tahun. Terakhir, anak saya berikutnya, ini, bisakah dicarikan pekerjaan dan pasangan. Lulus Strata 1 (satu)

Vakum

Aku gugu Mata pada cermin itu mati Sirna dalam pedih "Aku selesai!" Kalimat itu tanda akhir Puncak tingkat kepasrahan Resah terbelenggu Kaku di keranda Terkubur berkawan cacing tanah Kini melihat seperti buta Berbicara seperti bisu Berjalan seperti robot Hampa bertahta Pikiran tumpul Derita mati rasa "Sudah ada yang mengatur! Ingat takdir, doa dan ikhtiar! Lalu biar waktu bicara."

Ucapan Untukmu

Hi kawan! Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak banyak berkisah tentang kamu, tentang aku dan tentang kita. Sibuk? Iya, kita sama-sama tau hidup ini tidak mudah ditaklukan. Banyak energi, waktu dan tenaga yang butuh kefokusan hingga rasanya baru kemarin kita duduk bersama di warung sederhana itu memesan mie instan, roti bakar, pisang bakar atau sekadar susu coklat hangat. Tentu pesannya hanya satu. Bersama rasanya lebih nikmat bukan? Aah... itu hanya alasan saja untuk berhemat. Hari ini tepat 20 Maret, usiamu menggenap. Mungkin kamu lupa dulu saat kamu lahir semua orang bergembira, hanya kamu saja terus menangis kencang. Kali ini, aku ingin kamu menangis lagi. Mengingat telah berapa banyak hal pahit, manis, asam dan asin hidup ini sudah kamu lewati. Sudahkah kamu banyak belajar? Sekali lagi, aku ingin kamu menangis lagi. Menata kembali semangat tulus dan kepolosan yang mungkin mulai sirna digerus kerasnya dunia. Bukan lagi perihal hari ini dan kesenangan semata, tetapi berbagi

Berteman

Dalam sebuah hadis, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Saat impian jauh di luar logika, mungkin inilah hal terbaik dan langkah pertama yang harus dilakukan. Berkumpul bersama orang-orang yang berimpian sama atau nyaris sama. Karena manfaatnya adalah ketika impian itu terasa menyesakan dan butuh untuk dibagi maka mereka akan menjadi salah satu penawarnya. Dari mereka semangat itu kembali. Dari mereka syukur itu akan diteladani. Dari mereka ketabahan menjadi semakin lapang. Dari mereka perhitungan korbanan bisa diatas

Asal

Penulis. Kita selalu punya pilihan. Dan selalu juga berhak untuk memilih pilihan itu. Dalam menulis, kita bisa menentukan mau menyebar benci atau cinta. Dan berbagi semangat positif atau negatif. Teringat ucapan salah seorang teman, mungkin ini selera, katanya menulis adalah seni tak terbatas. Bahkan bisa begitu liar hingga mengandung ketidakwarasan dan keluar dari batas etika serta kenormalan manusia. Seperti mengandung unsur hara atau hasutan menyimpang. Bagiku, mestinya menulis adalah menyebar pengetahuan. Penuh ilmu yang menenangkan. Karena tidak ada yang lebih hebat dari ketenangan hati. Jadi, sekali lagi mungkin ini selera. Penulis bisa memilih dan pembaca juga bebas memilih. Pilihan yang wajib dipertanggungjawabkan.

Kota Seribu Kenangan

Aku selalu suka kota ini. Semua hal tentang kota ini adalah keromantisan paling syahdu. Aku suka jejalan angkutan umum berwarna hijau seliweran memadati badan jalan. Penuh. Macet. Bising suara klakson. Seperti mainan baru yang ingin terus aku mainkan. Aroma udara. Sejuk. Lembab. Menentramkan. Aku rela berlari gopoh demi menghirup banyak oksigen. Bila perlu aku abadikan pada ribuan tabung untuk kemudian aku buka di kota tinggalku. Aah... aku suka sekali dengan hembusan angin yang membuat daun-daun kering, layu, rapuh, jatuh dari genggaman ranting. Terutama saat daun atau kelopak bunga bersama angin itu mengenai kepala, wajah atau lenganku. Bagiku itu seperti sentuhan Tuhan. Mengagumkan. Setiap jengkal sudut juga kenangan yang kemudian kembali terasa nyata di sini. Meskipun sekarang sedikit berubah karena moderenisasi, tapi untukku wajah kota ini tidak pernah terganti. Di setiap ujung jalan masih bisa aku temukan pengemis jalanan. Mereka tertunduk. Masih saja tertunduk hingga kini. M

Terima Kasih

Terbongkar. Kebiadaban itu akhirnya terbongkar. Siapa yang berani-berani merusak sistem ini? Apakah dia tidak masuk pada daftar menjadi salah satu penerima komisi? Aah... terlalu jahat jika berpikir tidak ada lagi orang baik di tanah air tercinta ini. Mungkin dia diam memperhatikan. Menunggu di waktu yang tepat. Naluri suci itu tidak pernah mati. Meskipun terlihat menjadi bagian dari mereka. Namun, batinnya belum lagi terkunci dan katanya tidak benar-benar buta. Bersyukurlah... bahwa Tuhan masih memberkati negeri ini. Perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit memberangus mereka yang menyakiti hati-hati kecil kami. Kemudian mengganti setiap tetes peluh ikhlas kami untuk membangun negeri ini.

Membunuh Rasa

Tutup matamu. Bayangkan sebuah jeruk nipis ada dalam pegangan tanganmu. Jeruk nipis itu sudah terbelah dan wangi asam merebak ke sekitar. Termasuk juga ikut menyelinap masuk dalam hirupan oksigen di hidungmu. Rasanya mulai sumringah. Udara siang yang terik dan kering membuat butiran halus mencair. Iya. Jeruk nipis itu baru saja kamu ambil dari lemari es. Bahkan dinginnya masih menjalar di setiap jemari. Tanganmu beringsut datang pada katup mulut yang mulai membuka. Dengan sedikit tekanan, tetes air jeruk nipis jatuh di lapisan terluar lidahmu. Hmm... tetesan air jeruk nipis terlarut bersama air liurmu. Sensor indera perasa pada lidahmu mulai menyampaikan pesan berupa aliran ke otak. Kemudian aliran tersebut diterjemahkan. Ada rasa masam dan kecut. Bukannya jera, air liurmu semakin terangsang untuk berproduksi. Berusaha menetralkan rasa masam itu. Kini. Ketika kamu membuka mata. Sesungguhnya tidak pernah ada jeruk nipis dalam pegangan tanganmu. Namun anehnya, rasa masam dan kecut

Melapangkan Sabar

Sini aku kisahkan sebuah cerita dari negeri antah berantah! Katanya di sana manusia tidak lagi berhati. Otak mereka sudah mengeras, membatu, mengakar bukan lagi pada tanah tapi pada dalamnya larva gunung berapi. Kamu tahu, di sana kekayaan itu bukan lagi dihitung dari seberapa banyak senyum yang sudah diproduksi tapi dari seberapa mentereng mobil mewah yang dikendarai atau semegah rumah yang di tempati atau berapa banyak pasang mata yang berdecak mengagumi. Mereka memang bany ak memberi tapi bersamanya juga banyak menyakiti. Lalu mereka yang diberi, entah sampai kapan bertahan pada rasa yang mati. Mungkinkah kamu mulai iri? Atau mulai mengagumi? Mereka mungkin kurang disirami dengan cinta. Tidak seperti kita, hidup dalam banyak tawa dan kebahagiaan yang sederhana. Jadi masihkah kamu mau mengenal manusia di negeri antah berantah itu? Tidakkah justru ibamu mulai menjalar? Maka jika kamu adalah manusia, mungkin takdirmu membuat mereka mengerti bahwa tunas muda dan h

Terasing

Jauh di suatu pulau kecil terasing dari bentang luas samudra. Tidak jelas siapa penduduk aslinya. Yang pasti pulau ini tak pernah sepi dari jamah manusia yang melintas. Entah itu karena tugas negara, berlibur atau melarikan diri. "Pulau ini selalu ingin menarikku untuk tetap tinggal," katamu seraya menarik tali ayunanku. "Rayuan apalagi sekarang? Aku bersumpah tidak akan tertipu lagi," sungutku ketus. "Ah! Rayuan apa? Kamu tahu aku tak pandai merayu. Aku sungguh suka pulau ini terlebih ada kamu, gadis manis buah hati pemilik bibir pantai." Wajah genitmu sudah ada di hadapanku sekarang. "Sudahlah... aku muak denganmu. Kamu hanya memperalatku untuk bersembunyi dari kejaran sekelompok mafia itu kan? Ditambah lagi, siapa kemarin lalu meneriaki rumahku. Istrimu keberapakah itu? Menyesal aku mengenalmu. Kamu kuras pulau dan apa-apa milikmu," kesal bicaraku. Aku dorong tubuh kekarmu dengan sekuat tenaga. Kemudian berlalu pergi. "Bukankah

Dari Hasil Kedua

"Jangan minta aku untuk pilih kamu atau mereka," ancammu akhirnya. Aku hanya pasrah. Diam seribu bahasa. Aku paham betul situasi ini. Melawanmu sekarang sama saja dengan menancapkan belati di hati sendiri. Namun, berlama dihadapanmu tanpa kata juga sama saja dengan membohongi diri. Maka aku putuskan untuk pergi. Aku pergi tanpa permisi. Berjalan menjauh dari bangku yang kita duduki. Aku paksa kepala ini agar tidak menoleh. Aku patri hati ini agar tidak lemah berharap kamu datang menghampiri. Benar saja. Aku melenggang tanpa kendala. Bahkan tidak ada kabar beritamu. Tak juga ada tanya dimana keberadaanku. Mungkin ini uji kedewasaan kita. Saling intropeksi diri dalam ketenangan masing-masing. Aku berdamai pada limit kesabaran ini. "Kami sudah seperti saudara kandung. Latar belakang kami sama. Kami saling mengerti rasanya tersakiti dan tersia-sia. Dengan bersama kami bisa saling melindungi," tutupmu sambil berlalu pergi. Lagi. Amarahmu langsung terpancing jik

Ada

Adakah yang lebih suci dari cinta burung merpati? Adakah yang lebih setia dari kesetian buaya kepada pasangannya? Adakah yang lebih besar pengorbanannya dari pengorbanan belalang untuk kekasihnya? Adakah yang lebih besar pengabdiannya dari kelompok semut kepada ratunya? Adakah yang lebih kuat dari tempurung kura-kura? Adakah yang lebih berlendir dari kulit katak? Adakah yang lebih ganas dari bisa ular yang mematikan? Adakah yang lebih bisa bertahan hidup dari kucing? Ada. Tentu ada. Segala tersebut  di atas memiliki Sang Pencipta yang bisa menandingi dan selalu menjadi lebih. Namun... ada satu untaian ajaib tanpa tandingan. Yaitu... ISTIGHFAR

Pusara

Aku tatap lekat nama di nisan kayu usang itu. Tidak hanya tertulis nama tapi juga rentang waktu hidupnya. Sudah cukup lama hidup yang kamu jalani. Bahkan setengah usiamu adalah usiaku sekarang. Renjana ini pun tidak lagi terhitung jumlahnya. Ada tetesan hangat mendarat mesra di punggung tanganku. Aku ingat dahulu kamu suka sekali menyanyikan lagu lucu tentang motor cilik yang dikendarai oleh pengendara gila dan babi lucu yang ditabraknya. Aku selalu terpingkal saat kamu menirukan suara babi lucu itu. Katamu setelahnya, aku harus selalu tertawa karena tawaku membuat duniamu ceria. Sampai akhirnya kamu tersungkur lemah. Lututmu menjadi aneh, tidak mampu lagi menahan bobot tubuhmu yang justru semakin ringan. Aku menyaksikan bagaimana kamu mengaduh sakit lantaran lututmu semakin kaku. Dokter memvonis terjadi pengapuran di sana. Kamu terpaksa tidak bisa berjalan sebebas dulu dan harus menjalani terapi dua kali seminggu. Kamu merunduk. Aku paham sebagai kepala keluarga, tugasmul

Paruh

Banyak cerita telah berlalu Namun belum cukup membuat matang Banyak kasih telah dirasa Namun belum cukup menyempurnakan Jika hidup adalah proses Maka itulah kerumitan Jika waktu adalah kepastian Maka itulah yang tertakdirkan Masih dalam perjalanan Sehingga capai tak layak datang Menggerus pesakitan Tinggallah semangat keabadian Aku paruh Belum menggenap dan tergenapkan Aku paruh Menunggu sisa paruh Berkawan Lalu menutup dalam kenangan

Mungkinkah Aku Melewatkan Sebuah Kesempatan?

Pilihan. Hidup ini selalu penuh dengan pilihan. Setiap hari tanpa terkecuali. Seperti ketika kode Tuhan membangunkan di sepertiga malam, pilihan kita adalah menyambut atau abai dalam kelelapan tidur. Barangkali itu salah satu contoh kecil, tetapi penting untuk selalu diingat. Kemudian pilihan menjadi lebih rumit, terutama setelah beberapa beban kehidupan menjadi tanggung jawab diri. Kadang butuh seseorang untuk berbagi dan mencari solusi karena tidak temukan jawaban dalam diri atau sekadar butuh dukungan yang sama persepsi. Walau apapun yang terjadi tempat kembali terbaik untuk bermusyawarah adalah kepada Sang Pencipta. Mungkin petunjuk itu tidak benar-benar terang. Atau aku yang terlalu keras, buta, tuli dan bodoh untuk mengetahui bahwa petunjuk itu sudah sangat jelas. Dan musyawarah itu telah dijawab oleh-Nya. Lantas aku masih begitu bimbang dengan pilihan ini, sehingga memilih melepaskan dengan seluruh orientasi sifat seorang manusia. Mungkinkah aku melewatkan sebuah kesemp

Obrolan Sayur

"Be, enggak capek naik turun terus?" Bayam memulai percakapan setelah hiruk pikuk pasar pagi sedikit mereda. "Capek sih! Tapi enggak ada pilihan lain. Biasa nasib komoditas seksi, sering dijadikan alat permainan," tergurat kesedihan dari tubuh yang selalu sumringah itu. "Aye juga banyak peminatnye loh. Meskipun wajar ye kalau mahalpan karena metiknye kudu manjat-manjat gitu," Jengkol yang selalu ramah jadi ikut nimbrung. "Saya tetap paling rawan. Terlalu sensitif malah. Kadang sedih juga mati karena gagal panen," Bawang Merah meratapi hidupnya yang menyedihkan. "Makanya kalian jadi sepertiku. Komoditas impor, dijual khusus ke pedagang tertentu. Jadi semua mafia yang terlibat sudah kenyang dengan jatahnya. Akhirnya tidak lagi main harga seenaknya," senyum ketir Bawang Putih tidak mampu disembunyikan. "Memang pasar itu unik. Banyak penghidupan dan Nilai kehidupan di dalamnya. Dan karena kitalah semua dimulai," arif uca

Kita

Sudah berapa lama? Sehari. Dua hari. Seminggu. Tiga minggu. Sebulan. Empat bulan. Setahun. Bertahun-tahun. Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa? Coba aku ingat sebentar. Terakhir aku melihat kalian... apakah di cafe dekat stasiun itu, sambil memakan pesanan kesukaanku, donat. Atau di acara perayaan ulang tahunmu, yang sengaja kami buat kejutan, tetapi tidak pernah sukses karena tak ada yang tersembunyi dari persahabatan kita, bukan. Oh... mungkin aku salah. Sepertinya pertemuan terakhir kita adalah makan di rumah makan pedas. Padahal salah satu diantara kita sangat tidak suka pedas. Namun, itu sukses membuat kita terpingkal mengobrol sepanjang pertemuan. Ah... aku lupa lagi. Mungkin pertemuan terakhir kita, saat kami harus mengucapkan sampai jumpa karena kamu harus kembali menata hidup di kota asalmu. Baiklah. Itu memang saat terakhir kita bertemu. Masih ingatkah kalian apa yang kita bicarakan? Bukan masa depan kita, tetapi teman dan lingkungan baru kita. Aku bodoh. Kena

Daftar Hitam

Sudah hampir setahun sejak kejadian aku menghilang. Oh bukan! Aku sepertinya harus menarik kembali kata menghilang. Karena sebenarnya aku bimbang harus melakukan apa. Akhirnya yang terbersit adalah pergi menghindar. ---------------------- "Maaf Pak, saya harus pulang karena anak saya meninggal. Istri saya pasti membutuhkan kehadiran saya di sisinya," ucapku setelah menyelesaikan tugas di lapangan. "Berapa lama?" "Mungkin dua minggu Pak!" Akhirnya dengan segenap keberanian, aku berhasil mengutarakan semuanya. Aku temui istriku yang sembab matanya karena menangis tidak berkesudahan. Aku paham sekali rasanya kehilangan. Mungkin tidak sebesar yang dia rasa. Namun, dia juga darah dagingku. Meskipun aku bisa lebih tegar menghadapi ini. Aku yakin Tuhan punya rencana terbaik untuk kami. Setelah dua minggu berlalu. Aku dapati istriku menghilang dari rumah. Aku panik. Aku berlari ke rumah tetangga dan pasar tempat dia biasa membeli sayuran a

Terabai

Di sinilah aku. Bersama seluruh kekesalan dan amarah. Mencoba merelakan dan pergi sejauh-jauhnya. Tapi bukankah itu kebodohan? Bukankah itu artinya sebuah kekalahan? Pergi membawa kesalahan dan tidak mengakuinya. Aku lelah mengikuti semua instruksi. Aku bukan robot tanpa perasaan. Membiarkanmu memintaku melakukan A, B, C .... dan Z. Memang apa yang sudah dia berikan pada hidupku? Bukankah Tuhan yang memberikan segalanya? Bagaimana bisa manusia biasa seperti dia bertindak seenaknya? Halo Bung! Bukankah hidup di bawah kendali sungguh menyiksa? Bukankah terperangkap dalam impian orang lain adalah awal dari kesalahan domino? Kan sudah aku kata. Berdirilah di kedua kakimu sendiri! Tuhan sudah menyempurnakan segalanya untukmu. Masihkah kemalasan menjadi yang kau dewakan? Lihatlah bagaimana Tuhan sudah memanjakan kita dengan begitu istimewa. Takdir ini membawa kemana? Biarkan itu menjadi misteri Tuhan. Seperti mimpi yang mungkin adalah pertanda. Hempaskan menjadi sebuah titik

Gelap

Aku nyaman berada di sini. Hitam. Gelap. Pekat. Terlihat begitu dekat. Sangat nyata. Tersentuh. Terasa. Tidak hanya itu, dari sini aku banyak memahami. Bagaimana bahagia teramat sederhana. Bagaimana tawa bisa selalu ada. Bagaimana luka disembuhkan oleh luka yang lain. Atau bagaimana tangis kering dengan hembusan. Dari sini juga aku bisa memilih cahaya paling terang. Bagaimana banyak reaksi terjadi sehingga cahayanya bertahan kuat dan kokoh. Iya sekumpulan cahaya itu hanya mampu terlihat jika berasal dari tempat gelap.

Jiwa Suci

Pada akhirnya aku tahu. Banyak jiwa-jiwa baik nan tulus bertebaran di bumi Mu. Hanya saja mereka lebih suka bermanfaat dalam kesunyian. Diam-diam menatap lamat banyak tawa di panti itu. Atau diam-diam datang membawa semobil truk bantuan. Alih-alih congkak, mereka justru bersembunyi dari keramaian. Berlandaskan untuk kebahagiaan umat. Siapa yang memilih mereka? Tidak ada. Mereka keluar dan menodongkan diri sendiri. Tanpa ada pujian atau janji program belaka. Mereka tanpa harga. Tak layak juga digantikan dengan harta. Hasrat mereka hanya satu mencari ridho Ilahi katanya. Tujuan mereka hanya satu bahwa dunia tidak boleh menjadi tempat berputus asa. Maka biarkan diri miskin karena itu berarti Tuhan mampu menunjukan kebesaran Nya. Jadi biarkan Tuhan merayu melalui angin tipis. Namun membawa kesejukan. Pada akhirnya aku tahu. Jiwa-jiwa baik nan tulus itu dikelola oleh mereka yang tak pernah menginginkan dunia. Mereka berpijak hanya pada bagaimana cara mengisi tabungan akhirat kelak. Se

Konsekuensi

Tidak akan sama lagi. Karena apa yang kalian goreskan sudah membuat jejak pada kertas ini. Kami pikir memberi kalian kesempatan adalah cara kami berbakti kepada-Nya. Kemudian kalian pongah. Ketika kamilah yang membuat kalian berkuasa, kalian justru menjual aset-aset kami. Aset yang mestinya kita kelola bersama. Kami hanya meminta kalian mewakili kami, bukan menjual harga diri kami. Sehingga kami menjadi pembantu di rumah kami sendiri. Atau kami membereskan semua muntahan mereka. Bahkan terkadang memakannya demi mengisi perut kami yang lapar. Sementara kalian menikmati suapan racun dengan topping  kenikmatan dari mereka. Inikah balasan kalian kepada kami? Aah... apalah kami. Hanya kerumunan sampah yang mengganggu kalian. Atau hama yang menahan pertumbuhan kalian. Baiklah musnahkanlah saja kami jika sudah tidak ada arti kami bagi kalian. Biarkan kami menjerit sendiri dalam kardus usang di bawah tumpukan harta yang kalian miliki. Mungkin ini cara Tuhan agar kami lebih dekat denga