Aku Tersentuh Cinta

"Jika nanti aku lebih dulu meninggalkanmu. Ikhlaskan kepergianku. Karena setetes air matamu memberatkan langkahku. Secumit ketidakrelaanmu menyiksa rohku," suaramu masih selembut pertama kali kita bertemu.

"Nanti siapa yang akan sibuk menyiapkan sarapan? Dan siapa yang akan cerewet memasukan ini dan itu atau mengingatkan setiap hal keperluanku? Lalu..." Aku tercekat. Kamu selalu memberi lebih dari yang aku harapkan. Dekapan yang selalu memenangkan hatiku berkali-kali.

"Apakah kamu ridho dengan segala yang aku lakukan selama menjabat sebagai istrimu?" Sungguh bibirmu tidak semerona biasanya, tetapi mengapa senyummu sama manisnya? Apakah sudah pernah aku katakan bahwa kamu bidadari dunia yang sesungguhnya?

"Apa maksudmu? Tentu aku sangat menyukainya, sayang!"

Kecupku pada keningmu yang dingin. Kamu hanya berkedip. Aku tahu kondisimu semakin lemah. Dokter bilang tak ada harapan. Meskipun aku tidak pernah percaya kata dokter. Namun, guratmu yang tidak lagi bersemangat adalah pertanda aku harus percaya.

"Apakah sudah pernah aku katakan? Sesulit apapun dunia, aku tidak pernah peduli selama kamu yang berkata kalau aku pasti bisa."

Degup jantungku memburu kala terdengar bunyi dari monitor.  Aku saksikan napasmu mulai tersengal. Tanganmu mengisyaratkan agar aku mendekat.

Dengan terbata kamu katakan, "A... ja... ri... aakuuu."

Perlahan aku membimbingmu mengucapkan dua kalimat agung. Aku melihat keindahan terhebat. Wajahmu bercahaya dalam pecah tangis anak-anak kita.

"Terima kasih Tuhan. Jika tak ada lagi yang lebih baik dari perpisahan kecuali mengikhlaskan, maka aku ridho Engkau menjaganya. Setelah Engkau memperbaiki diriku melalui kebersamaan kami. Aku tersentuh cinta-Mu."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran