Pusara

Aku tatap lekat nama di nisan kayu usang itu. Tidak hanya tertulis nama tapi juga rentang waktu hidupnya. Sudah cukup lama hidup yang kamu jalani. Bahkan setengah usiamu adalah usiaku sekarang. Renjana ini pun tidak lagi terhitung jumlahnya.

Ada tetesan hangat mendarat mesra di punggung tanganku. Aku ingat dahulu kamu suka sekali menyanyikan lagu lucu tentang motor cilik yang dikendarai oleh pengendara gila dan babi lucu yang ditabraknya. Aku selalu terpingkal saat kamu menirukan suara babi lucu itu. Katamu setelahnya, aku harus selalu tertawa karena tawaku membuat duniamu ceria.

Sampai akhirnya kamu tersungkur lemah. Lututmu menjadi aneh, tidak mampu lagi menahan bobot tubuhmu yang justru semakin ringan. Aku menyaksikan bagaimana kamu mengaduh sakit lantaran lututmu semakin kaku. Dokter memvonis terjadi pengapuran di sana. Kamu terpaksa tidak bisa berjalan sebebas dulu dan harus menjalani terapi dua kali seminggu. Kamu merunduk.

Aku paham sebagai kepala keluarga, tugasmulah menafkahi kami. Namun, tanggung jawab itu sudah tidak lagi mampu kamu jalani. Ayah... aku pun lelaki dan bahuku juga cukup kuat untuk menggantikan tanggung jawabmu. Meskipun saat itu usiaku masih berbilang dalam belasan.

Kemudian hari-harimu berlalu dengan berat. Kamu tidak mengaduh, tetapi mukamu memerah menahan pesakitan itu. Dan Ayah... aku terlalu munafik dengan selalu berkata bahwa kamu akan segera sembuh jika terus menjalani terapi ini dengan telaten. Walaupun berkali-kali kamu berkata ingin berhenti dan berpasrah menjalani sisa hari.

Aku bersikeras tidak ada sisa hari. Aku, si egois, tidak ingin kamu menyerah karena sisa hari berarti memberi kesempatan besar untuk sebuah perpisahan yang panjang. Aku memaksamu mendatangi terapi itu, dua kali seminggu. Aku mendorongmu, tercebur di kubangan pesakitan tanpa henti.

Malam itu, ketika tidak ada bulan dan bintang. Wajahmu tampak damai dan bersinar. Genap sudah perjuanganmu. Gugur sudah dosamu. Bahkan kamu lupa padaku. Namun, kamu tetap bersikeras menyuruhku tertawa. Itulah pinta terakhirmu. Di ruangan itu, aku tutup wajah tangguhmu dengan senyum.

Ayah... sempurna sudah pelajaran hidup yang kamu berikan untukku. Tentang menjadi lelaki kuat tanpa tapi. Tentang memberi tanpa pamrih. Tentang kasih tanpa kembali. Tentang usia tanpa prediksi.

Aku berada di pusaramu sekarang, Ayah! Membawa keluarga kecilku. Aku juga sering menyanyikan lagu lucu itu untuk cucumu. Dahulu tidak sempat aku nyanyikan di hadapanmu. Dahulu tidak berani aku tirukan bagaimana lucunya suara babi lucu itu. Maukah aku nyanyikan satu lagu untukmu sekarang? Bukan tentang motor cilik yang dikendarai oleh pengendara gila dan babi lucu yang ditabraknya. Namun, sebuah lagu rindu untukmu.

"Untuk Ayah tercinta
 Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
 Ayah dengarkanlah
 Aku ingin berjumpa
 Walau hanya dalam mimpi"
-Ayah~Rinto Harahap-

Komentar

  1. Jadi teringat almarhum bapakku :(

    Semoga Allah menerima segala amal ibadah almarhum. Aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran