Postingan

Merasa Konyol

Siang ini, tumben sekali segala pekerjaan sudah selesai aku lakukan. Santai. Justru membuatku bingung harus bagaimana. Lalu jurus jitunya adalah membuka media sosial. Siapa tahu mendapat inspirasi menulis atau ada info menarik lainnya. Memang medsos tidak akan pernah sepi. Setiap saat akan muncul status-status baru dari yang lucunya minta ampun sampai yang obrolannya berat tingkat dewa. Rasanya membaca tulisan itu, membuat kita paham bagaimana karakter orang yang menulisnya. Walaupun lebih ahli mereka yang memang fokus bergelut pada bidang tersebut. Iya, anggaplah ini kesoktahuan anak yang lagi gak ada kerjaan. Satu demi satu, aku susuri kabar berita ter-update dari teman-teman medsosku. Lumayan untuk menghilangkan sedikit rasa lapar yang mulai menjalar. Maklum, baru beberapa hari puasa di bulan Ramadhan, masih keinget kebiasaan lalu. Sampai pada status seseorang yang nge-share video dengan caption 'Oksigen mana oksigen'. Itu mengundang tanya apalagi bagi orang yan...

Diskusi Hati

Aku kira, kita sama-sama tau bahwa ada obrolan tidak kasat mata yang dilakukan oleh kedua hati kita. Walaupun ucapanku dan ucapanmu tidak menyinggung perkara itu, aku pikir hati kita telah sepakat pada sebuah kata bersama. Lantaran seringnya kita mengerti dari isyarat yang tidak terucap. Atau mendukung tanpa banyak bicara tentang perdebatan. Karena rasanya dalam diam kita paham hati kita tidak pernah berhenti berdiskusi. Dalam salah juga bukan teguran yang saling kita beri. Namun perenungan untuk memperbaiki dan tak mengulanginya lagi. Sampai kita sadar sendiri, jauhnya mata tak lagi berarti selama hati ini sudah terpatri. Aku yakin, bahasa ini hanya kamu yang mengerti. Pada kisah berdikari. Mereka hanya paham kita tak mungkin saling mengisi. Bahkan sesekali kitapun menanyakannya dalam hati. Mungkinkah kita? Sampai di tahap kesadaran untuk tidak berhenti pada kata mengerti tapi juga menerima dengan lapang hati. Bahwa memeluk yang tidak sempurna adalah keniscayaan paling hakiki....

Bisakah?

Kesukaan terhadap sesuatu memang bukan jaminan untuk mampu menjadi hebat pada sesuatu itu. Banyak faktor yang mempengaruhi. Dan banyak hal yang patut diuji. Seperti pernyataan tentang keimanan yang belum layak dikukuhkan sebelum terang ketahanan terhadap ujian dan cobaan. Pun begitu padaku. Kesukaanku pada menulis tidak pelak membuatku menjadi penulis. Katanya bermimpi memang mudah tetapi mewujudkannya secara sadar bukan seperti membalikan telapak tangan. Mimpiku memang menjadi penulis. Aah... tidak cukup istimewa memang, mengingat ada jutaan manusia yang bermimpi sama sepertiku. Namun, sejauh ini aku percaya bahwa setiap manusia telah memiliki bakat istimewa yang berbeda dengan yang lain. Hanya beberapa beruntung menemukannya dengan cuma-cuma. Lalu sisanya berjuang mati-matian. Dan sisanya itu berkali-kali lipat dari yang beruntung. Mungkin kebetulan, aku termasuk berada di sisanya. Bagus aku tidak sesensitif itu untuk peduli apa kata orang. Selama niat dan tujuanku da...

Jawaban

Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui". (QS. Yunus: 89) Tengah malam itu aku terbangun. Kembali aku ingat pada banyak kabar di hari itu. Bukan kabar buruk. Bukan juga kabar baik. Namun, kabar itu berarti aku harus berhenti berharap pada satu hal. Tetapi tidak apa-apa, toh hidup akan tetap berjalan. Kehilangan satu pengharapan bukan lantas menyurutkan harapan lain yang lebih besar. Mungkin pengharapan itu bukanlah pengharapan terbaik dalam hidupku. Ya, berpikir positif itu perlu. Titik. Meskipun berusaha keras untuk menghilangkan pikiran negatif yang menggaung di kepala. Untuk beberapa saat aku kalah. Memilih kecewa itu datang, merayap dan masuk dalam setiap persendianku. Akhirnya aku sendirilah yang harus memeluk erat kecewa itu. Bagaimanapun manusia tidak ditakdirkan untuk tidak berperasaan. Ja...

Kepergian

Ketika kata 'Kepergian' terucap maka yang terbayang adalah kilas kenangan-kenangan. Kilas wajah, tawa, senyum, cara berjalan dan tingkah perilakumu setiap kita bersama. Semua tidak tergantikan. "Kawan," katamu sambil menjabat tanganku. Itulah awal kebersamaan kita. Aku terbaring lemah di kamar kosan. Setelah seharian menangisi kepergianmu yang sungguh mendadak. Bukan sakit, kecelakaan atau hal wajar lain yang merenggut jiwa dari tubuh mungilmu, melainkan inilah yang dinamakan ketetapan takdir sebenarnya. Kamu hanyut dilahap ombak.  "Kamu bahkan hanya pamit untuk bersenang-senang dengan keluargamu. Namun, justru kabar kepergianmu selamanya yang aku terima. Kemana akan bermuara impian kita untuk menaklukan dunia?" Ratapku di atas nisanmu. Kembali wajah riangmu hadir di langit-langit kamarku. "Apakah orang baik selalu pergi secepat ini?" Bisikku dalam hati. Saat lelah itu nyaris membuatku tidak sadarkan diri, aku merasa dia datang l...

Cahaya Berbeda

Bagaimana Tuhan bisa begitu baik? Mengirimkan kalian yang tidak pernah terlintas dalam pikiran. Bukan malah tidak peduli, aku justru berpaling lalu mengamati. Kalian memiliki cahaya unik masing-masing yang berbeda. Meskipun belum membuat terpana dunia. Namun itu cukup memberikan terang pada jalanku. Tidak seperti cahaya di ujung jalan yang selalu ingin aku tuju. Cahaya kalian teramat menentramkan. Hampir pasti, dikelilingi cahaya unik kalian adalah kebahagiaan sederhana lainnya dari hidup. Memang selain membaca cahaya alam, cahaya kalian berhak untuk dibaca. Setiap pasang mata kalian berbicara. Memancarkan warna lain yang tidak aku punya. Sungguh kawan, kalian begitu bercahaya. Bukan cahaya yang sama yang dimiliki lilin hingga obor, lampu tidur hingga lampu jalan, atau benda-benda di langit. Cahaya kalian menyala tepat di kedua bola mata. Tepat ketika papasan mata kita bertemu. Di sana pula aku menemukan cahaya itu.

20 Mei 2017

Apa yang aku catat pada hari ini? Tanda apa yang aku letakan pada hari ini? Sungguh aku hanya bisa berencana dan mengusahakannya semampuku. Jika apa yang aku catat dan aku letakan padanya belum mampu terlaksana, semoga ikhlas dan lapang hatiku. Mungkin belum cukup usaha dan doaku. Mungkin belum pantas bagiku untuk mendapatkannya. Toh, besok lusa masih ada banyak lagi kesempatan. Iya, besok lusa bisa jadi aku lebih siap mendapatkannya. Tentu besok lusa, selama aku berusaha terus menjadi baik tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi. Yang terpenting adalah tidak pernah menyerah. Jangan berhenti berharap. Walaupun kekecewaan tidak menampik untuk datang, tetapi menatap ke depan dan terus melanjutkan doa dan usaha lebih baik untuk diperhatikan. Karena yang terencana belum tentu yang terealisasi. Karena yang dibenci belum tentu yang tidak baik. Karena yang disukai belum tentu yang terbaik. Karena fakir, egois dan bodoh maka biarlah yang menentukan adalah yang paling be...