Berbagi Kebingungan

Malam ini memang terasa berbeda. Kalau dipikir-pikir lucu sih kenapa baru terpikirkan sekarang. Itu pun harus ditepok dulu, baru bisa ngeh. Intinya ini tentang kemunculan banyak pertanyaan yang sebenarnya dasar dan klasik.

Tapi mampukah kita menjawabnya dengan keyakinan seratus persen? Bagian ini tentu butuh banyak amunisi pengetahuan yang terpercaya. Dan, rasanya jadi mau sedikit jahat berbagi kebingungan ini.

Ini tentang negara yang legendaris. Zamrud khatulistiwa katanya. Kekayaannya tidak hanya di darat dan laut, dalam perut bumi pun melimpah. Asetnya tidak terbilang. Ibarat perempuan tuh udah sholehah, cantik, sederhana, cerdas pula. Paket lengkaplah pokoknya.

Ternyata setiap penduduknya menanggung banyak hutang. Kapan berhutangnya tidak ketahuan, tau-tau hutang aja. Kekayaannya yang paket lengkap malah penghasilan utamanya dari pajak. Biar keren dibuat amnesti segala.

Padahal tertulis aset negara dikelola negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Tapi, rakyat macam mana yang sejahtera? Yang tanahnya dikeruk sampai berlubang sebesar itu saja tidak terdengar gaung sejahteranya. Di sana semua tetap mahal dan sulit didapat.

Bukan hanya itu, setiap lima tahun sekali visi misi juga diumumkan. Diadu berkali-kali. Namun, masih saja ada hutang, masih juga banjir, masih belum selesai perkara macet. Bagian mana yang salah?

Peraturan sudah ada, yang belum akan dibuat. Hukum ditegakan. Ideologi ditekankan berkali-kali. Inovasi revolusi mental diproklamasi. Namun, adakah jumlah kejahatan menurun?

Agaknya kurang etis jika menunjuk individu atau yang lainnya tanpa pertimbangan. Bukankah tindakan terjadi kerena pola pikir dan keyakinan? Lalu pola pikir dan keyakinan adalah hasil dari informasi yang ada di sekitar kita.

Andai kata semua fenomena ini berujung pada informasi, bukankah patut dipertanyakan informasi yang kita peroleh apakah baik atau buruk? Jika semua fenomena ini tervonis buruk, bolehkah kita mengucapkan informasi yang kita terima buruk?

Telah berulang kali Tuhan begitu menyayangi negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia ini. Saat air laut ditumpah ke darat, apa yang tersisa? Berdiri kokoh bangunan masjid. Saat penguasa terlalu tamak, apa yang terjadi? Dijadikan lautan lumpur, gunung meletus, gempa bumi, longsor dan bencana alam lainnya. Tidakkah itu menjadi pengingat?

Sekali lagi, apa yang terjadi sebenarnya?

Bagian mana yang salah jika konsep input-proses-output ditelaah?

Tentulah semua itu kembali pada petunjuk yang hakiki. Sekarang bagaimana kita memposisikan diri? Maukah menjadi bagian dari solusi atau menjadi bagian dari masalah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran