Mencintaimu

Apa itu cinta? Sejak awal aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak mengerti cinta. Lalu kamu bilang padaku untuk menjadi diriku sendiri. Begitulah cintaku bagimu.

Bukankah aku yang paling malu pada diriku sendiri hingga aku tidak berani menunjukan pada orang siapa diriku? Jadi, jika kamu memintaku menjadi diriku sendiri, sungguh itu permintaan yang sulit. Hal apakah yang merupakan diriku sendiripun aku tidak tahu.

Anggaplah aku sedang mengobati diriku sendiri. Mungkin butuh waktu lama. Dan, mungkin kamu tidak sanggup menunggunya. Maka carilah pelabuhan lain yang lebih kamu sukai. Aku akan urus diriku sendiri, sampai aku benar-benar siap.

Bisa saja aku salah menilai diriku sendiri, begitu ucapmu. Lalu aku berpikir adakah yang lebih mengerti aku dari pada diriku sendiri. Atau bisa jadi ketika kamu memang benar, saat itu aku telah lelah berjuang pada diriku. Aku pun tidak mengerti bagaimana semua ini harus aku mulai.

Jika kita berawal dari seorang teman, maka jadilah teman hingga akhir. Jika kita berawal dari seorang yang tidak dikenal maka jadilah si asing itu hingga akhir. Jika kamu menginginkan lebih dari itu, aku hanya takut banyak melukaimu karena ketidaksamaan pribadiku.

Karena aku tak pernah sama. Aku berubah setiap saat. Ketika harus menjadi teman, aku akan menjadi teman. Ketika harus menjadi asing, aku akan menjadi asing. Aku tidak tahu yang manakah diriku sebenarnya. Begitulah aku andai kamu ingin tahu.

Sampai detik kamu masih terus berjuang, justru aku berharap kamu patah karena belatiku. Aku ingin kamu menyerah karena seranganku. Lalu aku berkata pada diriku sendiri akibat ketidakmampuanmu. Padahal aku telah menyerangmu dan menyerang diriku sendiri.

Aku bodoh. Memang.

Karena mencintamu merupakan perlawanan dalam diriku sendiri.

Aku pembohong. Memang.

Karena mencintaimu adalah kebohongan terbesar dalam hidupku.

Aku pun terkadang lelah memerangi diriku sendiri. Ketika aku ingin seluruh dunia mengerti diriku. Sejurus kemudian aku bahkan mendapati bahwa tidak penting akan ada atau tidaknya aku.

Jika tahu sesulit ini rasanya mencintaimu. Bagaimana aku akan mengerti apa itu cinta. Jika serumit ini menjadi diri sendiri. Bagaimana aku mendampingimu hingga akhir nanti.

Biarkan aku siap. Entah sampai kapan. Biar aku mengobati lukaku. Namun entah luka yang mana. Begitulah caraku mencintaimu dengan mengikat erat tali pada leherku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran