Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Identitas

Aku memang jauh dari baik Teramat jauh Apalagi konsisten dalam baik Masih terlalu jauh Tetapi aku percaya Pada apa yang aku yakini Suatu kebenaran dari hati Tentang hidup dan kedalamannya Manusia baik Manusia lembut Manusia asik Manusia kalut Tidak ada Semua hanya doktrin Penilaian seenaknya sendiri Sementara yang berbeda adalah taqwa

Kesenyapan

Biar aku kecap dalamnya rindumu Biar aku sesap utuhnya kalutmu Biar aku basuh perihnya dahagamu Biar aku perban busuknya lukamu Kamu penantian paling bulat dari asa Kamu kepulangan paling sakral dari perjalanan Kamu kepastian paling masyhul dari perjanjian Kamu permohonan paling mahal dari impian Biarkan aku seruput semua serbuk pahitmu Biarkan aku mabuk pada senyumanmu Biarkan aku sakit menanggung gusarmu Biarkan aku sekarat ditelan tawamu Kamu serpihan kaca dari mozaik kehidupan Kamu sepelempar batu pemasung perpisahan Kamu sejurus haluan perdamaian Kamu sepotong Tuhan yang hadir dalam kesenyapan

Kesukaan

Aku suka kamu yang diam-diam memandang Aku suka kamu yang pelan datang Aku suka kamu yang tenang berkemeja biru Aku suka kamu yang riang berjaket kelabu Aku suka kamu yang hangat tersenyum ramah Aku suka kamu yang manis pantang menyerah Aku suka kamu yang lembut tak pernah takut Aku suka kamu yang manja berusaha akut Aku suka kamu yang lelah selepas berkarya Aku suka kamu yang marah sesudah habis daya Aku suka kamu yang bau bermandikan peluh Aku suka kamu yang ragu beralas keluh Kamu itu kesukaan Segalanya membuat suka Kamu itu kesayangan Segalanya menambah sayang Sayang, suka, kesayangan, kesukaan Itu semua kamu

Masih Kamu Juaranya

Gambar
http://www.satuharapan.com/ Hatiku sesak. Pikiranku tamat. Hilang semua kendali diri. Aku mencari dan tidak menemukan. Aku tenggelam dan tidak menanggalkan. Aku hendak berlari sekencang yang aku bisa. Namun, lutut dan telapak kakiku bungkam diam di tempat. Nyaris aku kibarkan bendera putih atau kuning saja sekalian. Lantas keputusasaan ini, justru menghantarkanku pada doa tentang kalam Ilahi. Sujudku bersimbah air mata. Aku butuh pencerahan. Mungkin khayalku terlalu rumit mengartikan. Aku harus paham dalam kekeringan yang aku buat perkaranya sendiri. Ketika rasanya ingin teriak. Kamu datang. Angin segarmu datang. Masuk tepat di setiap rongga kehampaanku. Menyiram tunai setiap kering dahagaku. Dan, itu masih kamu, sahabat. Gelapnya kondisi ini, tampaknya tidak mampu menyurutkan terangmu. Pekatnya hidup ini, nyatanya tidak mengaburkan konsentrasimu. Kamu masih tetap juaranya. Merampas habis setiap sesak dan tamat yang aku perkarakan sendiri. Ini bukan bualan atau gom

Di Jalan Taqwa

Gambar
https://www.vebma.com/ "Ayah dimana?" Tanyaku sekali lagi. Tidak ada jawaban. Hembusan angin makin mengundang dingin mengabarkan rintik rezeki yang akan diturunkan. Gundukan itu diam seribu bahasa. "Ayah dimana?" Tanyaku sekali lagi. Bergetar tubuhku. Tetesan air mata tak terbendung mendahului rintikan hujan. Sebatang rumput liar dengan lima helai daun berayun. Aku masih ingin tinggal. Harapku tidak ingin sirna. Besar keinginanku sosok bertubuh tambun memanggil nama lalu mengajakku pulang. Biasanya dialah yang paling mengkhawatirkanku. Biasanya dialah yang paling suka mengukir senyum di wajahku. Dan, biasanya aku tidak pernah menangis sedalam ini. "Sayang, ayo pulang!" Aku beku. Aku mengenal suaranya. Aku palingkan wajahku. Sosok berwajah teduh tersenyum gagah. Ayah. "Ayah datang. Aku benarkan Ayah pasti tidak akan meninggalkan aku sendiri," ratapku seraya memeluk tubuh di sampingku. Belaian halus tangan besarnya di kepalak

Tersenyum

Tahukah kamu kesedihanmu membuatku kacau? Lalu kamu bertanya apa yang membuatku sedih? Aku terdiam. Jika aku terangkan maka kita tentu akan berbagi kesedihan. Tetapi.... Aku tetap diam. Bukan kesedihan yang kuingin kita untuk saling berbagi. Bukan. Maafkan andai pilihan ini sepihak. Tetapi.... Keegoisanku hanya ingin kamu tersenyum. Terhunus milyaran pedih aku tak peduli. Dan aku tidak akan menceritakannya. Karena yang kuingin kita saling berbagi senyuman. Berpalinglah dari segala kesedihan itu. Lihatlah aku dengan tersenyum meski perih jiwa dan ragamu. Akupun akan begitu. Berpaling dengan tersenyum hanya untukmu. Biarkan seluruh isi mesta menyaksikan kepedihan aku, kamu. Namun, saat menjadi kita, tersenyumlah. Tersenyumlah hanya untukku, kamu, kita. Meski hujanan perih memasung bahagia. Tetaplah tersenyum sebagai kita.

Perpanjangan Waktu

Tuhan, bolehkah aku hidup lebih lama? Bagaimana bisa aku meninggalkan dia sendiri melewati sisa masa tuanya sendiri? Bahkan jika aku tidak setega itu, Engkau pun tentu tidak tega padanya. Aku yakin Engkau tidak semengecewakan itu. Tuhan, bolehkah aku tinggal lebih lama? Lihatlah bagaimana dunia ini memperlakukannya secara tidak adil. Aku khawatir dia tidak bisa bertahan lagi jika tidak lagi ada yang tinggal di sisi. Engkau tentu berpikir yang sama tentang itu. Tuhan, bolehkah aku berjuang lebih kuat? Sungguh aku tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana Engkau melebihkan yang satu dibandingkan yang lain. Aku tidak paham kenapa harus ada penindasan dan kekejaman dari sosok sesama manusia. Aku cemas jika tidak berjuang lebih kuat akan menjadi begitu banyak kekacauan di bumi ini. Tuhan, bolehkah aku mengembalikan semua keinginanku tadi? Aku telah percaya pada takdir dan ketetapan-Mu. Kreator sempurna tanpa cacat ada pada-Mu. Keinginanku pasti hanya datang dari sudut pandan

Menikmati Hidup

Gambar
https://i.ytimg.com/ Hari ini apa yang terjadi? Andai cinta belum dipertemukan, tenanglah masih ada seribu hal yang bisa dinikmati dalam hidup. Yang pertama tentu saja sahabat. Andai sahabat tidak benar-benar selalu ada, tenanglah, masih ada alternatif lainnya. Salah satunya keluarga. Andai keluarga juga tidak sesempurna yang dibayangkan, tenanglah dunia ini masih bisa dinikmati. Mulailah menikmati setiap hal ketika semuanya sulit. Setidaknya itu menjadi obat agar hati dan pikiran tidak berpenyakit. Cukup menyenangkan ketika rasa syukur telah memenuhi setiap hambusan napas. Meskipun tidak semudah itu. Berlatih dan terus berusaha semaksimal mungkin menyikapi kebaikan yang telah diberikan oleh hidup bisa menjadi hal untuk dinikmati berikutnya. Lainnya, untuk tidak terlalu serius dalam hidup kadang butuh sedikit keegoisan, tetapi memutuskan bahwa hidup ini wajib dinikmati adalah keindahan. Seperti pertemuan kita hari ini. Aku menikmati hidup melalui dirimu. Menatap dunia dari

Mencintaimu

Apa itu cinta? Sejak awal aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak mengerti cinta. Lalu kamu bilang padaku untuk menjadi diriku sendiri. Begitulah cintaku bagimu. Bukankah aku yang paling malu pada diriku sendiri hingga aku tidak berani menunjukan pada orang siapa diriku? Jadi, jika kamu memintaku menjadi diriku sendiri, sungguh itu permintaan yang sulit. Hal apakah yang merupakan diriku sendiripun aku tidak tahu. Anggaplah aku sedang mengobati diriku sendiri. Mungkin butuh waktu lama. Dan, mungkin kamu tidak sanggup menunggunya. Maka carilah pelabuhan lain yang lebih kamu sukai. Aku akan urus diriku sendiri, sampai aku benar-benar siap. Bisa saja aku salah menilai diriku sendiri, begitu ucapmu. Lalu aku berpikir adakah yang lebih mengerti aku dari pada diriku sendiri. Atau bisa jadi ketika kamu memang benar, saat itu aku telah lelah berjuang pada diriku. Aku pun tidak mengerti bagaimana semua ini harus aku mulai. Jika kita berawal dari seorang teman, maka jadilah tema

Hanya itu

Kadang hidup memang harus selalu memulai dan meneruskan. Tidak bisa kita tahu bagaimana kelanjutannya atau bagaimana menghentikannya. Ketika jemariku sempat tak sanggup digerakan, ada banyak kenikmatan yang sering kali luput aku sadari. Aku paham aku adalah pendosa paling setia. Tidak pernah sedetikpun aku luput. 'Aku hanya manusia?' Begitulah dalihku acap kali terjebak pada kubangan dosa. Apalah aku selain kembali dan meminta pengampunan pada Yang Maha Kuasa. Setiap aku merasa ada banyak hal yang berjalan tanpa aku ingin. Aku ingin marah, berhenti bergerak dan menghilang dari peredaran dunia. Namun, apakah itu pantas. Aku hanyalah titik yang tidak jelas keberadaannya. Jika dibandingkan keluasan alam semesta ini. Apalah aku? Setiap kali aku berpikir untuk membangkang, pantaskah aku melakukannya? Setiap kali aku berusaha berjuang pada sebuah keinginan, layakah aku marah ketika hal tersebut tidak tercapai? Hingga aku menepis jauh sebuah keinginan untuk berkata ini t

Lewat Tengah Malam

Gambar
http://images1.prokal.co/ Sudah sebulan ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sejak tetangga baruku, membuka bisnis penjualan CD lagu bajakan. Aaah... apalah aku, ingin mengomel rasanya tidak cukup pantas. Jadi, biarlah aku yang tersiksa tidak bisa tidur. Mungkin orang lain justru senang karena mendapat hiburan baru. Lalu malam ini, aku sudah sampai diambang batas tubuhku. Iya, tidur dilarut malam bukan gayaku. Terlebih alarm tubuhku untuk bangun lebih pagi, akibat waktu tempuh rumah dan tempat kerja, memaksa waktu tidurku jauh lebih sedikit. Aku jatuh sakit karena kurang cukup istirahat. Aku paksa tubuhku bergerak untuk mengambil obat. Demam ini terlalu akut hingga tulang rusukku serasa ngilu untuk digerakan. Aku harus berjuang sendiri karena tidak ada siapapun yang tinggal bersamaku. Tapi biarlah, ini adalah pilihanku. Dengan susah payah aku raih kotak obat di dekat lemari. Aku gapai obat dengan kemasan merah untuk menurunkan demam. Sekuat tenaga aku kembali ke

Berhusnudzon

"Assalamualaikum penakluk mimpi!" Sapaku ceria di depan cermin. Beginilah rutinitasku sebulan terakhir. Menyemangati diri sendiri di setiap pagi sebelum memulai segala aktifitas. Ini semacam terapi juga untuk hati dan pikiran. Aku merasa ada hal yang membaik pada diriku. Meskipun awalnya sulit tapi kini senyum itu telah kembali. Senyum yang mudah namun cukup rumit menguntainya kembali. Sejak kejadian sebulan lalu, aku bertekad menata masa depanku dengan lebih bersemangat. Aku buka catatan lama tentang mimpiku yang harus tertunda. Sekarang saat tepat untuk menaklukannya. "Hari ini akan menjadi salah satu hari penting dalam hidupku," kataku lagi pada bayangan wajah di cermin. Aku sampirkan tas dengan sebundel berkas yang sudah aku rapikan semalam. Aku lahap sarapanku yang lezat dengan penuh syukur. Aku cium punggung tangan kedua orang tuaku sambil meminta restu kelancaran hari ini. Aku hirup dalam-dalam udara segar pagi hari tepat di gerbang rumah. "A

Kesepakatan

Siang itu aku lihat Ketika dua orang yang tidak saling mengenal Dipertemukan dalam niat keberkahan Mencari keridhoan Ada banyak tanya dalam dada Inikah ketidaksempurnaan logika? Berpikir pada hal yang tak dibakukan Menuntut pinta ada hal yang lebih besar Ketika dua orang yang tidak saling mengenal Dipertemukan pada keinginan bersama Penuntunnya bukanlah doa ketidakpastian Atau akal yang tak menemukan jawaban Pikiranku mungkin tak dapat Nalarku mungkin tak menyimak Jika masih hanya melulu tentang yang tampak Penat rasanya pekat Adakah mereka berpikir aku bertanya? Keanehan dengan banyak prasangka Mereka gila Atau aku tak waras Melihat mereka seperti berpikir setelah A dan B adalah huruf K Maniak yang tak paham urutan Sedianya hilang dikeraguan Malah kokoh dengan kedatangan Aku menyerah Untuk mengerti apa yang mereka katakan Melerai sebab akibat dan persangkaan Pada kelihaian menemukan jawaban Mungkin akhirnya memang harus percaya Ada hal lain yang leb

Berlari

Gambar
http://media.infospesial.net/ Seketika itu aku ingin berlari Menantang dunia milik orang dewasa Meski aku lemah dan tak berdaya Aku tak gentar Jika aku harus terjatuh Berguling, berdebam atau berdarah nanah Aku tak akan lemah Itu tekad dan janji yang aku ikrarkan Aku ingin berlari Meninggalkan kebodohan Menemukan kebaikan Walau tidak mudah Andai aku harus berkelut Dalam kubangan lumpur pekat Biarkan senyumku tetap mengembang Karena kebanggaanku memilih jalan yang benar Aku tidak ingin mati Berlumur kesalahan karena ketidaktahuan Aku ingin bertahan Pada harkat bagaimana manusia diciptakan Ketika aku putuskan beradu Melawan kenestapaan Lalu dipimpin oleh kepasrahan Akan penghambaan pada Tuhan Dari petunjuk yang diberi Kesempurnaan membawa perubahan Menjadi kebaikan hakiki yang benar Tanpa persimpangan dan tipu daya setan Maka biarkan aku berlari tanpa malu Menuju cahaya terang Bersama konsekuensi kesakitan Bukan dengan duduk diam surga didapatka

Lewat Slogan Konyol

Entah apa yang dipikirkan para pencetus slogan ini "Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat!". Terdengar heroik dan keren. Bahkan slogan ini sukses terpatri dalam benak pikiran selama bertahun-tahun. Lalu ingatkah bagaimana perjalanan waktu membawa pada sebuah bukti merosotnya perilaku manusia? Tanyakan pada lembaga survey. Berapa banyak peredaran homoseksual bergumul di banyak tempat yang identik dengan membuat tubuh sehat. Mereka tertular penyakit yang zaman dahulu pernah ditunjukan azab yang luar biasa. Bahkan tulang belulangnya masih ada. Sebagai bukti nyata hal tersebut bisa terjadi. Alih-alih slogan heroik dan keren. Justru slogan tersebut tak lebih dari slogan konyol yang merusak. Mungkin benar tubuh sehat, lalu apakah benar jiwa juga sehat? Apakah ada yang salah? Dimananya? Pada bagian dan pihak mana kesalahan itu muncul? Lewat slogan konyol jadi salah kaprah. Bisa jadi bukan dimulai dari tubuh yang sehat tetapi jiwa yang sehat. Bisa jadi bukan b

Review Hijrah Oleh Denik

Gambar
http://ceritadenik13.blogspot.co.id Judul : Hijrah Penulis : CeritaDenik13 (Denik) Genre : Fiksi "Aku gak suka!" "Kenapa?" tanyaku dengan lembut. Hening. Tak ada jawaban. "Pokoknya gak suka!" teriaknya. "Iya. Tapi kenapa? Beritahu alasannya? kataku mulai emosi. Cuplikan dialog di awal cerita Hijrah milik Denik mengundang rasa penasaran untuk melanjutkan dibaca. Siapakah 'Aku' dan tokoh yang bertengkar dalam dialog tersebut? Apa alasan pertengkaran mereka? Beberapa pertanyaan mendasar langsung menyerang pikiran. Sejurus kemudian, cerita berlanjut secara deskriptif. Pada penggambaran rumah yang dilihat oleh tokoh 'Aku'. Penggambaran tersebut dibumbui dengan emosi yang dialami oleh 'Aku'. Disebutkan juga bagaimana sejarah adanya rumah tersebut. Selanjutnya penulis menyajikan kisah masa lalu 'Aku' dan tokoh yang di awal cerita dikisahkan bertengkar dengan 'Aku'. Ternyata toko

"Selamat Malam, Pak Tua!"

Gambar
Hai Pak Tua! Apa yang kau lihat? Keindahan senja? Atau ratapan sunyi gubuk tua usang? Kau tak pandai, Pak Tua! Tanah airmu sudah di ujung tanduk Sama seperti menunggu senja ini redup Tak akan lama, dan tak butuh lama-lama Kenapa Pak Tua? Kau sedih? Kau paham sekarang arti penyesalan Dan ketidakberdayaanmu melawan Kau mau terus meratap? Atau mau terus diam dan melihat? Sungguh lancang kau, Pak Tua! Salah apa kami padamu? Kami tak pernah mengerti Tiba-tiba divonis menanggung hutang Kami tak pernah dipedulikan Tiba-tiba diminta pungutan Apa salah kami, Pak Tua? Bumi kita, kau telanjangi Kekayaan kita, kau bagi dengan sekongkolanmu Aah... Pak Tua, apa dosa kami padamu? Kini usiamu sudah seperti senja Sementara usia kami bagai fajar Masih banyak waktu bersama derita yang kau tinggalkan Sementara kau sesaat lagi akan pergi bersama senja Lalu kami hanya bisa berucap "Selamat malam, Pak Tua!"

Kerasukan Setan

Perbincangan sore itu makin pelik. "Kalau bekerja untuk mengejar harta, maka jadilah koruptor. Titik!" Tegas lelaki bermata besar yang bola matanya nyaris keluar dari porosnya. "Apa hidup tidak perlu uang? Makananmu, pakaian yang kamu kenakan atau rumah yang kamu tinggali. Dari mana semua itu jika bukan dengan uang?" Sahut lelaki bertubuh tambun tak mau kalah. "Ambil ini... ambil ini...!" Pekik lelaki bermata besar meletakan segepok uang di atas meja diam diantara mereka. "Kamu menyakiti harga diriku. Aku bukan pengemis! Aku hidup dengan guyuran keringat, kerja keras dengan otak!" BRAAAKK!!! Lelaki bertubuh tambun tidak bisa lagi menahan amarahnya. Meja diam itu dipukulnya keras-keras, hingga berhamburan uang di atasnya. Lelaki bermata besar hanya tersenyum mengejek. Menyaksikan partner debatnya telah marah memberi kepuasan dalam hatinya. "Apapun hasilnya, kamu telah marah. Dan terbukti akulah pemenangnya. Ha

Tiang

Benarkah ini adalah akhirnya? Aku ingat bagaimana dahulu, aku diletakan. Satu demi satu aku disusun hingga kokoh dan menjulang tinggi. Aku diperhalus dan dipercantik dengan warna kesukaanmu. Awalnya aku sungguh tidak tertarik berada diantara kalian. Aku selalu berharap hidup di pertokoan elit dengan hembusan udara minus sekian dari pengatur suhu ruangan. Pasti menyenangkan melihat pakaian mentereng mereka. Aku justru terperangkap pada keluarga sederhana ini. Aku kesal sekali ketika anak balita mereka mengotori tubuhku. Mereka mencoret dan dengan seenaknya melempar apa saja ke arahku. Seiring berjalannya waktu, aku saksikan mereka terus tumbuh. Aku berkali-kali bahagia dengan warna berbeda pada tubuh. Tentu itu membuatku merasa seperti baru terlahir. Semua adegan dan bab kehidupan keluarga mereka, aku paham dengan baik. Segalanya mencakup kisah sedih maupun senang. Aku pun menjadi bagian dari perjalanan itu. Sampai akhirnya kematian jugalah yang akan memisahkan kebersamaan s

Tidak Benar-Benar Terisi

Gambar
"Istiqomahkan dirimu dengan berhusnudzon kepada Allah," sambung lelaki bermata sipit. Myra tidak pernah terlihat semuram ini. Bahkan ketika kedua orang tuanya direnggut selamanya oleh kecelakaan maut tunggal di salah satu jalan tol itu. Dialah Hendra, tempat Myra selalu berkeluh kesah. Myra selalu takzim dengan tutur dan kelakuan Hendra. "Aku selalu tentram setelah bercerita denganmu. Maukah kamu menghabiskan sisa hidup bersamaku?" "Hahaha.... Kamu selalu seperti itu, lugas dan tegas. Aku pun selalu belajar dari setiap kisahmu...." Suasana mendadak sunyi ketika kedua pandangan mereka bertemu. Myra berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. Sementara Hendra tak kuasa menyimpan smeu di rona pipinya yang tampak kemerahan. "Hahaha...." Kekeh Myra memecah suasana yang makin tidak nyaman. Myra beranjak dari tempat duduknya. Beberapa langkah maju membelakangi Hendra. Senyumnya melemah. Tarikan napasnya da

Berbagi Kebingungan

Malam ini memang terasa berbeda. Kalau dipikir-pikir lucu sih kenapa baru terpikirkan sekarang. Itu pun harus ditepok dulu, baru bisa ngeh. Intinya ini tentang kemunculan banyak pertanyaan yang sebenarnya dasar dan klasik. Tapi mampukah kita menjawabnya dengan keyakinan seratus persen? Bagian ini tentu butuh banyak amunisi pengetahuan yang terpercaya. Dan, rasanya jadi mau sedikit jahat berbagi kebingungan ini. Ini tentang negara yang legendaris. Zamrud khatulistiwa katanya. Kekayaannya tidak hanya di darat dan laut, dalam perut bumi pun melimpah. Asetnya tidak terbilang. Ibarat perempuan tuh udah sholehah, cantik, sederhana, cerdas pula. Paket lengkaplah pokoknya. Ternyata setiap penduduknya menanggung banyak hutang. Kapan berhutangnya tidak ketahuan, tau-tau hutang aja. Kekayaannya yang paket lengkap malah penghasilan utamanya dari pajak. Biar keren dibuat amnesti segala. Padahal tertulis aset negara dikelola negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Tapi, rakyat ma