http://www.satuharapan.com/ Hatiku sesak. Pikiranku tamat. Hilang semua kendali diri. Aku mencari dan tidak menemukan. Aku tenggelam dan tidak menanggalkan. Aku hendak berlari sekencang yang aku bisa. Namun, lutut dan telapak kakiku bungkam diam di tempat. Nyaris aku kibarkan bendera putih atau kuning saja sekalian. Lantas keputusasaan ini, justru menghantarkanku pada doa tentang kalam Ilahi. Sujudku bersimbah air mata. Aku butuh pencerahan. Mungkin khayalku terlalu rumit mengartikan. Aku harus paham dalam kekeringan yang aku buat perkaranya sendiri. Ketika rasanya ingin teriak. Kamu datang. Angin segarmu datang. Masuk tepat di setiap rongga kehampaanku. Menyiram tunai setiap kering dahagaku. Dan, itu masih kamu, sahabat. Gelapnya kondisi ini, tampaknya tidak mampu menyurutkan terangmu. Pekatnya hidup ini, nyatanya tidak mengaburkan konsentrasimu. Kamu masih tetap juaranya. Merampas habis setiap sesak dan tamat yang aku perkarakan sendiri. Ini bukan bualan atau gom...