Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Ramadhan Penuh Cinta

Pada setiap Ramadhan Kita diberikan banyak cinta Untuk memberi, membagi, mengasihi dan menyayangi Dalam Ramadhan kita tahu bahwa cinta adalah bagian terindah darinya Banyak waktu bersama keluarga, silaturahmi dengan banyak teman dan saudara yang jarang bertemu, bahkan waktu istimewa bersama Sang Pemberi Cinta Keromantisan mana lagi yang padanya sepi terasa nyaman, sendiri serasa terpeluk hangat Padanya, Ramadhan, cinta tidak pernah pergi kemana-mana Ada banyak cara untuk kembali Menjalin seperti rajutan kasih Bagaimana ada hati yang menanti kedatangannya? Karena cinta akan dibagikan dengan indah Karena dalam naungannya gelap menjadi pelangi Apakah ada yang tak paham dengan suara dalam kasih cinta?

Terlambat

Aku menatap jam di lengan kananku. Sudah 30 menit berlalu sejak perjanjian awal kita bertemu. Aku rela jika kamu tidak datang. Namun, rasa kesal di dada tetap tidak bisa aku sembunyikan. Betapa canggih teknologi saat ini, apakah sekalimat kabar tidak bisa disampaikan? Minuman yang aku pesan sudah lumer mencair. Belum juga ada tanda-tanda kedatanganmu ke sini. Aku lihat sekali lagi gawai yang tergeletak di meja. Tidak ada notifikasi adanya pesan atau hal lain yang menyangkut kamu. Mungkin sudah saatnya aku berhenti menunggu. Aku pulang Pesan singkat yang langsung aku kirimkan padanya. Ceklis dua. Aku berharap segera mendapat balasan. Sepertinya hanya angan saja. Lima menit berlalu ceklis dua itu belum berubah warna. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Tentu dengan kekecewaan. Iya, menunggu memang tidak pernah menyenangkan. Berkali-kali kepercayaan itu aku berikan. Berkali-kali juga kamu kecewakan. Sudah cukup. Hatiku bukan ruang yang cukup untuk menerima kekecewaan ya

Malam Ke-23 Ramadhan 1438 H

Malam apa ini? Tertulis tanggal 23 Ramadhan 1438 H. Aku tertegun. Mungkinkah malam ini adalah malam Lailatul Qadar? Dimana semua doa yang dipanjatkan terkabul. Dimana setiap napas menjadi zikir. Dimana setiap malaikat turun ke bumi, mencari hamba-Mu yang tergugu khusyuk di mimbar shalat. Malam ini, apakah aku cukup pantas mendapatkan kemuliaan itu? Bukankah aku berlumur dosa bersimbah kekejian manusia? Aku? Apakah aku benar-benar layak mendapatkan kesempatan itu? Sang Pencipta Hidup. Sang Pemilik Semesta. Sang Maha Kuasa. Apalah aku ini? Aku selalu sibuk dengan urusan dunia. Lalai menjaga shalat, terlambat datang ke mesjid atau keasikan tidur selepas sahur. Lalu tau-tau sudah tinggal hitungan jari Ramadhan akan pergi. Bahkan aku belum memberikan jamuan yang terbaik sebagai oleh-olehmu nanti. Malam ke-23 Ramadhan 1438 H. Aku sungguh merasakan nikmat itu. Ada sesuatu yang dikabulkan. Ada yang tak terduga datang. Aku nyaris tak berani kembali mengingat sedetikpun apa yang baru saja

Celotehan

Pertemuan memang bukan berarti kebersamaan yang panjang, apalagi selamanya. Barang kali kita hanya dipertemukan untuk sekedar bertemu. Mungkin bisa lebih lama dari itu. Walaupun kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi, yang terpenting terus saja berjalan dan jangan berhenti. Saat pertama kamu datang. Aku terbersit sedikit kemungkinan kisah kita di masa depan. Dengan inti kemungkinan kita akan saling mencoba untuk mengerti pada dunia berbeda yang selama ini kita jalani. Mencoba menemukan persamaan dari kedua dunia itu. Kamu suka pada kecanggihan bahasa dalam sebutan program. Sedangkan aku suka pada keindahan kata dalam sebutan aksara. Jika diandaikan, mungkin suatu saat nanti aku akan menulis lebih hebat karena bantuan program darimu. Ah.. sungguh seperti anak kecil saja aku ini. Bermimpi di siang hari bolong. Beberapa saat aku terlena. Kemudian kita mulai membicarakan banyak hal. Aku tahu kamu mencoba menjadi apa adanya kamu. Begitupun denganku. Mencoba menjadi apa adan

Selalu Dijawab

Bukan hanya di mulut. Seharusnya aku tidak perlu takut, pada perkara dunia yang tidak pernah berhenti berkelut. Membuat yang terpikir justru makin sulit tercapai. Alhasil merasa kecil dan lemah menertawai penuh bahagia. Aku tak pernah mengerti pada hati yang kantuk pada akhir dari cerita hidup. Bukankah ketidakpastian itu sendiri yang paling menakutkan? Bukan masalah ketidakmampuan personal. Terlebih kecantikan semata. Saat hatiku kalut. Memeluk diri sendiri adalah cara paling ampuh. Untuk terus berjalan sampai paruh. Meskipun terseok kaki menuju berlabuh. Sudah tak penting bagaimana manusia berkata dan berbuat. Tak lagi berpengaruh pada hidup yang semakin tak layak. Sayang aku tak punya Kuasa untuk menghentikan. Hanya berusaha mengubah pada diri sendiri lalu merefleksikan. Sampai dipenghujung garis hitam bertemu terang. Aku tak sadar telah merapalkan banyak kata permintaan dan pengampunan. Lalu menunggu bukan jd persoalan. Karna darinya semua itu terjawab. Selalu dijawab. Tak

Tips Tetap Menulis Di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan memang bulan yang selalu dinanti umat muslim. Bulan Ramadhan tak pernah sepi dari berbagai ciri khasnya sejak subuh hingga magrib. Selain fokus dalam beribadah, kita juga dituntut untuk fokus dalam menjaga semangat. Karena menjaga tubuh tetap prima bukan perkara mudah. Dilansir dari www.cermati.com menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik Samuel Oetoro mengungkapkan penyebab orang cepat lemas saat berpuasa disebabkan karena jumlah kadar gula dalam tubuh yang semakin lama akan semakin berkurang. Oleh karena itu, pemilihan makan yang tidak tepat saat sahur bisa mempengaruhi kondisi tubuh di siang hari. Lalu apakah puasa bisa dijadikan alasan bermalas-malasan dan tidak produktif dalam bekerja terutama untuk menghasilkan tulisan? Perfectly not . Berikut tips agar kita bisa tetap menulis di bulan Ramadhan. 1. Pilih Waktu Saat Tubuh Masih Segar Ketika sedang berpuasa, sudah secara alamiah tubuh kita akan berangsur kekurangan asupan gizi yang ujung-ujungnya mengaki

Di Pojok Ruangan

Gambar
www.wartasolo.com "Duduklah dimanapun kamu mau duduk!" Pekikku kesal kepadamu. Kamu yang selalu datang ke rumahku. Menggangguku dengan keanehanmu. Datang tiba-tiba pulang tanpa bicara. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Tak habis pikir aku jadinya. Kini kamu duduk di pojok ruangan, seperti biasa. Aku hanya menghela napas panjang. Mencoba berkali-kali sabar pada kelakuanmu yang tidak kunjung memberikan pemahaman. "Aku hanya akan diam di sini. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu yang belum selesai," seperti itu lagi ucapanmu. "Baik aku akan pergi meninggalkanmu di sini. Sendiri!!!" Jawabku ketus sambil berlalu. Meskipun aku mencoba untuk tidak memperhatianmu. Namun, berkali-kali pandanganku tanpa sengaja mengarah padamu. Penasaran apa yang kamu lakukan. Dan selalu tidak ada. Bahkan kamu akan betah berjam-jam mematung seperti itu. Sungguh sulit dipercaya. Aku sesekali melewatimu. Melayangkan tatapan sinis. Kamu tetap tidak berg

Bahagiakan Mereka

Sore ini setelah adzan Ashar berkumandang dan semua penghuni panti melaksanakan shalat berjamaah, ruang pertemuan panti asuhan mulai ramai. Kalau bukan karena ada acara spesial seperti santunan, buka puasa bersama atau keduanya, biasanya kami sudah kembali bergelung selimut di kamar masing-masing. Kecuali anak-anak perempuan yang harus kembali ke dapur untuk mempersiapkan menu berbuka puasa. Kakak-kakak cantik dan lumayan tampan, karena aku laki-laki maka aku tidak mau menyebut mereka lebih tampan dariku (Hehe...), memang sudah tiba sejak satu jam yang lalu. Mereka langsung menurunkan bungkusan-bungkusan nasi, berkardus-kardus minuman dan entahlah plastik yang tidak jelas apa yang ada di dalamnya. Yang pasti semua itu adalah pertanda bahwa hari ini kami akan mendapat rejeki lebih enak. Seperti sudah tersetting begitu saja, kami juga harus terlihat ceria dan antusias. Walaupun lebih sering acaranya membosankan dan begitu-begitu saja. Namun, kami apresiasi dengan kerja keras mereka

Sulap Sang Magician

Sesaat lagi kotak hitam itu akan terbuka. Semua pasang mata yang hadir, nyaris lebih dari seratus orang menatap penuh rasa penasaran. Mata mereka tidak berkedip sekalipun. Takut kehilangan momen paling bersejarah ini. Setelah menunggu hampir satu minggu, penduduk bergantian berjaga siang dan malam, untuk mengamankan kotak hitam tidak tersentuh siapapun dan tetap berada pada tempatnya. Sampai pada hari yang ditentukan untuk membukanya. Dan hari ini adalah saatnya. Segenap pejabat desa sudah siap berada dibarisan depan. Pengawal keamanan dari preman hingga aparat negara siap tempur kapan saja. Penduduk kampung tetangga dari dekat hingga jauh ribur berebut posisi terdepan. "Ayo ke depan biar kelihatan," ujar seorang ibu kepada anak lelakinya. Beberapa waktu kemudian, yang ditunggu datang, Sang Asisten Magician. Katanya kotak hitam itu akan menjadi saksi bahwa guru besarnya telah menguasai sulap langka di dunia. Belum ada yang benar-benar bisa menguasainya hanya

Pikiran Kucing

Perjalanan ini seharusnya membuatku siap untuk terjatuh. Berbenturan dengan tanah. Berubah bentuk karena benturannya. Aku tak tahan bukan karena tak pandai bersyukur. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang tersisa dari diriku. Sesuatu yang disebut harga diri. Harga diriku bukanlah bernilai harta. Dia suci dan terhormat. Jauh dari segala itu karenanya aku selalu bisa melewati setiap rintangan. Kalian pikir aku ini apa? Seonggok daging bertulang dan berkulit yang hidup dalam rutinitas? Bukan seperti itu. Aku jauh lebih mulia. Dicintai kekasih sejati. Meski tak berakal kekar, aku merasakan apa yang kalian pikirkan. Tak bersuara aku memilih. Mendatangi mereka yang ada tanda berkah di hati.

Patah Hati Itu

Patahnya hati itu Karena tidak pernah dihargai Dianggap lalu Sambil berlalu Patahnya hati itu Karena ketidakmengertian Bisu dianggap berbicara Buta dianggap melihat Patahnya hati itu Karena terlalu cepat mengambil kesimpulan Berhujat tanpa pertimbangan Berkata tanpa pengklarifikasian Patahnya hati itu Karena kamu Menggandeng dia yang lain Hingga lupa akan mati Patahnya hati itu Saat berpulang tanpa perbekalan Sepi ditimbun gelap Sunyi dilahap buruknya perilaku

Komitmen Diri

Aku mulai lagi berjalan dengan komitmen diri Tidak untuk siapapun dan tidak mencari apapun Hanya berjuang memenangkan diri Yang katanya disebut manajemen diri Aku paham ini bukan simsalabim Butuh kerja keras dan berlatih Menjadi kuat dan terhebat memang bukan harga mati Tapi tidak takut lagi pada diri sendirilah yang hakiki Sementara memang tidak perlu berharap tinggi Prestasi juga akan datang sendiri Setelah bagus kau menimpa diri Dengan percaya potensi diri Bukan untuk kalah manusia tercipta Bukan juga untuk mengalah pada yang bukan hak Perjuangkan saja sebisanya Selanjutnya biar takdir yang angkat bicara Sampai komitmen diri berdikari Aku akan menjadi terburuk yang kelak menjadi terbaik Walau harus bersimpuh pekat keringat Meski berhujat caci maki hinaan

Aku Harus Apa?

Saat malam terlalu gelap Saat siang terlalu terik Saat hujan terlalu lebat Saat guntur terlalu memekik Yang di seberang telah meringis Terpecut batang duri hangus Terbelit tali temali kusut Yang nafasnya mulai tertarik lirih Aku bertanya ada apa? Gelap justru membuat takut Aku berpikir ada apa? Terik kian menusuk Aku mencari jawab pada bintang Lalu dijawab hujan Aku menari atas bentuk awan Malah disambut guntur berdera Jadi aku harus apa? Balik kanan bubar jalan Atau lari dari kenyataan Atau melipir dari kenangan

Kabut

Kabut ini mengingatkanku padamu Hal yang tidak pernah benar-benar bisa aku pahami Aku merasakanmu tetapi tak kunjung mampu menyentuhmu Aku melihatmu tetapi tidak utuh mampu memandangmu Kamu bilang akan di sini selama yang aku mau Sejujurnya itu kebohongan paling indah Tapi biarlah aku percaya Meskipun sesaat kemudian kamu hilang tak berbekas Bukankah aku juga punya janji padamu? Untuk tidak menggigil dalam dekapmu Atau berair melihatmu hilang dalam senyap Namun apalah aku Jadi biarkan sekali lagi aku mengingatmu dalam kabut ini Menggigil dalam dekapmu Berair ditinggalkan olehmu Untuk terang-terangan berbohong besok tidak akan lagi