Sudah Diketuk


Pagi ini dengan fajar, kehangatan, sinar dan mentari di langit yang sama. Seperti biasa sebelum beraktifitas, aku larutkan diri dalam terpaan udara pagi yang masih basah. Pagi ini semua kondisi sama dengan hari-hari kemarin. Hanya saja batinku kini meronta.

Telah lama aku putuskan untuk pergi dari hingar bingar kerasnya dunia. Mengunci semua indra dan membangun dunia sendiri. Iya, dunia yang aku hirup sekarang sangat nyaman dan indah. Aku hanya perlu berusaha untuk diri sendiri. Tidak meminta dan tidak juga memberi. Impas. Setidaknya aku tidak mengganggu dan merusak.

Hingga tadi malam, pintu naluri kemanusiaan yang sudah aku penjarakan selama bertahun-tahun terketuk dan dibuka secara paksa. Kemudian ditarik kencang keluar sel. Akibat sudah lama bersemayam, timbunan lemak yang menumpuk membuat persendiannya kaku hingga terhuyung dan terhempas. Tergeletak tepat di depan pintu penjara yang rusak.

Semalam pintu rumah diketuk hebat. Tentu saja mengganggu tidur lelapku. Aku coba untuk mengabaikan dan kembali memejamkan mata. Tidak berhasil. Pintu berkali-kali diketuk lebih kencang dan keras. Sekarang ditambah dengan teriakan seorang wanita. Kesal aku tetap terbangun. Menyalakan lampu guna mempermudah penemuan kunci yang sudah aku simpan.

Wanita di luar semakin kencang berteriak. Aku tidak peduli dengan kata yang diteriakan. Namun, jerit tangis bocah mempercepat pergerakanku. Wanita itu tidak sendiri, pikirku.

Cepat aku buka pintu. Aku terperanjat. Ternyata tidak hanya dua tapi lima. Namun bukan itu yang membuatku terkejut. Wanita muda dengan empat orang anak. Bahkan wanita ini mungkin masih seumur adik bungsuku jika dia masih hidup, 20 tahun.

Seorang bayi, tidak jelas berjenis kelamin apa, tertidur pulang dalam kain panjang yang di sampirkan ke bahu. Seorang lelaki agak besar, sepertinya si sulung, menggendong bocah perempuan masih terisak tangis. Jadi teriakan bocah ini yang memaksaku bergerak cepat. Seorang lagi bocah lelaki beringus dengan mata sayu, mengantuk.

"Pak, tolong kami! Saya baru mendengar kabar bahwa truk pengaduk semen yang dikemudikan suami saya terguling di jembatan Ancol. Tetangga kiri-kanan tidak bisa dimintai bantuan karena pagar mereka tergembok. Hanya pagar Bapak yang masih terbuka. Tolong kami Pak! Antarkan kami ke rumah sakit sekarang dengan mobil Bapak yang besar itu," berkisah wanita sambil menangis.

Ah...pagar itu. Aku lupa mengunci karena terlalu lelah bekerja. Mobil itu juga, kenapa bertengger gagah di luar bagasi. Banyak sekali hal bodoh telah aku lakukan semalam. Biasanya aku sangat rapih dan teliti.

Sesaat mengutuk kebodohanku, ada sentuhan hangat nan lembut di ujung-ujung jemari. Aku lihat. Bocah lelaki mengantuk itu memegang jemari kananku. Kemudian kedua mata kami bertemu. Lumat aku tatap mata bocah mengantuk.

Apa yang terjadi denganku? Air mataku menyeruak, mengaca, merekah di rongga mata, hingga membuat nyaris tumpah. Bocah ini tidak mengantuk. Mata sayu itu bukan mengantuk tapi sayu karena kebas oleh air mata. Aku seperti melihat diriku sepuluh tahun lalu. Sekarang sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak membantu mereka.

Aku gapai kunci mobil, membuka pagar lebih lebar, membukakan pintu mobil, memberi mereka seluruh persediaan makanan di mobil saat tahu ternyata mereka belum makan dan mengantarkan ke rumah sakit. Ketika di perjalanan aku tahu bahwa tempat tinggal mereka cukup jauh dari rumahmu, di perkampungan komplek. Jalan ini merupakan satu-satunya jalan samping jika tidak mau berputar jauh di jalan gerbang komplek.

Tiba di rumah sakit. Setelah diperbolehkan dokter, wanita dan keempat anaknya masuk ke ruang UGD. Dokter mengatakan sudah tidak memiliki harapan. Terlalu lama mengalami pendarahan dan banyak tulang patah akibat terguling dan terhimpit truk. Ditambah lagi pengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman.

Beberapa menit kemudian terdengar gemuruh tangis dari ruangan. Bocah itu muncul pertama kali. Bersandar lemas lalu beringsut duduk terkulai. Tanpa tangis. Tanpa air mata. Aku menghampiri. Berharap bocah itu mengatakan sesuatu. Meskipun aku bisa menebak apa yang terjadi. Aku dihadapannya. Terdiam.

Bocah itu diam seribu bahasa. Menekuk lutut perlahan kemudian memeluknya. Belum ada semenit, bocah itu melepas pelukan pada lutut. Secepat kilat memelukku. Aku rasakan getir di hatinya. Ada tetesan hangat membasahi bajuku.

Kejadian semalam sungguh rumit. Menuntutku berpikir keras. Aku tidak bisa berlalu begitu saja. Sesuatu menahan. Batinku. Batin kemanusiaanku. Tentu saja, aku biarkan mereka menginap di sini. Meski semilir masih terdengar suara tangis.

Aku hirup udara pagi yang masih basah. Damai. Aku pejamkan mata menikmati. Bayangan mata sayu bocah itu masih membekas. Iya. Naluri kemanusiaanku sudah bebas. Kini minta dihidupi. Sudah cukup dendamku pada dunia kejam ini. Tidak boleh ada muncul lagi aku yang sebatang kara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran