Menguntai Mimpi

Hari ini, daerah yang hanya beberapa blok dari rumahku tergusur. Jerit tangis dari keluarga yang rumahnya sudah rata dengan tanah tidak juga kunjung usai. Ditambah lagi, teriakan histeris anak kecil dan balita yang melihat kesedihan ibunya ikut memilukan suasana penggusuran. Meski petugas telah mengevakuasi penduduk dari wilayah penggusuran tetapi banyak diantara mereka yang masih bertahan tidak mau pergi. Tentu saja, bentrokan tidak terhindarkan.

Aku miris melihatnya. Namun, ada bagian dari batinku yang bersyukur atas tindakan pemerintah yang berani ini. Bagaimana tidak, lokasi penggusuran itu memang seperti comberan, tidak layak dihuni manusia. Terlalu banyak aktifitas maksiat yang tidak sehat untuk anak belia sepertiku. Beberapa teman sekolahku yang bertempat tinggal tepat di lokasi tersebut juga mengaku hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Aku membayangkan bagaimana nasib kami di masa depan dengan lapangan pekerjaan seperti itu. Sia-sia saja rasanya kelelahan dalam menuntut ilmu. Tapi, kami bisa berbuat apapun jika para orang dewasa itu sudah berkehendak.

Setiap pagi, matahari yang bersinar hanya memberi beban kepada kami, membantu menghitung bahwa tidak lama lagi kami harus memasuki dunia tersebut. Sudah seperti robot saja hidup ini, tanpa kebebasan dan impian. Galau pun tidak pernah mampir dalam perasaan kami, karena yang setiap hari kami lakukan adalah mengamati bagaimana lokasi tersebut bisa terus hidup dan mengaktifkan perekonomian penduduknya. Segala macam tips dan trik diberikan bagai capitan kalajengking yang tidak mampu kami hindari.

Kemudian, hari ini, ada secercah harapan bagi kami. Penggusuran itu seperti peruntuhan kekuasaan kezaliman yang menjajah kami. Kini, kami tidak akan didorong masuk ke dunia tersebut karena sudah tidak ada lagi tempat untuk membangun perekonomian busuk itu. Sekarang mungkin jerit tangis masih beredar di sekitar, tapi aku yakin mimpi itu baru saja diuntai.

Mimpi masa depan yang tidak terbatas pada lokasi itu. Mimpi yang jauh lebih luas dari jagad raya ini. Di saat penggusuran yang seharusnya menjadi derita ini, tampaknya tidak terlalu memberi derita bagi kami. Karena sekarang kami bebas menuntai mimpi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran