Di Bawah Trembesi

Rasa rindu ini menguap. Akhirnya kamu kembali datang dengan sekarung penuh nutrisi untukku. Setelah musim berkali-kali berganti, mengecap lingkaran di tubuhku. Lihatlah aku makin kokoh dan rindang!

"Waah... sekarang sudah jauh lebih tinggi dari tinggiku!"

Bahagiaku mendengar ucapanmu. Iya aku berusaha keras untuk tumbuh. Menarik sebanyak mungkin hara. Merengaskan banyak daun ketika musim mulai sulit. Mengakar lebih jauh. Semua kerja keras itu lunas terbayar karenamu.

Kamu mulai menyebarkan nutrisi di sekitar ujung-ujung jemari akarku. Membersihkan sebagian tubuhku yang mampu dijangkau. Sungguh aku rindu usapan itu. Aku pastikan untuk terus tumbuh ketika perlahan langkahmu pergi menjauh.

---------------

Rasa rindu ini menguap. Akhirnya kamu kembali datang dengan sekarung penuh nutrisi, beberapa balok kayu dan sekotak alat perkakas. Kamu memandangku lebih takjub. Apa aku berhasil menarik perhatianmu? Bahagianya aku!

Setelah menyebarkan nutrisi di sekitar ujung-ujung jemari akarku yang semakin luas, kamu tampak lelah. Kamu duduk beralas tanah. Bersandar pada tubuhku. Aku kibaskan sepoi angin sampai kamu terlelap. Aku lindungi kamu dari terik matahari siang ini. Aah... ini adalah salah satu waktu terbaikku.

Sekarang kamu lebih segar. Kemudian mengambil satu demi satu balok kayu dan kotak perkakas itu. Aku memperhatikanmu yang sungguh tidak pernah aku lihat seserius ini. Menghitung balok kayu dari berbagai sisi. Memotong. Memaku. Dan simsalabim. Sebuah bangku taman cantik terpatri tepat di sisi kanan tubuhku.

Kamu tersenyum mendudukinya. Jaraknya masih mampu menjangkauku. Usapan itu kembali hadir memberi semangat lagi untuk terus tumbuh. Aku yakin kamu akan sering datang.

---------------

Waktu-waktu berikutnya lebih menyenangkan. Kamu datang menggandeng seseorang. Aku tahu dialah yang teristimewa. Kamu juga datang kembali bersama anak kecil lucu. Dia berlari-lari mengelilingi tubuhku. Tidak hanya satu, yang kedua dan ketiga juga sama riangnya sepertimu. Kebahagiaanku semakin lengkap melalui lenganku yang gagah, aku mampu melambungkan mereka menggapai langit-langit. Setelah kamu membuatkan sebuah ayunan sederhana.

---------------

Aku rindu. Entah sudah berapa banyak musim bergantian datang. Entah sudah berapa banyak cap lingkaran dalam tubuhku bertambah. Entah sudah berapa kali banyak manusia asing duduk di bangku dan ayunan hasil karyamu. Membuang sembarangan air seninya ke tubuhku. Beberapa juga melukaiku dengan melempariku sampah plastik dan kaleng.

Jemariku yang sudah kurang leluasa untuk bertambah panjang mulai mengalami kesulitan menarik hara. Respirasiku dipaksa bekerja sangat keras karena terlalu banyak CO2 sekarang. Aku lelah ketika musim penghujan datang terlalu banyak air hingga tubuhku kedinginan dan saat musim panas datang terlalu sedikit air hingga tubuhku mengering. Dulu tumbuh adalah hal yang menyenangkan tetapi begitu sulit pada waktu sekarang.

---------------

Di waktu pagi yang cerah sekitar 5 orang datang berpakaian seragam mengenakan topi kuning bulat dan sepatu boot sebetis. Dua orang diantara mereka membawa alat besi yang belum pernah aku lihat. Dua orang lain diantaranya mengangkat tangga panjang. Seorang lainnya berjalan di depan yang lain.

Dia yang jalan di depan menghampiriku. Menepuk tubuhku dengan kasar.

"Ikan besar nih! Hahaha.... Langsung mulai saja!"

Seketika aku paham apa yang akan terjadi. Walaupun aku menampik untuk mengerti. Aku rapalkan doa. Berharap kamu datang mungkin untuk yang terakhir kali. Setidaknya aku ingin melihat sosok tulusmu.

Mereka sudah bersiap pada posisi masing-masing. Memotong satu demi satu lenganku. Aku sakit tetapi ini tidak lebih sakit dari harapku yang semakin menipis akan kehadiranmu. Apa yang akan terjadi jika kamu datang dan tidak menemukanku?

Lelah memotong habis lenganku menyisakan gunungan daun dan ranting yang kata mereka tidak berguna. Ayunan di lenganku sudah tidak tampak lagi dibawahnya. Sekarang hanya bersisa tubuh utamaku yang sengsara. Setelah beristirahat mereka kembali melancarkan aksinya.

"Bangku ini makin lusuh. Setelah Ayah pergi saatnya kamu untuk menyusulnya!" Kata dia yang jalan di depan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran