Postingan

Hilangnya Sebuah Adab

Bukankah bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang penuh dengan adab sopan santun? Bukankah negara ini dikenal dengan rakyatnya yang saling mengasihi, gotong royong dan berjiwa kesatria? Tapi rasanya semua hilang, entah karena apa. Kita seharusnya ingat betul, salah satu pelajaran penting menjadi seorang manusia, yaitu diam saat orang lain berbicara. Tidak hanya diam tapi juga mendengarkan dan menyimak. Mungkin kita tidak sependapat atau sepaham dengan apa yang diucapkan tetapi tetap diam, mendengar dan menyimak adalah bukti bahwa kita sedang memberi sebuah penghormatan. Penghormatan yang kita juga ingin orang lain lakukan pada kita. Masih bisakah kita diam ketika orang lain berbicara? Tanpa tertawa, masih bisakah? Kalau begitu 'Jangan tertawa!'

Muda Juga Tidak Menjamin

Suatu ketika aku duduk dalam acara seminar pengembangan diri. Aku sengaja memilih bangku di tengah-tengah ruangan. Hematku, bangku di tengah ruangan seperti poros dari jalannya seminar. Antara suasana dan kondisi pemateri dan peserta. Rupanya muda juga tidak menjamin. Begitu kira-kira inti dari isi seminar. Muda juga tidak menjamin? Memang iya. Bukankah kita juga sering mendengar tidak banyak yang bisa dipetik dari pemuda. Cap pemuda memang mengerikan. Misalnya tidak banyak pengalaman, belum mahir mengelola insting dan risiko. Padahal, tuntutan sebagai pemuda begitu besar. Tidak heran jika banyak pemuda yang pada akhirnya memilih kalah pada dunia. Sebenarnya, menjadi pemuda adalah spesial. Tekad dan semangat besar harus selalu jadi pegangan. Tentu saja tidak ada yang mudah. Meskipun tidak juga terlalu sulit. Hanya saja, pemuda memang dituntut untuk selalu mau belajar dan bekerja keras. Bukan apa-apa. Pemuda biasanya tidak sabaran untuk sukses. Bahkan sering kali cepat menyerah ...

Pencari Kasih

Gambar
https://encrypted-tbn0.gstatic.com Mari kita menaikan sebuah standar keromantisan. Jika seringkali senja dikaitkan dengan romantis maka mega merupakan yang paling romantis. Bukankah semburat jingga mega lebih indah dan mengagumkan? Lantas melihat mega seperti memberi dorongan pada jiwa dan raga untuk hidup kembali dan semangat lagi mengawal hari. Ya, seperti hari ini. Aku melihat mega itu. Katamu, "Tataplah meskipun sinarnya menyilaukan. Di sanalah sensasi kenikmatannya berasal." Aku hanya terdiam. Aku tahu kamu selalu memiliki cara unik menjadi bahagia. Aku suka itu. Sejak dulu. Entah bagaimana, jantungku tidak pernah bisa berhenti melihat wajah tampanmu diterpa kilau mega itu. Aku gugup. Sungguh. "Hei!" tegurmu ketika aku hanya menatap kosong wajah di hadapanku. "Tidak perlu terpesona seperti itu. Aku tahu bahwa aku sangat tampan. Namun, aku juga tahu bahwa aku akan mati tidak lama lagi." Terkutuklah kata 'mati' itu! Ak...

Memetik Senyummu

Pongah. Malam itu bintang sangat dekat dengan langit. Meskipun bulan masih jadi terang yang paling sendu. Tetap gelap menjadi juara satu. "Mah, mungkin cinta kita tidak bisa seperti cinta anak gedongan. Walaupun begitu kamu tahu aku rela memberi seluruh nafas ini." Danto sudah tidak ingin bungkam lagi pada cintanya. Berbulan memendam rasa, kini dia tidak ingin lagi tersiksa. Biar saja malam marah karena pujangga cintanya memilih manusia. Wanita di hadapannya diam seribu bahasa. Entah takut atau malu pada pemilik pertigaan penghubung desa, kota dan rumahnya. Yang jelas, wanita ini sedang berpikir sebab akibat dari tindakan yang akan diambilnya. "Kamu paling tahu bagaimana aku mengejar cintamu. Pertigaan ini bahkan menjadi saksi, Mah. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Katakan apa pendapatmu?" "Pertigaan ini milikmu maka tanamlah apapun di sini." "Maksudmu?" "Petik senyumku. Jika kamu berhasil maka Tuhan pun tidak punya kuas...

Kolot, Cuma Mencoba Taat

"Beb, aku nggak bisa nih kayak gini lagi. Aku nggak tega tambahin dosa kamu. Aku juga nggak kuat kalau terus ngelakuin dosa. Apalagi dosa aku sudah banyak. Kita putus saja ya!" "Loh, kok gitu? Kamu sudah nggak sayang aku lagi? Lagipula aku kan janji akan nikahin kamu." "Bukannya nggak sayang. Dalam Islam itu tidak pernah ada pacaran. Salah aku sih karena nggak mau mengkaji Islam lebih dalam. Sudah jelas-jelas Allah melarang demi kebaikan." "Tahu dari mana Allah melarang. Emang kamu bisa bicara sama Allah?" "Semuanya ada di manual book kita. Kamu punya banyak di rumah dan bisa dibaca kapan saja. Itu Alquran." "Ooh... iya aku tahu. Dilarang mendekati zina kan?" "Lah, itu kamu tahu!" "Ya tapi aku mau serius sama kamu. Kita juga lagi proses ke sana. Kamu kan tahu aku juga kerja keras buat apa." "Kalau gitu, kamu berhubungannya sama orang tua aku saja gimana? Jadi nanti chat-nya sama orang t...

Light Upon Light

Gambar
https://noorculturalcentre.ca/ Cahaya di atas cahaya. Cahaya berlapis. Aku rindu malam itu. Malam di mana aku melihat begitu banyak bintang. Malam ketika cahaya bintang seperti tidak tertutup. Malam saat untuk pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Hatiku remuk redam saat itu. Aku hanya ingin pergi jauh. Ke tempat yang tinggi. Tempat aku bisa dipeluk Tuhan lebih dekat. "Aku ingin berdoa lebih dekat. Biar Tuhan dengar semua doaku," pikirku saat itu. Aku kemasi barang-barang. Beberapa hari menghilang dari kantor sepertinya bukan masalah. Lagi pula aku sudah bekerja cukup keras beberapa minggu terakhir. Beberapa hari meminta izin berlibur dari rumah juga harusnya tidak jadi masalah. Aku sudah lama tidak berlibur. Beruntung aku tidak benar-benar sendiri. Ada teman terbaikku saat itu. Aku yakin bahwa keberadaannya juga atas kiriman dari Tuhan yang tidak ingin aku sendiri. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung dengan tas carrier besar. Hah, bodoh! Sud...

Mengajarkan Tanggung Jawab

"Mak, anak saya tuh sudah besar, sudah kuliah, tapi bantuin Mamaknya saja tidak ada. Sibuk dengan gadget, kuliah dan teman-temannya, Mak." "Kalau sudah besar seperti itu memang susah ya, Mak. Itulah hasil yang Mamak tuai setelah menanamnya saat kecil dulu. Maaf ya, Mak. Kalau sudah begitu hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga ada hidayah dan coba diajak ngobrol pelan-pelan, Mak." Percakapan singkat itu aku dengar dari siaran radio mobilku. Malam ini lengang. Aku mengemudi mobil dengan santai. Aku jadi ingat pernah melihat kondisi serupa dalam kehidupan nyata. Kondisi tersebut sebenarnya sangat sederhana tentang bagaimana mengajarkan tanggung jawab. Mengajarkan tanggung jawab tidaklah mudah. Apalagi tanggung jawab tidak selalu terkait dengan balasan di saat yang sama. Tanggung jawab seringkali tidak pernah terikat dengan hak sehingga jika tidak menguntungkan akan sulit juga diterapkan. Pertanyaan sederhana yang selalu muncul yaitu kapan waktu yang tepat mengaja...