Kenyataan 1


Siang terik hari ini tidak menyurutkan langkah gagahmu. Demi tetap menjajakan barang-barang jualan. Bersama lindungan topi yang membuatmu sedikit nyaman diantara terpaan sengat panas tetap tiada lelah mampu hinggap. Peluh keringat juga tiada arti.

Aku bertanya, jiwa macam apa yang bersemayam dalam tubuhmu? Perlahan aku mendekat, menanyakan sejauh apa rasa syukurku. Sementara sisi duniaku yang biasanya selalu hingar bingar berlomba meraup banyak keuntungan. Memperkaya diri sendiri yang katanya nanti akan digunakan untuk orang lain juga. Benarkah?

Kemudian sosok wanita dihadapku. Perlahan menghitung sisa barang-barang yang dijualnya. Aah... Bu... tidakkah menghitung sisa barang jualanmu lebih sulit dibandingkan menghitung berapa yang sudah terjual?

Aku mungkin belum mengerti bahwa menghitung sisa barang jualan adalah keoptimisan yang paling sederhana. Seperti membuat garis yang lebih pendek dibandingkan menghapus garis panjang? Jika begitu, maka aku layak disebut gagal menjadi manusia.

Aku bertahan dengan interupsi jiwaku. Aku yang selalu melihat ke atas, meminta lebih pada setiap doa. Lupa ingatan pada kesederhanaan ini. Perlahan menceraikan semua pilu membuat sebuah opini dangkal. Sejauh mana perlindungan dari sebuah institusi bernama negara?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran