Catatan Harian Di Rumah Mertua Day 1


Entah ini teori atau hanya sugesti. Menurutku, ungkapan bahwa tidak ada satu pun istri yang betah tinggal bersama orang tua suaminya adalah benar. Hanya saja aku ingin mengurai ini menjadi sebuah pemikiran yang berlogika. Bukan sekedar emosi atau terbawa perasaan saja. Ya, mengingat aku pun merupakan seorang wanita.

Mari kita mulai dengan naluri wanita yang ingin memiliki. Jadi, bagaimana mereka bisa bertahan sementara saat berada di rumah mertua tak ada satu hal pun yang bisa ia miliki seuruhnya. Bahkan perihal keberadaan suami atau pasangannya saja tidak. Sebab, sang suami akan berfokus untuk berbakti kepada orang tuanya, terkhusus kepada ibunya.

Ditambah lagi, anak laki-laki sudah barang tentu memiliki kedekatan luar biasa dengan seorang ibu. Termasuk juga ketika anak laki-laki sudah dewasa dan memiliki istri. Kedekatan tersebut tidak bisa hilang begitu juga. Karena selamanya, air susu ibu sudah mendarah daging di tubuhnya.

Bagaimana para wanita yang telah menjadi istri dan kini sedang tinggal bersama dengan mertua? Sudahkah kalian merasa kalah?

Tenang. Kita akan mengurai lagi logika selanjutnya. Kali ini terkait dengan kebutuhan wanita untuk melayani. Sebentar deh! Kok melayani merupakan kebutuhan wanita sih? Aneh! Hahaha.

Pada hakikatnya, wanita memang didesain untuk melayani. Coba lihat saja bagaimana Allah telah menciptakan wanita untuk mampu melakukan pekerjaan yang banyak dalam waktu bersamaan. Kemampuan ini jelas sekali tidak dimiliki oleh kaum laki-laki. Untuk itulah wanita dan laki-laki dipersatukan untuk saling melengkapi.

Lantas, bagaimana kebutuhan ini bisa terpenuhi sementara suami atau pasangan selalu dilayani oleh ibunya? Sabar! Mungkin semua hanya ujian. Jika sang istri tidak terlalu peduli dengan kebutuhan itu dan sibuk melakukan pelayanan di tempat lain, semua kondisi di rumah mertua tidak akan semengerikan neraka bukan?

Sedikit saran, cobalah mencari sedikit kesibukan lain. Sehingga para istri juga memiliki ruang tersendiri untuk membuang energi yang akan digunakan untuk melayani suami. Tentu saja dengan seizin suami ya. Jangan sampai melakukan hal yang tidak dizinkan. Apalagi sampai diam-diam menghilang.

Uraian selanjutnya yakni kebebasan. Sudah naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya. Termasuk melindungi suami atau pasangan kita yang merupakan anaknya. Mau tidak mau, suka tidak suka, seorang ibu akan rutin ikut andil dalam setiap kondisi dan situasi yang dialami sang anak. Apalagi ketika sang anak terlihat kesusahan menghadapi istrinya.

Wah... jangan sampai ada negara api menyerang jika tidak ingin terjadi peperangan ya.

Sebelum lanjut ke uraian selanjutnya coba bersama-sama kita renungkan lagi beberapa uraian di atas. Insyaa Allah uraian berikutnya akan disambung esok hari.

Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

Unlogic Birth dalam Al Quran