Postingan

Identitas

Aku memang jauh dari baik Teramat jauh Apalagi konsisten dalam baik Masih terlalu jauh Tetapi aku percaya Pada apa yang aku yakini Suatu kebenaran dari hati Tentang hidup dan kedalamannya Manusia baik Manusia lembut Manusia asik Manusia kalut Tidak ada Semua hanya doktrin Penilaian seenaknya sendiri Sementara yang berbeda adalah taqwa

Kesenyapan

Biar aku kecap dalamnya rindumu Biar aku sesap utuhnya kalutmu Biar aku basuh perihnya dahagamu Biar aku perban busuknya lukamu Kamu penantian paling bulat dari asa Kamu kepulangan paling sakral dari perjalanan Kamu kepastian paling masyhul dari perjanjian Kamu permohonan paling mahal dari impian Biarkan aku seruput semua serbuk pahitmu Biarkan aku mabuk pada senyumanmu Biarkan aku sakit menanggung gusarmu Biarkan aku sekarat ditelan tawamu Kamu serpihan kaca dari mozaik kehidupan Kamu sepelempar batu pemasung perpisahan Kamu sejurus haluan perdamaian Kamu sepotong Tuhan yang hadir dalam kesenyapan

Kesukaan

Aku suka kamu yang diam-diam memandang Aku suka kamu yang pelan datang Aku suka kamu yang tenang berkemeja biru Aku suka kamu yang riang berjaket kelabu Aku suka kamu yang hangat tersenyum ramah Aku suka kamu yang manis pantang menyerah Aku suka kamu yang lembut tak pernah takut Aku suka kamu yang manja berusaha akut Aku suka kamu yang lelah selepas berkarya Aku suka kamu yang marah sesudah habis daya Aku suka kamu yang bau bermandikan peluh Aku suka kamu yang ragu beralas keluh Kamu itu kesukaan Segalanya membuat suka Kamu itu kesayangan Segalanya menambah sayang Sayang, suka, kesayangan, kesukaan Itu semua kamu

Masih Kamu Juaranya

Gambar
http://www.satuharapan.com/ Hatiku sesak. Pikiranku tamat. Hilang semua kendali diri. Aku mencari dan tidak menemukan. Aku tenggelam dan tidak menanggalkan. Aku hendak berlari sekencang yang aku bisa. Namun, lutut dan telapak kakiku bungkam diam di tempat. Nyaris aku kibarkan bendera putih atau kuning saja sekalian. Lantas keputusasaan ini, justru menghantarkanku pada doa tentang kalam Ilahi. Sujudku bersimbah air mata. Aku butuh pencerahan. Mungkin khayalku terlalu rumit mengartikan. Aku harus paham dalam kekeringan yang aku buat perkaranya sendiri. Ketika rasanya ingin teriak. Kamu datang. Angin segarmu datang. Masuk tepat di setiap rongga kehampaanku. Menyiram tunai setiap kering dahagaku. Dan, itu masih kamu, sahabat. Gelapnya kondisi ini, tampaknya tidak mampu menyurutkan terangmu. Pekatnya hidup ini, nyatanya tidak mengaburkan konsentrasimu. Kamu masih tetap juaranya. Merampas habis setiap sesak dan tamat yang aku perkarakan sendiri. Ini bukan bualan atau gom...

Di Jalan Taqwa

Gambar
https://www.vebma.com/ "Ayah dimana?" Tanyaku sekali lagi. Tidak ada jawaban. Hembusan angin makin mengundang dingin mengabarkan rintik rezeki yang akan diturunkan. Gundukan itu diam seribu bahasa. "Ayah dimana?" Tanyaku sekali lagi. Bergetar tubuhku. Tetesan air mata tak terbendung mendahului rintikan hujan. Sebatang rumput liar dengan lima helai daun berayun. Aku masih ingin tinggal. Harapku tidak ingin sirna. Besar keinginanku sosok bertubuh tambun memanggil nama lalu mengajakku pulang. Biasanya dialah yang paling mengkhawatirkanku. Biasanya dialah yang paling suka mengukir senyum di wajahku. Dan, biasanya aku tidak pernah menangis sedalam ini. "Sayang, ayo pulang!" Aku beku. Aku mengenal suaranya. Aku palingkan wajahku. Sosok berwajah teduh tersenyum gagah. Ayah. "Ayah datang. Aku benarkan Ayah pasti tidak akan meninggalkan aku sendiri," ratapku seraya memeluk tubuh di sampingku. Belaian halus tangan besarnya di kepalak...

Tersenyum

Tahukah kamu kesedihanmu membuatku kacau? Lalu kamu bertanya apa yang membuatku sedih? Aku terdiam. Jika aku terangkan maka kita tentu akan berbagi kesedihan. Tetapi.... Aku tetap diam. Bukan kesedihan yang kuingin kita untuk saling berbagi. Bukan. Maafkan andai pilihan ini sepihak. Tetapi.... Keegoisanku hanya ingin kamu tersenyum. Terhunus milyaran pedih aku tak peduli. Dan aku tidak akan menceritakannya. Karena yang kuingin kita saling berbagi senyuman. Berpalinglah dari segala kesedihan itu. Lihatlah aku dengan tersenyum meski perih jiwa dan ragamu. Akupun akan begitu. Berpaling dengan tersenyum hanya untukmu. Biarkan seluruh isi mesta menyaksikan kepedihan aku, kamu. Namun, saat menjadi kita, tersenyumlah. Tersenyumlah hanya untukku, kamu, kita. Meski hujanan perih memasung bahagia. Tetaplah tersenyum sebagai kita.

Perpanjangan Waktu

Tuhan, bolehkah aku hidup lebih lama? Bagaimana bisa aku meninggalkan dia sendiri melewati sisa masa tuanya sendiri? Bahkan jika aku tidak setega itu, Engkau pun tentu tidak tega padanya. Aku yakin Engkau tidak semengecewakan itu. Tuhan, bolehkah aku tinggal lebih lama? Lihatlah bagaimana dunia ini memperlakukannya secara tidak adil. Aku khawatir dia tidak bisa bertahan lagi jika tidak lagi ada yang tinggal di sisi. Engkau tentu berpikir yang sama tentang itu. Tuhan, bolehkah aku berjuang lebih kuat? Sungguh aku tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana Engkau melebihkan yang satu dibandingkan yang lain. Aku tidak paham kenapa harus ada penindasan dan kekejaman dari sosok sesama manusia. Aku cemas jika tidak berjuang lebih kuat akan menjadi begitu banyak kekacauan di bumi ini. Tuhan, bolehkah aku mengembalikan semua keinginanku tadi? Aku telah percaya pada takdir dan ketetapan-Mu. Kreator sempurna tanpa cacat ada pada-Mu. Keinginanku pasti hanya datang dari sudut pandan...