Ketika Kuputuskan Memindahkan Cara Menggapai Rezeki-Mu

Sejak 4 bulan di dalam kandungan, ketika ruh ditiupkan pada gumpalan daging yang tidak bernyawa, ketika itu disempurnakan juga 3 perkara dalam hidup seorang manusia, yaitu mati, jodoh dan rezeki. Lalu bagiku, tepat setahun yang lalu, ketika kuputuskan memindahkan cara menggapai rezeki-Mu, kini aku bangga melihat diriku sendiri. Memang masih jauh dari kesuksesan tapi rupanya ada yang lebih nikmat dari itu. Iya, hal itu adalah sebuah proses.

Pagi ini, senyumku agak sumringah. Layar pengingat di ponsel pintarku menampilkan tulisan 'Hari Terakhir'. Cukup mengerikan jika tidak melihat secara utuh isi pengingatnya. Ternyata tepat setahun yang lalu aku memilih salah satu keputusan hebat untuk menjalani hidup ini. Resign.

Aku mantap untuk keluar dari kantor lamaku bukan karena salary yang ditawarkan sedikit. Bukan juga karena tekanan pekerjaan yang tinggi seperti bekerja bagai kuda. Bahkan kantor lamaku bisa dijangkau hanya sekitar 15-20 menit dari rumah. Hei! Untuk kota urban seperti ini, jarak kantor dan rumah bisa ditempuh hanya dalam waktu 15-20 menit merupakan anugerah terindah.

Apakah ini berarti aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki saat itu?

Bolehkah aku menjawabnya dengan tertawa terlebih dahulu?

Oke. Mungkin aku kurang menjelaskan betapa nyaman kantorku dulu. Sekarang aku mau kalian membayangkan. Kantor lamaku merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi. Proyek besar. Keuangan lancar. Maka hiduplah semaumu, Nak!

Apalagi posisiku di sana cukup penting. Anggaplah aku yang mengurus langsung semua proyek itu. Mengerjakan laporannya dan berhubungan langsung dengan klien. Menarik, tentu saja! Menyenangkan, sudah pasti! Dan satu hal yang selalu dinanti, yaitu bisa bekerja di luar ruangan. Sungguh tipe milenial sekali ya.

Selain itu, kantor lamaku juga hanya memiliki tiga pegawai office hour yang usianya sebaya. Alangkah bahagianya ketika hari kerja hanya ada kami bertiga dan tentu saja ruangan kerja akan disulap ramai oleh gosip dan lantunan lagu. Mungkin jika bisa dihitung, kami bertiga mampu mengeluarkan 10 album kompilasi yang keren.

Hari-hari berlalu dengan menyenangkan. Meskipun sesekali kami harus rela dibuat kesal oleh kelakuan Boss. Ya seperti pada umumnya seorang Boss. Boss kami pun termasuk dalam definisi tersebut. Pintar menyuruh, selalu benar, always be first, seenaknya dan "Turutin gue atau loe selesai!".

Pesan untuk kalian yang masih terperangkap dengan Boss seperti itu, mari kita satukan kekuatan untuk membasmi kelakuan para Boss. Caranya? Tentu saja resign, guys! Just a simple do. Tapi akibatnya panjang ya. Apalagi kalau kalian sudah memiliki kewajiban untuk menanggung nafkah seseorang. Baiklah, we'll keep it.

Tapi, bukan karena itu pada akhirnya aku memutuskan untuk resign. Ketika kuputuskan memindahkan cara menggapai rezeki-Mu, aku bersyukur ada hidayah yang Tuhan berikan. Mungkin sang hidayah sedang mampir saja saat itu. Namun, aku memintanya untuk tetap tinggal lebih lama. Baiklah, aku mengakui bahwa ada cinta baru yang Dia sematkan di hatiku. Sungguh ini kebenaran dan sampai detik ini aku masih terus diajak jatuh cinta berkali-kali pada cinta-Nya.

Aku belum ingin membahas bagaimana cinta baru tersebut. Aku hanya ingin memberikan alasan sebenarnya aku putuskan untuk keluar. Walaupun logika manusia mana yang akan mengerti dengan alasan ini maka aku membuatnya lebih manusiawi. Ketidaknyamanan menjadi alasan pertama kali. Bagi seorang wanita, bekerja bukanlah perkara berapa banyaknya salary yang didapatkan. Bukan juga seberapa banyak karyawan lain yang menjadi bawahan. Setidaknya itu bukan gayaku.

Bagiku, bekerja merupakan cara mengekspresikan diri. Cara eksistensi jati diri di tengah masyarakat. Cara menjadi diri sendiri untuk dihargai dan dihormati sebagai seorang wanita. Bukan sebagai pekerja, pegawai, karyawan atau apapun itu. Tampak sangat naif, kan? Nyatanya memang masih banyak yang berpikir seperti itu, termasuk juga aku.

Memiliki Boss sebagaimana karakter Boss pada umumnya tentu saja tidak menyenangkan. Tidak pernah menyenangkan. Apalagi memberikan kenyamanan, pasti jauh dari hal tersebut.

Meskipun aku tergolong manusia beruntung karena Tuhan memberiku tempat kerja lain yang jauh lebih menyenangkan. Hampir empat bulan sebelum keputusanku bulat memilih resign, aku sudah bekerja paruh waktu di perusahaan yang bergerak pada bidang media. Aah... kalian tentu lebih mengerti menyukai sesuatu rasanya seperti candu, ingin kukorbankan semua yang ada sebagai bukti.

Bisa dibilang aku juga seperti itu. Akan sama susahnya ketika menasehati seorang sahabat agar berhenti pacaran di saat dia sedang jatuh cinta. Akan sama juga susahnya ketika menghentikan seorang simpatisan untuk melihat lebih objektif di saat mereka sedang begitu mengidamkan. Akan sama juga susahnya memberikan penjelasan padaku saat itu. Walaupun tidak bisa disamakan kalau aku layaknya orang buta karena aku percaya ada alasan yang benar ketika aku menyukai sesuatu.

Alam memang sering berkonspirasi. Termasuk membuat kolaborasi antara keluarnya rekan sekantorku, karakter Boss yang semakin menjadi dan yang terpenting hidayah cinta baru yang Tuhan berikan. Aku yakin sebulat-bulatnya tekad yang aku punya bahwa aku akan berhenti. Aku akan pindahkan caraku menjemput rezeki-Nya. Kalian tentu bisa menebak kalau ini juga perihal haram dan halalnya cara mendapatkan rezeki. Padahal sudah jelas Tuhan menjamin setiap rezeki bagi hamba-Nya. Lantas atas dasar apa seorang hamba berhak menjemput rezeki tersebut dengan jalan yang tidak benar?

Ideologi ini mungkin sulit dilogikan oleh manusia. Namun, logika Tuhan, sekali lagi adalah ketidakmungkinan yang menjadi kemungkinan. Aku hilangkan semua keraguan karena janji Tuhan adalah pasti. Aku tidak takut, pun ketika aku harus jatuh berkali-kali pada prosesnya.

Aku meyakini satu hal saat itu, ketika aku memilih untuk menjadi baik dan lebih dekat dengan-Nya, ketika itu cinta-Nya akan turun padaku. Sangat banyak dan berlimpah hingga aku juga tidak sanggup menampungnya sendiri. Aku kuat dalam hijrahku. Meskipun aku harus merelakan dia pergi dan beberapa hal terbaik yang aku miliki harus hilang tetapi entah bagaimana justru cinta-Nya masuk semakin dalam. Dan seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku dibuat-Nya jatuh cinta setiap saat. Bahkan ketika air mataku harus tumpah ruah tidak tertahankan.

"Rabbi... Rabbi... Rabbi...." selesai lirihku berkata sedetik kemudian ketenangan itu muncul. Masalahku bisa jadi belum selesai. Solusinya mungkin saja masih jauh. Tapi, seluruh tubuh dan jiwaku menyatu untuk mampu menghadapi semua dengan Illah.

Dan sekali lagi, ketika kuputuskan memindahkan cara menggapai rezeki-Mu saat itu, kini aku belumlah menjadi siapa-siapa. Belum juga layak menjadi siapa-siapa. Ujian-Mu jelas semakin berliku tapi inilah hal terbaiknya bahwa aku akan naik kelas dan semakin dekat dengan-Mu.

Penawaran kekuasaan jelas aku tolak karena jauh dari jalan-Mu. Beberapa proposal hidup bersama tegas secara langsung kuputuskan setelah terang pedoman dan aturan-Mu. Dan yang terpenting, kupindahkan rekening tabunganku pada-Mu.

Rezeki memang pengetahuan yang tergolong gaib. Tidak ada jaminan dan kepastian selain janji bahwa setiap yang bernyawa pasti diberikan rezeki. Lagi pula rezeki tidak hanya berupa uang tapi lebih luas dari itu.

Kini, rezeki terbesarku adalah semua yang ada dalam hidupku. Keluarga, sahabat, lingkungan, ilmu, jabatan, harta dan yang terpenting cinta baru-Nya.

Aku juga sedang menanti, pertemuan denganmu Sabtu ini. Wish Allah guide us to meet. Aku yakin kamu akan menjulang tinggi dan aku pun harus meroket tinggi untuk bisa bersamamu. Tetaplah belajar karena aku juga sedang asik dan serius belajar.


The Last Day At M**

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran