Berdamai Pada Kenyataan

Sudah sepekan gelisah ini melanda. Resah tiada tara. Bukan karena tugas menggunung atau kantong kering. Namun, pada sebuah pengharapan yang tidak kunjung datang.

"Kalimat saktinya hanya dua!" Kata seorang kawan mengingatkan.

"Luruskan niat. Sempurnakan ikhtiar," lanjutnya.

Aku tidak terlalu paham maksudnya. Hanya saja, pribadiku yang menyukai hal baru ini berhasrat untuk mencoba.

"Tanamkan dalam hati, hajatkan!" Gumamku setiap pagi pada cermin.

Kemudian hari berlalu lebih baik. Harapku menjadi lebih terang. Aku semangatkan lagi diriku. Aku pompa juga asaku.

Tenggat waktu hampir tiba. Perlahan dan pasti pengharapan yang menemani justru lenyap tidak terkendali. Meskipun begitu, yang sudah aku mulai harus aku akhiri.

Tiba dihari penentuan. Semakin tidak ada tanda hadir untuk pengharapan. Walaupun niat sudah aku luruskan. Ikhtiar sudah aku usahan sempurna.

Aku baca setiap nama pada papan pengumuman. Berharap ada namaku terselip. Masih belum.

Ajaibnya, aku tidak lagi gelisah. Hatiku berdamai pada kenyataan. Pengharapan tidak akan datang tapi diriku menolak untuk memberi ruang pada kata menyerah.

Aku keheranan. Aku tanya pada diri. Lalu aku temukan jawaban mencengangkan. Diriku tertagih untuk kembali berjuang. Tidak peduli akhir. Karena prosesnya ribuan kali lebih menyenangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran