Menutup Mata

Busuk. Bau anyir darah bercampur air hujan merebak di pelosok desa. Pembantaian semalam oleh makhluk tidak kasat mata menjadi perbincangan viral daru mulut ke mulut.

Beberapa saksi mengatakan awan pekat menyelimuti desa lalu sunyi. Beberapa desas desus menyatakan itu kutukan Mak Lampir. Beberapa lagi berbisik kiamat sudah dekat.

Sebelumnya desa baik-baik saja, hingga tiga hari lalu ditemukan seorang gadis belia tanpa busana tewas di antara tanaman sawit tepat pada tengah perkebunan. Mayat itu tidak beridentitas dan penuh lebam di wajahnya sehingga tidak mampu dikenali.

Penandanya hanya satu, pilinan ungu benang panjang terlilit di leher. Mungkin itu digunakan untuk mengikat rambut lurus tebal hitam panjangnya. Ternoda sudah, desa yang identik dengan rasa aman dan tentram berbalik 180 derajat.

Selama tiga hari, penduduk berebut berspekulasi mengenai kematian gadis tersebut. Bahkan beberapa saling tuding karena lokasi penemuan mayat merupakan zona penjagaan ketat milik saudagar kaya lagi dermawan. Kini penduduk berlipat kali lebih banyak berbicara.

Suasana desa memanas. Penduduk lupa bahwa dua telinga dengan satu mulut berarti lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Berita tragedi penemuan mayat seorang gadis berubah menjadi mitos yang mengada-ada. Dari permasalahan matematika sederhana menjadi algoritma geometri runyam. Maklum, katanya penduduk desa ini menyukai pembenaran dibandingkan kebenaran.

Akhirnya sore hari sebelum malam pembantaian itu datang.

"Mereka adalah biang keladi tewasnya gadis itu. Rusak moral desa ini, jika mereka masih bisa menatap mentari besok pagi!" Segerombolan penduduk dengan arit di pinggang menyusun rencana.

"Mereka ini penyebar berita bahwa penyebab tewasnya gadis di perkebunan adalah kita. Sebelum lebih banyak penduduk percaya lalu melawan dan membongkar urusan kita, akan mudah membinasakan malam ini agar tidak ada kesempatan di hari esok!" Perintah seorang pemimpin ditengah gerombolan pasukan penduduk desa.

"Kita tidak boleh diam saja. Ini adalah penghinaan. Siapapun mereka tidak boleh dimaafkan. Cucuku yang Malang. Sudah datang firasatku sebelum dia pergi di hari itu," ujar nenek dengan tongkat penyangga di tangan. Segera pengikutnya bersiap mempersanjatai diri masing-masing.

Malam semakin larut. Gelap sudah terlena mendekap desa. Pertemuan tiga kumpulan tidak terelakan. Pembenaran yang mereka inginkan tidak pernah menemukan kebenaran hakiki.

Semalam tragedi berdarah terjadi. Pelakunya sungguh tidak kasat mata. Jiwa-jiwa suci terlahap prasangka pembenaran. Tragedi karena merasa paling benar dan tidak mau mendengarkan berakhir, dicuci oleh air mata murni dari langit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran