Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Untukku 24 tahun 4 bulan

    Halo kamu.. iya kamu yang sedang menulis ini. I'm so proud of you. Because you never give up to everything. Keep smile and always follow your heart. Bagaimana pendewasaanmu setelah 24 tahun 4 bulan?     Membahas pemdewasaan, aku dan kita semua completely feel that times. Sadar atau tidak semua faktor eksternal dan internal membuat kita dewasa, semacam paksaan tapi tidak juga karena seperti yang banyak dikatakan orang bahwa dewasa itu adalah sebuah pilihan dan tua adalah pemberian, itu benar, sangat benar. Sekali lagi pendewasaan bagiku adalah proses teragung yang Tuhan ciptakan untuk hambaNya, kompleks tapi sesederhana itu untuk dipahami, dashyat bukan?     Mungkin berbicara pendewasaan di usiaku 24 tahun 4 bulan adalah bagaimana cinta yang datang harus disikapi. Aku tahu, umurku sudah sangat layak memasuki jenjang pernikahan. Ibu juga tiada hentinya mengingatkanku saat usiaku 25 tahun, aku harus menikah, begitulah doa seorang ibu, dan aku tidak pernah menolak atau menentangn

Sedikit Tersadar

    Hallo pembaca! Rasanya sudah lama sekali jari-jari ini tidak berbagi kisah. Rindu rasanya. Tapi, apalah daya, terkadang yang dipikrkan tidak sampai hati untuk dituliskan. Bukan karena ketidakinginan untuk berbagi, namun kebulatan tekad yang akhirnya terkalahkan oleh rasa malas. Berbeda dengan malam ini. Tekadku kuat menyala, ingin rasanya aku tuliskan kejadian ini. Kejadian yang membuatku sedikit tersadar.     Seperti yang sudah sering aku katakan. Aku adalah pemimpi, tapi bukan pemimpi seperti tokoh-tokoh hebat di Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Aku seluruhnya seorang pemimpi, putri tidur, putri dalam khayalan, putri yang membuat dunianya sendiri, atau putri idealis yang tidak pernah dewasa. Mungkin karena itu Tuhan menegurku. Berpikir bahwa poros dunia adalah diriku. Berpikir bahwa tanpaku dunia ini akan kehilangan. Berpikir bahwa orang disekitarku akan merasa kurang bahagia tanpa adanya kehadiranku. Tetapi, nampaknya malam ini bukannya semakin lelap bermimpi, aku malah sed