Postingan

Selamatkan Aspirasi

Siapa yang memelintir? Siapa yang khawatir? Siapa yang ketakutan? Siapa yang menghasut? Hari ini tepat di hari Jumat 31 Maret 2017 (313), masyarakat muslim Indonesia kembali menyatukan suara. Lewat kegiatan yang disebut aksi sebagai perwujudan paham demokrasi. Isu makar, profokatif atau kampanye terselubung menjadi momok yang mengintai. Strategi politik atau langkah-langkah strategis lain dipersiapkan agar tidak terjadi goncangan bagi negara. Penguasa semakin lihai menggocek sedangkan rakyat semakin limpung merasa tidak terlindungi Kita semua pasti sepakat bahwa hukum harus adil dan transparan. Kita semua paham benar keragaman memiliki batas toleransi. Kita semua juga sudah mengerti pemeran utama penyebab keresahan ini. Namun siapa peduli? Kata orang, jika sudah suka apalagi cinta mau apapun kejelekan yang diperbuat tetap akan dibela. Mungkin bisa disebut sebagai cinta buta. Lalu kepada siapa cinta buta itu dipersembahkan? Bagi kaum muslim tentu cinta buta pada kitab su...

Negara Kita Berbenah

Salin-Adaptasi-Inovasi-Terapkan. Mungkin slogan presiden akhir-akhir ini tentang 'Kerja. Kerja. Kerja.' menjadi pacuan tersendiri untuk para menterinya. Beberapa program meski terseok-seok mulai muncul ke permukaan seperti Kartu Indonesia Pintar, Rumah Subsidi, BPJS Kesehatan dan yang terhangat yaitu Tax Amnesti. Memang bukan persoalan mudah mengingat banyak kepentingan terutama pemberitaan akhir-akhir ini menurunkan kepercayaan masyarakat. Walaupun penuh pro dan kontra, tetap tidak ada pengaruhnya. Justru pemerintah dianggap semakin tak tersentuh dan jauh dari rakyat. Dengan segala kekurangan itu, tentu ada kelebihan yang tidak boleh diabaikan. Perkembangan pesat di dunia informasi agaknya cukup menjadi momok menakutkan. Sentral informasi dan database lengkap menjadi kunci dan solusi. Siapa yang paling bertanggung jawab? Pastilah si pemilik birokrasi. Sebagai pusat desain terkini yang makin meningkat maka tengok saja Indonesia Design Development Center (IDDN). Sebagai pu...

Sahabat, Cinta

"Nyit, kalo gitu aku mau dong jadi sahabat kamu. Jadiin aku sahabat kamu ya! Biar kamu juga punya perhatian kayak gini ke aku," sorot mata Dimas lurus pada dinding putih rumah sakit. Anggit hanya menoleh sekilas. Memandang Dimas dengan raut tidak mengerti. Kemudian kembali meremas tangannya. Kekhawatirannya belum sirna. Tepat di ruang ICU terbujur lemah Adit yang baru saja mengalami kecelakaan. Benturan dan lukanya tidak parah tetapi dokter menyarankan agar Adit beristirahat lebih lama. -------------------- "Seharusnya lo gak usah repot nganter gue, Dim! Lo juga kan kecelakaan bareng Adit. Mestinya ikutan dirawat. But anyway, thanks ya," Anggit berlalu memasuki pagar rumah setelah menepuk pundak Dimas, tanda terima kasih. "Eh Nyit!" "Apa?" "Omongan gue di rumah sakit tadi ...." "Gue tau kok lo bercanda. Santai aja, Dim! Gue masuk ya, bye!" Mulutnya tidak lagi berhasil mengeluarkan sepatah k...

Abnormal

Berbeda bukan berarti aneh. Berbeda adalah keunikan. Jika mereka menganggapmu aneh, maka aku akan memilih menilaimu sebagai sosok dengan sudut pandang lain. Kacamatamu mungkin tidak sama dengan mereka. Meski begitu ketulusanmu tidak pernah salah. Kamu tahu lebih dalam bagaimana memperlakukan dengan hati. Kamu seperti harta karun yang terkubur dalam. Kamu berbeda tetapi tidak aneh. Bagiku kamu selalu paham bahasa yang tidak pernah sanggup terucap. Kamu mengerti cara mengubah dengan konstruksi. Bukan bual atau janji. Aku tahu batinmu tersiksa karena tidak banyak orang menerima. Padahal kamu adalah kesempurnaan paling sempurna. Tidak ada rasa iri, benci, dengki apalagi dendam. Kamu hanya bisa merasa bahagia dan tak berhenti menebar tawa. Pandangan mereka terhadapmu terwakili dalam rupa iba. Namun dalam benakku sayap-sayap malaikat dekat di sampingmu. Beberapa mengerti, menyayangi dan mengusap lembut kepalamu. Katanya kamu membawa berkah. Memperlakukanmu bak raja merupakan salah sa...

Gadis Dalam Masjid

"Berdoalah! Setidaknya pahala meminta akan kamu kantongi!" Gadis bermata biru beranjak dari pojok bangku di bawah pohon Tanjung tepat di pinggir halaman masjid. Melangkah melewati lorong yang penuh sesak warga asing. Lekas menuju tempat wudhu wanita. Tidak berapa lama, ada butiran air di wajahnya yang masih tampak sembab. "Apakah saya diterima di sini?" Tanyanya kepada salah seorang pengurus masjid. Pengurus masjid tersebut agak terkejut menerima pertanyaan tersebut. Diamatinya gadis berambut hitam ikal sepundak. Pakaiannya bak artis Hollywood papan atas. Mungkin sudah teramat lama masjid tersebut tidak menerima tamu seorang gadis seperti ini. "Te... n... tu! Tentu! Silahkan! Ruang akhwat melalui tangga di sebelah kanan," katanya setelah berhasil menguasai situasi. "Terima kasih!" Senyum tipis tersemat di wajah gadis berusia 20-an ini. Langkahnya sedikit bimbang lantaran melihat cukup banyak jamaah wanita di masjid terseb...

Aku Tersentuh Cinta

"Jika nanti aku lebih dulu meninggalkanmu. Ikhlaskan kepergianku. Karena setetes air matamu memberatkan langkahku. Secumit ketidakrelaanmu menyiksa rohku," suaramu masih selembut pertama kali kita bertemu. "Nanti siapa yang akan sibuk menyiapkan sarapan? Dan siapa yang akan cerewet memasukan ini dan itu atau mengingatkan setiap hal keperluanku? Lalu..." Aku tercekat. Kamu selalu memberi lebih dari yang aku harapkan. Dekapan yang selalu memenangkan hatiku berkali-kali. "Apakah kamu ridho dengan segala yang aku lakukan selama menjabat sebagai istrimu?" Sungguh bibirmu tidak semerona biasanya, tetapi mengapa senyummu sama manisnya? Apakah sudah pernah aku katakan bahwa kamu bidadari dunia yang sesungguhnya? "Apa maksudmu? Tentu aku sangat menyukainya, sayang!" Kecupku pada keningmu yang dingin. Kamu hanya berkedip. Aku tahu kondisimu semakin lemah. Dokter bilang tak ada harapan. Meskipun aku tidak pernah percaya kata dokter. Namun, guratmu y...

Mesta

Gambar
  palingseru.com Tergerus sudah. Iya. Bumi ini sudah tidak layak huni sepertinya. Ada saja kelakuan dan tingkah polahnya mencari perhatian. Sementara pelaku pemberi perhatian yang dicari justru angkuh. Sibuk pada dunia lain. Tidak lagi mengindahkan. "Bumi kecewa? Sakit hati? Sudah... lemparkan saja muntahmu yang membara itu. Biar tahu mereka dimana tuan sesungguhnya." "Memang betul. Jika aku tidak diamanahkan titipan rejeki untuk mereka maka sudah tiada lagi sabar," sungut Bumi pilu. "Apa maksudmu dengan amanah titipan rejeki untuk mereka? Aku di sini untuk menyanggamu. Melindungi dan menemani setiap perjalananmu. Aku sungguh tidak rela perlahan wajah hijaumu berubah merah bata atau kelabu. Aku pun tidak suka biru rupamu menjadi kelam kotor tercemar. Garis-garis itu menjadi keruh bersedimen. Tiang-tiang langitmu nyaris rata diciduk. Tidakkah semua hal tersebut menyakitkan? Dan kamu diam seribu bahasa." "Untuk ikan maka dititipka...