Pencari Kasih

https://encrypted-tbn0.gstatic.com
Mari kita menaikan sebuah standar keromantisan. Jika seringkali senja dikaitkan dengan romantis maka mega merupakan yang paling romantis. Bukankah semburat jingga mega lebih indah dan mengagumkan? Lantas melihat mega seperti memberi dorongan pada jiwa dan raga untuk hidup kembali dan semangat lagi mengawal hari.

Ya, seperti hari ini. Aku melihat mega itu. Katamu, "Tataplah meskipun sinarnya menyilaukan. Di sanalah sensasi kenikmatannya berasal."

Aku hanya terdiam. Aku tahu kamu selalu memiliki cara unik menjadi bahagia. Aku suka itu. Sejak dulu. Entah bagaimana, jantungku tidak pernah bisa berhenti melihat wajah tampanmu diterpa kilau mega itu.

Aku gugup. Sungguh.

"Hei!" tegurmu ketika aku hanya menatap kosong wajah di hadapanku.

"Tidak perlu terpesona seperti itu. Aku tahu bahwa aku sangat tampan. Namun, aku juga tahu bahwa aku akan mati tidak lama lagi."

Terkutuklah kata 'mati' itu! Aku geram tetapi tidak ingin merusak suasana ini. Di mana akal sehatmu sehingga kamu percaya ketika ada seorang manusia yang sama lemahnya dengan kita mengatakan bahwa usiamu sudah tidak akan lama lagi. Sungguh, aku membencimu dalam hal satu ini.

Aku hanya terdiam lagi. Tidak ingin menunjukkan ada dengki di hati ketika kata 'mati' itu disebut.

"Ahahaha. Apa kamu tahu, yang terbaik dari dirimu adalah kamu tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang ada dalam kepalamu? Katakan jika kamu tidak suka dengan kata mati yang aku sebut. Bukankah itu realita? Kamu ingin protes dengan hal itu? Katakan! Aku suka mendengar argumenmu yang sering kalah dengan argumenku."

"Ya... ya... ya.... Jika ada award pembaca pikiran pasti kamu juaranya. Aku memang tidak suka jika kamu berkata akan mati. Kenapa kamu harus percaya pada mereka? Bukan mereka yang memberi hidup ini. Kamu pasti sembuh. Aku ada di sini untuk selalu menyemangatimu. Duh, aku tdak ingin berargumen. Aku hanya ingin bersamamu lebih lama lagi. Lebih lama lagi. Itu saja."

"Ah, istriku yang terbaik sepanjang masa. Nanti akan aku tunggu kamu di telaga Kautsar, okeh?" pelukan hangat mendarat di tubuhku.

Beberapa saat aku merasakan susut tubuhmu semakin banyak. Dahulu aku tidak bisa meraih pergelangan tangan saat memelukmu tapi sekarang aku bahkan bisa memegang erat pergelangan tanganku agar kamu tidak hilang.

"Sudah, sudah. Jika terlalu lama nanti kamu menangis."

"Apa kamu akan selalu seiseng ini sampai ...."

"Mati! Tentu saja. Ahahaha."

Pelukanmu kembali mendarat di tubuhku. Kita harus apa sekarang, Mas? Segala macam pengobatan sudah dilakukan tapi kanker paru-parumu tidak juga sembuh. Mungkin ini penebusan dosa kita pada Tuhan karena aku tidak mencegahmu dengan giat supaya kamu berhenti merokok. Dan, kamu juga tidak berusaha dengan sungguh-sungguh agar berhenti merokok.

Entah berapa lama lagi sisa umurmu sebenarnya. Walaupun begitu, jika Tuhan memberikan pilihan untuk hidup kembali dengan kisah seperti apa, aku ingin kisah kita tetap seperti ini. Karena dengan begini kita bisa bersama-sama pergi ke majelis taklim, kita bisa menangis bersama mengingat kebesaran-Nya dan kita bisa tertawa bahagia di atas penderitaan kita. Mungkin cuma sama kamu aku bisa begini. Aku bisa merasa sempurna. Padahal, kedua kakiku harus diamputasi karena diabetes keturunan yang kumiliki.

Tuhan andaikan boleh aku meminta, tolong jadikan kami pencari kasih-Mu hingga akhir hayat kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran