Memeluknya Seorang

Saat itu aku tidak pernah pandai bercerita. Namun, wajah lugumu selalu tulus menanti munculnya suaraku. Aku gagap tetapi kamu tidak peduli. Aku merona tetapi kamu semakin baik hati.

"Lanjutkan Bunda! Bagaimana merpati putih itu akhirnya menemukan rumahnya?"

Aku kalah. Mata beningmu tak ayal membuatku makin berani. Aku lanjutkan cerita ini hanya untukmu. Supaya kamu mimpi indah di hamparan bunga dan bintang.

"Merpati putih itu tidak pernah putus asa. Dia terus mencari. Dia terus terbang hingga sayapnya letih bahkan beberapa bulu putihnya rusak dan lepas.

Hanya satu yang dipikirkan Merpati putih, cinta penciptanya tidak pernah salah. Kepercayaan itu tidak pernah pudar. Dan, ketika dia ingin berhenti, hatinya justru berpacu lebih hebat. Karena tidak mau menyia-nyiakan anugerah tersebut.

Lalu, sampailah dia di gundukan tandus yang lapang. Sepelemparan mata terlihat riuh air biru berombak. Ada takdir yang memintanya berhenti, seekor penyu malang terjungkil tidak berdaya."

Aku menarik napas dalam. Aku hampir menyelesaikan ceritaku. Dan, di ujung sini aku harap buah hatiku mengerti, Tuhan selalu adil dalam setiap segi. Bahkan ketika aku dan ayahnya harus berpisah nanti.

"Bunda, kenapa menangis?"

Suara mungil itu meleburkan lamunanku. Aku sungguh tidak sadar ada tetesan hangat di pipiku sekarang. Aku buru-buru mengambil senyumku yang sempat hilang sembari mengelap air mata yang mulai mengering.

"Merpati putih mendekati penyu dengan cepat. Lalu, dengan sigap membantu penyu mengembalikan posisi tubuhnya. Penyu sangat berterimakasih. Meskipun ada hal di luar perkiraan. Ternyata penyu tidak sanggup berjalan. Kakinya mati rasa. Akhirnya dengan ikhlas merpati putih mendampingi penyu setiap saat dan setiap waktu.

Sekalipun tidak pernah terpikir untuk pergi mencari kekasih hatinya. Padahal merpati pink selalu menanti dengan cemas dan penuh harap. Namun, merpati putih tidak pernah kembali. Sampai pada suatu waktu merpati pink memutuskan mencari merpati putih dan menemukan merpati putih hidup bersama penyu.

Dan, merpati putih tidak pernah ingin kembali karena jika dia pergi maka tidak ada yang bisa dilakukan penyu sendiri. Merpati pink mengerti lalu pergi selamanya."

"Bagaimana dengan rumah dan keluarga merpati putih?"

"Rumah dan keluarganya tetap baik-baik. Mereka justru hidup bahagia. Merpati putih tidak pernah sedetikpun tidak mengingat merpati pink. Selamanya cinta mereka abadi karena merpati putih kecil tumbuh sehat dan bahagia," ucapku dengan senyum selebar mungkin.

"Benarkah merpati pink dan merpati putih kecil bisa hidup bahagia?"

"Tentu karena merpati putih tidak pernah berhenti berpikir cinta Tuhan tidak akan salah. Meskipun tidak bersama."

Air mataku mengembang. Aku tahu ini adalah batasku. Aku peluk putri kecil. Mencium keningnya sambil merapikan selimut untuk memastikannya hangat. Aku matikan lampu kamarnya.

"Bunda seperti merpati pink dan aku seperti merpati putih kecil. Kita berdua akan hidup bahagia dan baik-baik saja."

Tangisku pecah. Aku menghamburkan tubuhku ke tubuh putriku di kasurnya yang nyaman. Malam ini, aku hanya ingin tidur memeluknya. Memeluknya seorang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran