Aku Benci 22 Desember!


22 Desember 2016

I hate the date!

Aku coret angka 22 tanpa sisa di kalender dinding dengan spidol merah. Hari ini pasti menyebalkan. Aku harus segera mengambil banyak makanan untuk sehari, membawa banyak buku bacaan dan mengisi penuh baterai mp3 player. Seharian ini, aku tidak akan beranjak dari kamar. Tidak juga peduli dengan segala aktifitas di luar.

Tidak butuh waktu lama, aku sudah terbaring di ranjang bertingkat dengan earphone di telinga dan buku Water Margin di tangan. Aku selalu suka membaca karena buku tidak pernah sekalipun berkhianat. Aku juga gemar mendengarkan musik karena musik merupakan jeritan hati yang tidak terdengar.

Tok... Tok... Tok...

Tanpa permisi Ibu masuk dan mengambil buku dari tanganku.

"Kamu harus berangkat ke sekolah!" Perintah Ibu sambil menarik tanganku untuk bangkit.

Aku melepas tarikan tersebut. Ibu menarik tanganku kembali dengan kedua tangannya. Jauh lebih keras. Aku tidak bisa lagi mengelak. Ibu melepaskan kaos dan menggantikannya dengan seragam putih berlogo SD di kantung dada kiri. Aku meronta. Namun, tidak cukup kuat untuk melawan cengkaraman tangan Ibu berukuran empat kali ukuran tanganku.

"Ganti celanamu! Ibu akan siapkan tas dan buku pelajaran untukmu!" Perintah Ibu lagi sambil memberikan celana merah di telapak tanganku.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau pergi ke sekolah hari ini!" Teriakku sambil membuang celana merah itu.

Ibu mengambil dan memberikan celana merah itu padaku lagi, seraya berkata keras, "Sudah Ibu peringatkan padamu, tidak ada lagi mengurung diri di kamar pada tanggal 22 Desember."

Aku meradang kesal dan marah. Kemudian aku memekik, "Ibu pasti tidak paham, rasanya menjadi yatim piatu sejak lahir. Entah siapa kedua orang tuaku. Aku benci hari ini! Aku benci menjadi yatim piatu! Aku benci dunia ini!"

Aku buang sekuat tenaga celana merah itu. Kemudian aku dorong Ibu dan pergi dari kamar. Pergi meninggalkan Ibu yang masih membeku dan panti asuhan menyedihkan ini. Aku terus berlari, menerobos kerumunan dan jalanan. Mendorong apa saja yang menghalangi lariku.

Jiwaku lara, perih, marah
Ingin berteriak keras
Mengutuk semua ini
Menghancurkan semua ini

Hari ini di saat semua orang berbagi cinta dan kasih pada Ibu
Aku semakin membenci hidup ini
Hari ini di saat semua orang mengungkapkan Selamat Hari Ibu
Aku semakin dengki telah dilahirkan

Kalian tahu, hari ini kalian sudah mendorongku jatuh semakin dalam pada kebencian
Kalian tahu, hari ini kalian sudah habis menelanjangi harga diri seorang yatim piatu

Bisakah kalian sedikit iba dengan kondisi kami yang tidak sempurna setiap hari?
Bisakah kalian sedikit lunak pada hati kami yang rapuh sebatang kara?

Tolonglah! Jangan mengorek luka kami yang tidak akan pernah sembuh menjadi borok!
Tolonglah! Meski hanya sehari tapi kegundahan kami seketika menggunung lalu meletus!

Hari ini kalian berbahagia memiliki Ibu
Bagaimana dengan kami?
Hari ini kalian berlomba menunjukan kedekatan kalian pada Ibu
Padahal kami tahu, di hari lainnya kalian memperlakukan Ibu seperti pembantu

Aku si malang yatim piatu

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran