Mbell Sayang

Entah sudah kesekian kali kata-kata ini berpusat padamu. Meski masih terhitung waktu kebersamaan kita tetapi aku tahu perjalanan ini pernah didampingi olehmu. Kedewasaanku juga pernah dipupuki oleh kedewasaanmu.

Kali ini kata-kata ini ingin berkisah tentangmu sekali lagi. Sungguh aku tidak rela harus pulang lalu menemukan kursi di depanku kosong. Dimana akan aku salurkan keisengan ini? Pada kursi sebelah? Aah... jangan bercanda.

Kamu boleh pergi setelah aku kembali dan bersama-sama kita pergi. Biar saja kamu tersiksa sampai aku kembali. Atau aku demo rumahmu untuk yang pertama kali. Aku serius tentang ini. Kamu pahamkan seberapa gilanya aku?

Banyolan dan kekonyolan kita selama ini boleh saja terganti, tetapi tidak dengan pergi sebelum aku kembali. Rasanya itu tidak adil. Pahamkan? Atau aku paksa saja kamu paham.

Saat besok waktu dipentaskan, telepatikan padaku. Karena aku tidak ingin kehilangan satupun kejadian penting ini. Agar lengkap kisah ini aku tulis dengan judul Mbell Sayang.

Ketidaksanggupanmu pun ketidaksanggupanku justru membuatku ingat untuk merantai kata menjadi bersabarlah sedikit lagi. Mungkin ujungnya sudah terlihat. Mungkin akhirnya sudah tiba. Mungkin sesaat lagi akan selesai. Maka bermainlah cantik seperti bocah yang asik dan tak mau terusik.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran