Penghuni Negara Ketiga

Bagi kami, penghuni negara dengan predikat ketiga, memang tidak mudah. Ada standar yang harus dikejar. Ada target yang harus dilampaui. Ada kerja yang tak pernah tuntas. Semuanya demi kesetaraan dan pandangan.

Andai negara kami adalah negara pertama sebagai kiblat negara lain pastilah negara lain tersebut tidak akan seenaknya menjajaki kakinya atau membodohi negara kami. Selanjutnya hasrat-hasrat ketamakan dari penguasa negara kami tidak bersambut dan tersalurkan. Kalau begini rasanya terisolir lebih menyenangkan.

Sementara peradaban giat berkembang. Terisolir tampak tidak menarik lagi justru berkesan ketinggalan jaman dan kurang up to date. Terutama menyangkut kebutuhan yang tidak bisa diperoleh secara mandiri karena keterbatasan potensi alam dan kemampuan. Maka membuka diri dengan penjaringan bisa jadi solusi.

Meskipun tak semudah teori, praktek tanpa bekal kekuatan kepribadian seperti memanen air bersih dari air kotor tanpa lapisan pembersih. Air di dalamnya akan sama kotor dengan sebelumnya. Percuma dan justru mengeruhkan air yang sudah ada di dalamnya.

Jika hidup harus berlangsung sebegitu rumit dan pelik karena hanya ada perlombaan dalam dunia maka salah satu alasan agama adalah pondasi utama menjadi pedoman hidup sangat bisa dibenarkan. Andai benar negara kami pantas menyandang predikat negara ketiga. Maka biarlah predikat itu melekat hebat.

Dengan tetap memantik api dari batu atau beratapkan jerami tidak masalah selama pedoman hidup kami berpegang pada agama yang benar dan lurus. Biar kami membentuk peradaban kami sendiri. Atau standar, target dan kerja kami sendiri. Namun adakah hal ini pun semudah teori?

Sekali lagi akan dipertegas hasrat-hasrat ketamakan dari penguasa negara kami tidak semudah itu sirna. Meski tidak perlu bertaruh dengan negara lain, tetapi bertaruh dengan penguasa lalim terlihat jauh lebih melelahkan. Karena mereka serupa seperti kami. Berada diantara kami dan lebih hasut tak kasat mata. Sangat mengerikan.

Bagi kami, penghuni negara dengan predikat negara ketiga, memang tidak mudah. Tidak hanya bertahan dari mengikuti perkembangan peradaban jaman, tetapi juga melawan pada kekejaman penguasa negara kami. Tidak ada kata selain terus bertaruh dan sesekali bertahan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran