Fana

Belum juga sempat aku siap. Kamu datang menyergap. Mengusung dengan pasung. Menenggelamkan remah yang tak pernah sampai pada dasar.

Aku bisa apa? Sementara gerakku telah terkotak. Terdikte 1 2 3 dan 3 2 1. Bagai poros bumi yang tak semikropun berubah rotasi. Atau takdir yang tak seperdetikpun meleset.

 Jika boleh aku pinta. Sekali saja ingin aku teguk jelaga bebas. Berdiri tepat di nol derajat khatulistiwa. Tempat terendah dari gaya gravitasi. Atau bersemayam di lubang hitam. Agar sempurna sembunyiku darimu.

Seilir dua ilir. Setangkai dua tangkai. Sehembus dua hembus. Sealun dua alun. Hingga jauh tampak rupamu dari pelupukku.

Maka hilanglah bayangan gelap. Pergi memanjangkan jarak dari langkah kakiku. Meski harus menentang pancaran terbit sang surya atau cahaya senja. Asal selalu gagal kelam hinggap di hidupku. Dan kemunafikan terbakar bara putih kebaikan.

Lalu hilanglah aku yang fana ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran