Temani Aku Di Hujan Kali Ini

Kota ini sendu. Rupanya sudah memasuki musim penghujan. Itu tandanya sebentar lagi sungai ini akan dipenuhi pemancing dari berbagai pelosok negeri. Aku suka saat itu terjadi. Akan banyak orang-orang hebat datang, membawa peralatan memancing yang belum pernah aku lihat. Dan, diantara banyak kesenangan itu toko ibuku akan laris manis.

Ketika hujan banyak wilayah lain yang teriak menderita. Dimulai dari banjir, longsor atau wabah penyakit yang mengikutinya. Namun, tidak bagi kotaku. Meskipun kotaku sendu selalu jadi favorit. Tidak longsor dan banjir. Tentu saja, karena kotaku hanyalah sebuah pulau yang kebetulan menjadi perlintasan ikan-ikan saat musim berganti.

"Letakan piring bersih itu di sana. Lalu bersihkan ikan-ikan itu dan keluarkan seluruh persediaan gelas yang kita punya, Yud! Kita akan kedatangan banyak orang untuk makan ikan," teriak ibuku.

Aku harus bergegas sekarang. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk merebahkan tubuh di bawah pohon kelapa ini sampai festival memancing usai.

"Permisi, bolehkah Anda memberitahukan dimana saya bisa mendapatkan peginapan terjangkau di sekitar sini?"

Aku terperanjat. Pengunjung pertama kami. Aku menoleh dan lebih terkejut lagi. Bidadari. Bidadari datang ke toko ibuku. Ternyata memang benar bidadari itu ada. Wajahnya sungguh menyejukan pandanganku.

"A...a...a...da...," kataku terbata.

Habis aku dilahap senyumnya yang kini mengembang hebat. Sejurus kemudian surgaku berubah menjadi neraka. Sosok ibuku sudah berdiri diantara kami, menjadi awan mendung yang menutupi sinar mentari. Aku terjun bebas dan terjerembab ke tanah.

"Kamu bisa pergi, kami hanya menjual makanan di sini. Lagi pula, penginapan hanya ada di dekat dermaga, tidak ada yang di sekitar sini."

Tanpa suara, aku tahu ada langkah yang menjauh pergi. Bidadariku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Pupus sudah harapku untuk tau siapa namamu.

"Apa yang kamu pikirkan? Lanjutkan pekerjaanmu!"

Sepanjang sisa hari aku tidak lagi bersemangat. Dalam pikiranku hanya menggema suara merdu dan bayangan wajah sejuknya. Betapa banyak pertanyaan yang menjalar kini. Tentang siapa namamu? Apa yang membuatmu berada di sini? Dari mana asalmu? Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu baik-baik saja dan sedang apa?

Berkatnya, seketika aku sukses berdiet. Seketika juga aku sukses jadi lelaki sejati yang tidak banyak bicara. Sesekali menjawab yang penting saja untuk dijawab. Atau menunggu teriakan ibuku untuk menjawab apa yang ditanyakan padaku. Aku hilang konsentrasi.

------

Pagi terlalu cepat datang. Aku belum rampung melukis wajah bidadariku di bulan purnama malam. Sungguh aku hanya ingin bertemu dengannya.

"Hai!"

Iya. Itu bidadariku. Dia datang tepat di hadapanku.

"Yud, lihat toko ibumu!"

Teriakan itu membawaku pada sebuah pemandangan mengerikan. Kobaran api menjalar di setengah toko yang juga tempat tinggal aku, ibu dan kedua adik perempuanku. Aku bergegas berlari meninggalkan hatiku pada gadis manis dihadapanku tadi.

"Dimana ibu dan kedua adikku?" tanyaku pada orang-orang yang berusaha memadamkan api.

"Di dalam sana!" seseorang mengatakannya dengan kencang.

Entah keberanian dari mana, aku hanya ingin menemukan mereka. Aku tidak bisa kehilangan mereka, terutama setelah pertengkaran semalam karena aku tidak konsentrasi mengerjakan pekerjaanku.

Aku meloncat diantara kobaran api dan aku tidak menemukan apapun kecuali asap hitam pekat. Aku sesak tidak bisa menghirup udara. Aku terus mencari keberadaan mereka. Tidak ada apapun. Bahkan suara mereka tidak menyahut panggilanku.

Aku berada dibatas kesanggupan. Kepalaku pening. Aku lemas terjatuh.

------

"Hanya dia yang tersisa."

Sayup aku mendengar percakapan. Aku meringis. Aku ingat terakhir kali aku berada diantara kobaran api. Apakah mereka telah tiada? Tidak mungkin. Aku harus bergegas menemukan mereka. Aku bangkit. Dan, terperangah pada sosok yang tertidur di samping tempat tidurku.

Bidadariku.

Aku bangkit perlahan. Tak tega melihat wajah lelahnya saat tertidur. Banyak tanya yang aku pikirkan. Namun, aku harus menyisihkannya, aku harus menemukan keluargaku. Perlahan aku menjauh dari tempat tidur.

"Mereka sudah mati. Ibu dan kedua adikmu." suara itu menghentikan langkahku. Aku menoleh.

"Sepertinya, aku penyebab kebakaran itu, maafkan aku. Aku hanya kesal dengan hardikan ibumu. Dan aku juga kesal padamu yang lupa padaku."

"Apa maksud dari perkataanmu?"

"Sekarang pun kamu masih tidak mengenaliku?"

Hanya suara petir di luar ruangan yang menjawab pertanyaan itu.

"Laksmi yang selalu kamu ganggu tidurnya. Laksmi yang selalu kamu ajak menyelam untuk menyelamatkan ikan-ikan yang terkena umpan para pemancing. Laksmi yang selalu dihardik ibumu karena tak pernah membiarkanmu membantunya. Laksmi yang kamu antarkan ke dermaga 4 tahun lalu untuk menempuh pendidikan di ibu kota. Laksmi yang...," suaramu tercekat berganti tangis yang meradang.

"Aku ingat Laksmi. Dia adalah wanita lugu dan kampungan. Sungguh berbeda denganmu yang cantik tapi busuk hatinya."

Aku berlari pergi. Siapapun kamu,kamu tidak berhak mencelakai keluargaku. Aku menangis dalam pelarianku.

Entah aku menuju kemana, yang pasti aku telah sampai di gubuk hitam bekas terbakar. Aku berharap menemukan ibuku di bawah pohon kelapa untuk menyuruhku ini dan itu. Aku berharap menemukan kedua adikku yang rajin menyapu dan memasak di dapur. Dan, aku berharap menemukan Laksmi yang dulu.

Hujan yang turun menambah perih luka ini. Dalam sekejap aku kehilangan segalanya. Dalam sekejap aku sebatang kara. Dalam sekejap keluarga dan cintaku raib.

Laksmi tiba di sampingku. Aku tau dia ikut berlari bersamaku dari rumah sakit. Aku tau dia adalah Laksmi yang sama saat tak pernah menyerah mengejar lariku yang selalu lebih kencang darinya. Aku tau Laksmi, cinta ini sejak dahulu hingga kini masih menjadi milikmu. Lantas dengan semua kejadian ini, apakah masih cinta ini bisa aku berikan?

"Aku kembali untukmu. Selalu. Sejak aku tau cinta, cinta itu hanya untukmu. Selalu. Aku hanya kesal pada ibumu dan tidak mengharapkan sesuatu yang buruk menimpanya. Aku hanya membiarkan Ari, adik bungsumu, bermain api di pojok kamu letakan derigen-derigen itu. Aku tidak mau Ari menangis karena aku melarangnya lalu ibumu menghardikku lagi. Aku hanya...."

"Angkat wajahmu. Temani aku di hujan kali ini. Dan, untuk selamanya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran