Dari Hasil Kedua

"Jangan minta aku untuk pilih kamu atau mereka," ancammu akhirnya.

Aku hanya pasrah. Diam seribu bahasa. Aku paham betul situasi ini. Melawanmu sekarang sama saja dengan menancapkan belati di hati sendiri. Namun, berlama dihadapanmu tanpa kata juga sama saja dengan membohongi diri. Maka aku putuskan untuk pergi.

Aku pergi tanpa permisi. Berjalan menjauh dari bangku yang kita duduki. Aku paksa kepala ini agar tidak menoleh. Aku patri hati ini agar tidak lemah berharap kamu datang menghampiri.

Benar saja. Aku melenggang tanpa kendala. Bahkan tidak ada kabar beritamu. Tak juga ada tanya dimana keberadaanku. Mungkin ini uji kedewasaan kita. Saling intropeksi diri dalam ketenangan masing-masing. Aku berdamai pada limit kesabaran ini.

"Kami sudah seperti saudara kandung. Latar belakang kami sama. Kami saling mengerti rasanya tersakiti dan tersia-sia. Dengan bersama kami bisa saling melindungi," tutupmu sambil berlalu pergi.

Lagi. Amarahmu langsung terpancing jika sedikit saja obrolan kita menyinggung tentang mereka.

"Kami cuma mau membuktikan bahwa kasih sayang yang tidak lengkap bukan alasan untuk jadi manusia buruk," paparmu lagi untuk yang kesekian kali.

Aku ingat semua hal tentang mereka darimu. Tentu semua adalah kebaikan. Tidak ada cacat. Tidak ada jahat. Kamu justru nyaris lupa ketidaksempurnaan selalu menjadi milik kita, manusia.

"Selamanya aku akan bersama mereka. Membuktikan kepada mereka yang telah menyakiti kami bahwa mereka sangat merugi!"

"STOP!!! Sampai kapan dendam itu akan kamu bawa? Pembuktian itu baik, tetapi bukan dengan menyerap dendam negatif. Aku sadar kamu tidak akan mendengarkan. Aku tahu kamu tidak akan peduli. Selama ini kalian, kamu, mungkin hanya melihat yang lemah tersakiti, yang menangis berarti merana dan yang kuat selalu semena-mena. Pernahkah sedikit saja kamu berpikir tentang yang lain? Atau mencoba melihat dari sudut pandang lawanmu? Dan kamu akan tahu bahwa kamu tidak adil," pecah tangisku. Lepas kendaliku. Sudah hilang sabarku.

"Apa maksudmu dengan tidak adil?"

Aku hanya menangis dalam persembunyian kedua telapak tangan.

"Apa maksudmu dengan tidak adil?" Suaramu meninggi. Menarik sisa-sisa kekuatan di kedua tanganku.

Aku goyah. Meskipun harus aku katakan. Mungkin ini kesempatannya. Walaupun berarti tidak ada hari esok. Mungkin ini jalannya. Walaupun berarti tidak ada lagi kita.

"A... a... ku, karena aku dari yang kedua," tak kuasa lagi rasanya. Inilah akhir. Inilah yang aku takutkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran