Kerja Sampingan

Tok! Tok! Tok!

"Permisi!"

Pukul 20.06 WIB. Terlalu larut untuk hal sepele. Aku hampiri pintu, melongok sedikit pada gorden yang tidak sempurna menutupi jendela.

"Pasien!" Gumamku.

Aku bersiap, memasang senyum paling manis. Meskipun lelah, tetapi tuntutan kata profesional sudah berakar dalam otak. Sigap aku buka pintu setelah terdengar lagi ketukan.

"Selamat malam! Silahkan masuk!"

"Maaf mengganggu begitu malam. Masih bisakah?"

"Tentu. Apa yang bisa saya bantu?" Aku sediakan segelas air mineral dengan pisang dan kacang tanah rebus. Kesederhanaan ini selalu berhasil membuat nyaman setiap pasienku.

"Saya punya anak berusia 30 tahun baru habis kontrak dan belum diterima kerja dimanapun. Ada juga menantu saya, seorang perawat honorer, tidak pernah menjadi perawat tetap sejak pertama kali bekerja. Sudah hampir lima tahun. Terakhir, anak saya berikutnya, ini, bisakah dicarikan pekerjaan dan pasangan. Lulus Strata 1 (satu) setahun yang lalu," kisah wanita paruh baya dengan wajah memelas.

Aku ingat, diusia remajaku, keluarga wanita tersebut merupakan salah satu keluarga terkaya di kampung. Pendatang memang selalu memiliki kelebihan harta dibandingkan warga kampung asli. Saat itu sekitar tahun 80-an rumah bertingkat dua adalah rumah mewah. Apalagi ditambah mobil kijang kapsul (mobil mewah di masanya) terparkir anggun di halaman rumah.

Sementara aku, penduduk asli, terbilang primitif dan miskin. Aku terlahir dari cacian dan amarah keluarga lain karena ibuku merupakan istri kedua. Di sisi lain, ayahku, layaknya begundal kampung, sama-sama disegani. Namun pada konteks dan konotasi yang berbeda.

Kini, wanita tersebut, bersama seorang putrinya yang beranjak dewasa, singgah ke rumah dan menjadi pasienku. Aah... mimpi apa aku semalam. Bahkan saat itu aku berharap menjadi bagian dari keluarganya yang sempurna. Walaupun hidup ini tidak pernah sempurna. Begitu juga dengan keluarganya, tetapi aku tetap berharap karena keluarganya sungguh berbeda dari keluarga kaya lainnya. Keluarga penolong dan ramah, itulah sebutan untuk keluarga wanita tersebut. Bukankah hidup seperti roda yang berputar?

"Tolong dibantu dijadikan pegawai negeri, ini anak yatim, pahalanya besar kalau ngebantuin."

"Yaudah Yah, masukin aja. Link Ayah kan banyak. Sebagai salah satu anggota dewan pasti bisa. Ibu Haji kan baik sama kita dulu, Yah!" Sergah Istriku yang sedetik kemudian sudah duduk manis di sebelahku.

"Iya pasti dibantu. Nanti kasih saja ijazah dan surat lamaran. Semoga ada penempatan yang linear sesuai ijazah." Aku pasang senyum terbaik. Mudah saja bagiku.

"Pakai itu? Kira-kira berapa?" Tanyanya takut-takut.

"Tentu. Iya gampanglah Bu. Dulukan Ibu sering bantu saya," bagaimanapun aku masih berhati manusia. Namun, pasien tetaplah pasien. Semua aturan juga tetaplah aturan.

Tidak lama, wanita bersama putrinya berpamitan. Biasanya, ini kesenanganku ketika berjabat tangan. Terang saja. Selembar amplop putih kecil tertinggal digenggaman lengan kananku. Aku tersenyum. Pasien berikutnya.

Komentar

  1. Bener, hidup seperti roda. Kadang dibawah, kadang diatas. Sekarang diatas, tahun dpan bisa jadi dibawah.

    BalasHapus
  2. Bener, hidup seperti roda. Kadang dibawah, kadang diatas. Sekarang diatas, tahun dpan bisa jadi dibawah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran