Tak Pernah Terlupakan Nikmat Dalam Kesulitan

Hampir setengah tahun sudah aku menganggur. Semenjak lulus kuliah, berkali-kali mengirimkan lamaran pekerjaan, berkali-kali juga aku tes dan di-interview, masih saja berakhir dengan menganggur. Lelah, bosan, penat, dan nyaris frustasi rasanya.

Sebenarnya aku rela jika disematkan sebagai pengangguran karena aku tahu semua lamaran dan segala macam printilan itu bukanlah kesukaanku (read: passion). Masalahnya adalah gangguan kebisingan suara di rumah dan sekelilingku sudah bertendensi tinggi sekali. Iya, seperti menanyakan kapan kerja atau jangan pilih-pilih kerjaan sudah habis aku lahap hingga rasanya ingin memuntahkannya. Lalu aku bisa apa kecuali hanya memperbanyak dan memperpanjang doaku kepada Nya.

Memasuki pergantian tahun, aku bertekad untuk menggunakan koneksi teman yang sudah terlebih dahulu bekerja. Beruntungnya aku, tak lama setelah itu aku mulai bekerja. Hari diawal bekerja, rasanya biasa saja. Tidak ada gairah, tekanan atau tanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. Sampai ketika Bosku datang dari perjalanan jauhnya, ternyata dalah seorang wanita yang sangat moody.

Tentu saja tertebak bahwa hari-hariku kemudian turun tingkat dari biasa saja menjadi agak menyebalkan. Seperti sifat alamiah perempuan yaitu cerewet, tukang perintah, tidak sabaran, dan sensitif, kurang lebih begitulah sifat bosku. Kenyamananku tentu saja terusik. Namun, aku masih menjalaninya dengan santai, karena hangat dalam ingatanku betapa tidak menyenangkannya seorang pengangguran yang hanya bisa berdiam diri di rumah seharian.

Pertemuan pertamaku dengannya, cukup menyenangkan. Banyak petuah dan nasehat yang dia berikan. Mungkin karena kami ternyata satu alumnus. Kebijaksanaan, pola pikir, prinsip dan giat usahanya dalam bekerja patut diacungi jempol. "Inspiratif sekali!" pikirku dalam hati.

Saat itu bosku mengatakan bahwa kami haruslah semangat dalam bekerja. Tidak hanya itu, beliau juga menceritakan kisah karyawan teladan di kantornya. Bagaimana kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil lalu tentang kepatuhan dan attitude dalam bekerja. Sungguh sosok pemimpin yang hebat. Di akhir pembicaraan kami, beliau membuat peringkat personality kami. Dari empat karyawan yang dikumpulkannya, aku berada di paling atas klasemen.

Mungkinkah ini pertanda bahwa aku sudah diterima dengan tangan hangat terbuka disini?

Tunggu kelanjutan kisahnya esok hari (bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran